Header Ads

Berikut Musibah Terbesar Ketika Hukum Alloh Tidak Ditegakkan

banner ads
Manjaniq.com--Ketika berbicara tentang musibah, maka ayat yang pertama ada dalam pikiran kita adalah ayat berikut, Allah SWT berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Artinya, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar-Rum : 41)

وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَىٰ ظَهْرِهَا مِن دَابَّةٍ وَلَٰكِن يُؤَخِّرُهُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِ بَصِيرًا

Artinya, “Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melatapun akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu; maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.” (QS Fathir : 45)

Musibah datang silih berganti, ada gempa di Lombok, gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Gunung Soputan meletus, Gempa di Situbondo. Ribuan rumah hancur, ribuan korban meninggal, belum lagi yang hilang terseret air dan tenggelam ditelan bumi. Ada apa ini? Apa sebabnya?

Mari kita bertanya pertanyaan yang sama, apakah kira-kira yang menyebabkan Allah menenggelamkan kaum nabi Nuh sehingga banjir besar menimpa mereka hingga menenggelamkan gunung-gunung? Allah SWT berfirman :

فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ بِمَاءٍ مُّنْهَمِرٍ  (11) وَفَجَّرْنَا الْأَرْضَ عُيُونًا فَالْتَقَى الْمَاءُ عَلَىٰ أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ

Artinya, “Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah (11) Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan (QS Al-Qomar: 11-12)

Apa yang menyebabkan Allah mengirimkan angin badai kepada kaum Aad yang menjadikan mereka seperti pohon kurma yang lapuk? Apa yang menyebabkan Allah menimpakan kepada kaum Madyan awan azab yang menurunkan hujan api ? Apa pula yang membuat Allah menimpakan kepada kaum Tsamud suara yang membuat jantung mereka pecah? Apa pula yang menyebabkan Allah mengutus malaikat kepada kaumnya Nabi Luth, kemudian mengangkat tanah tempat mereka bertempat ke langit hingga penduduk langit mendengar teriakan mereka, lantas Allah balikkan tanah tempat tingga mereka dan Allah hujani mereka dengan batu dari neraka? Apa pula yang membuat Allah membenamkan Qarun dan Menenggelamkan penguasa Mesir?

Bukankah dosa, kemaksiatan dan pembangkangan terhadap Allah yang menyebabkan itu semua? Allah SWT berfirman :

فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنبِهِ ۖ فَمِنْهُم مَّنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُم مَّنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُم مَّنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُم مَّنْ أَغْرَقْنَا ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِن كَانُوا أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

Artinya, “Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Al-Ankabut 40(

قال ابن القيم في الجواب الكافي: ” وعقوبات الذنوب نوعان : شرعية ، وقدرية ، فإذا أقيمت الشرعية رفعت العقوبة القدرية وخففتها ، ولا يكاد الرب تعالى يجمع على العبد بين العقوبتين إلا إذا لم يف أحدهما برفع موجب الذنب ، ولم يكف في زوال دائه ، وإذا عطلت العقوبات الشرعية استحالت قدرية ، وربما كانت أشد من الشرعية ، وربما كانت دونها ، ولكنها تعم ، والشرعية تخص ، فإن الرب تبارك وتعالى لا يعاقب شرعا إلا من باشر الجناية أو تسبب إليها .


Perlu diketahui bahwa Allah SWT menjadikan dua jenis hukuman lantaran dosa yang diperbuat. Sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam Al-Jawabul Kafi. Beliau berkata :

“HUkuman dosa itu ada dua, yaitu hukuman syar’i dan hukuman qadari. Jika hamba Allah menjalankan hukuman syar’i, maka Allah akan cabut dari mereka hukuman qadari atau Allah menguranginya. Dan Allah tidak akan mengumpulkan dua hukuman (syar’iyah dan qadariyah) terhadap makhluknya, kecuali hukuman tersebut tidak bisa mengangkat dosa atau tidak cukup untuk menghilangkan peyakit tersebut. Jika hukuman syar’iyah tidak dilaksanakan, maka yang datang adalah hukuman qadari, bisa saja lebih keras dari hukuman syar’iyah atau lebih ringan, akan tetapi dampaknya merata sedangkan hukuman syar’iyah dampaknya personal, Karena Allah SWT tidak menghukum secara syar’I kecuali kepada mereka yang melakukan criminal secara langsung atau menjadi penyebab.”(Al-Jawabul Kafi , hal 261)

Allah memberikan hukuman murtad dan hukuman atas kemaksiatan-kemaksiatan hukuman-hukuman yang telah ditetapkan syariat. Dan bentuk kasih sayang Allah adalah hukuman-hukuman atas pelanggaran syar’i hanya khusus bagi si pelaku. Hukuman tersebut tidak diberikan kecuali kepada siapa yang melakukan kemaksiatan atau terlibat dalam kemaksiatan. Sebuah kemaksiatan yang terjadi jika diinkari oleh manusia tidak akan membahayakan kecuali pelakunya saja, begitu pula jika kemaksiatan itu dilakukan secara sembunyi.

Namun, jika kemaksiatan terjadi secara terang-terangan dan tidak ada hukuman syar’i yang ditegakkan, maka pastinya Allah akan turunkan hukuman qadari. Dan seringkali hukuman qadari tadi lebih dahsyat dari pada hukuman syar’i. Jika hukuman syar’i bersifat khusus kepada pelaku kemaksiatan, maka hukuman qadari bersifat umum, menimpa siapa saja yang melakukan kemaksiatan dan mereka yang mendiamkannya dan tidak melakukan amar makruf.

Dalam penjelasan Ibnul Qoyim di atas, mengisyaratkan bahwa dunia tempat kita berpijak haruslah di atur dengan syariat Allah. Sehingga setiap perbuatan yang keluar dari syariat Allah akan mendapat hukuman syar’i. Jika ada pembunuhan, maka harus dipotog tangan, jika ada transaksi riba maka dilarang, jika ada perzinaan, maka dirajam dan seterusnya.

Jika ada kemungkaran-kemungkaran, maka ditegakkan atasnya nahi mungkar, sehingga bumi ini dikelola oleh sistem ilahi, diatur oleh tata kelola yang Allah tentukan. Hal itu dilakukan agar tidak mengundang hukuman qodari yang berupa bencana dan musibah.

Ibarat sebuah penyakit yang berbahaya, perlu segera mendapat penanganan dokter. Karena apabila tidak ditangani penyakit ini akan menyebar dan menimpa orang banyak. Begitu pulalah dosa, harus segera mendapat penanganan syar’i, agar dampaknya tidak meluas.

Dari Qais bin Abi Hazim, Qais berkata, “Abu Bakar –radhiyallahu anhu- berdiri memuji Allah dan memanjatkan pujian kepada-Nya, kemudian berkata, “Wahai manusia, kalian membaca ayat ini, “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk.” Sedangkan kami (Sahabat) mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya manusia jika melihat kemungkaran dan mereka tidak mengingkarinya, ditakutkan Allah meratakan mereka semua dengan azab-Nya.”

مَا مِنْ قَوْمٍ يُعْمَلُ فِيهِمْ بِالْمَعَاصِي ، هُمْ أَعَزُّ وَأَكْثَرُ مِمَّنْ يَعْمَلُ بِهِ ، ثُمَّ لا يُغَيِّرُونَهُ إِلا أَصَابَهُمُ اللَّهُ بِعَذَابٍ

Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya, dari Ubaidullah bin Jarir dari bapaknya bahwsanya Nabi Allah Muhammad SAW bersabda, “Tidaklah dilakukan kemaksiatan di tengah-tengah kaum tertentu, padahal mereka lebih kuat dan lebih banyak dari yang melakukan kemaksiatan, akan tetapi mereka tidak merubah kemungkaran tersebut, maka Allah akan ratakan mereka semua dengan azab.” (HR Ahmad 4/364)

Sesungguhnya kemaksiatan selama dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan tidak dipertontonkan di hadapan orang banyak, maka Allah tidak akan menurunkan azab yang meratakan semua. Akan tetapi apabila mereka melakukan kemaksiatan secara terang-terangan dan tidak ada yang mengingkarinya, maka Allah akan turunkan azab dari sisi-Nya.

Sesungguhnya Ashabus Sabat bersiasat atas perintah Allah, dan tersebar di tengah mereka kemaksiatan secara sembunyi-sembunyi, maka Allah tidak meratakan azab-Nya terhadap mereka, namun ketika ikan-ikan tadi dijual di pasar, maka Allah ratakan mereka dengan hukuman.

Allah SWT berfiman :

وَاسْأَلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِ إِذْ يَعْدُونَ فِي السَّبْتِ إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعًا وَيَوْمَ لَا يَسْبِتُونَ ۙ لَا تَأْتِيهِمْ ۚ كَذَٰلِكَ نَبْلُوهُم بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ

Artinya, “Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik.” (QS Al-A’raf : 163)

Jika dosa-dosa besar yang membinasakan dilakukan secara terang-terangan oleh suatu kaum, seperti meminum khomr, tersebarnya zina, dihalalkannya musik, bertransaksi ribawi dan mereka mengesampingkan syariat Allah, maka dalil-dalil langit menyebutkan bahwa Allah akan meratakan azab. Gempa dan musibah lainnya adalah hukuman dari Allah yang tidak ada seorangpun bisa lari, kecuali lari kembali kepada Allah dan memohon ampun akan kesalahan yang kita lakukan.

Imam Ahmad meriwayatkan di dalam Musnadnya, dari Mundzir Ats-Tsauri dari Hasan bin Muhammad berkata, “Seorang perempuan Anshor berkata berkata kepada saya, dia masih hidup hari ini, jika kamu mau saya akan datangkan kamu kepadanya, saya berkata, “ Tidak usah, sampaikan saja haditsnya.” Dia (perempuan Anshor) berkata, “Saya mendatangi Ummu Salamah, kemudian datang Rasul kepadanya seolh beliau beliau marah. Maka saya menutup wajah saya dengan lengan tangan saya, kemudian beliau mengatakan suatu perkataan yang aku tidak memahaminya, antas saya berkata, “Wahai Ummul Mukminin, seolah saya melihat Rasulullah SAW masuk dalam keadaan marah.” Beliau menjawab, “Iya, tidakkah engkau dengar apa yang dikatakannya SAW.? Saya bertanya, “Apa yang beliau SAW katakan?” Dia (Ummu Salamah) berkata, “Sesungguhnya apabila keburukan tersebar di muka bumi dan tidak ada yang saling mengingatkan, maka Allah akan kirimkan hukumannya kepada penduduk bumi. Saya berkata, “Wahai Rasulullah, (apakah mereka tetap dibinasakan) sedangkan di tengah mereka ada orang-orang sholih?” Dia (Ummu Salamah) berkata, ‘Rasulullah SAW berkata, “Ia meskipun ada orang-orang sholih di tengah mereka, orang-orang sholih terkena apa yang menimpa orang lain, kemudian Allah cabut mereka menuju ampunan dan keridhoan-Nya atau keridhoan dan ampunan-Nya.” (HR Ahmad)

Hadits di atas menjadi renungan bagi kita seua agar peduli terhadap dosa dankemaksiatan yang terjadi. Karena dosa dan kemaksiatan yang tidak diindahkan, tidak mendapat perlakuan syar’i, maka akan menjadi magnet yang sangat kuat untuk datangnya musibah sebagai bentuk hukuman Allah kepada hamba-Nya. Wallaho a’lamu bissowab

Penulis: Miftahu Ihsan
sumber : kiblat

Tidak ada komentar