Header Ads

Spirit Salahuddin dan ketidakberdayakan umat

banner ads
Israel semakin menggila. Serangkaian demonstrasi warga Palestina atas penindasan dan blokade yang mereka alami dibalas dengan bom dan peluru. Sejak awal tahun, hampir 150 warga Gaza dibunuh, 21 diantaranya masih anak-anak. Tak hanya itu, Israel juga mencederai sekitar 4.000 warga Palestina, sebagaimana data yang dirilis WHO 26 Juni pekan kemarin. Sebagain dari yang cedera terpaksa harus diamputasi anggota badannya.
Dunia mengecam. Dari Sekjen PBB hingga para pemimpin dunia telah berbicara. Jutaan masyarakat dunia bangkit mengekspresikan kecamannya. Tak sekadar menyatakan simpati, sejumlah demonstrasi, drama jalanan, protes di acara-acara olahraga, pidato berapi-api di parlemen, di samping aktivitas di media sosial, semuanya menuntut aksi global melawan serentetan tirani Zionis Israel baru-baru ini. Bahkan negara-negara Arab—yang biasanya mengambil sikap nonpartisan atas perjuangan Palestina—menyampaikan sentimen kuat tentang masalah ini.
Dukungan pada Israel juga mulai terkikis di tengah warga AS. Sebelum pidato di University of Houston, Nikki Haley, duta besar AS untuk PBB, disoraki dan dikecam oleh mahasiswa setempat dengan slogan ‘Nikki, Nikki, can’t you see! You are on a killing spree’. Nikki, Nikki, tidakkah kau lihat! Kau sedang melakukan pembantaian. Mereka menentang keterlibatan Amerika dalam kejahatan tersebut. Bahkan, media mainstream Barat juga memberikan porsi relatif penting dalam kolom mereka terkait pembantaian di Gaza tersebut.
Meski penentangan dari masyarakat dunia terhadap penindasan yang dilakukan Zionis semakin tumbuh, meski seruan-seruan organik untuk membela Palestina juga mengemuka, para pemimpin Arab masih tak berdaya. Menambah luka yang semakin menganga, para pemimpin Arab membungkuk begitu rendah, meminta orang-orang Palestina yang puluhan tahun menjadi korban, untuk tunduk dan menyepakati ‘solusi’  yang ditawarkan Trump dan Netanyahu untuk menyelesaikan konflik.
Pada upacara pembukaan Kedutaan Besar AS di Yerusalem, tanpa rasa malu Netanyahu mengatakan: “Ini adalah hari yang indah untuk perdamaian.” Perdamaian Netanyahu adalah perdamaian yang dipisahkan dari kenyataan, di bawah bayang-bayang pembantaian warga Palestina di perbatasan Gaza.
Meskipun Organisasi Kerjasama Islam (OKI), di bawah Presiden Erdogan, mengutuk tirani Israel dan keterlibatan AS, kekuatannya masih dipertanyakan. Beberapa negara Arab bahkan meremehkan signifikansinya dengan mengirimkan perwakilan tingkat rendah di pertemuan OKI yang diadakan untuk membahas status Al-Quds.
Tahun lalu, OIC mengeluarkan resolusi yang menyatakan bahwa keputusan Trump untuk memindahkan Kedutaan AS ke Yerusalem batal demi hukum dan juga menyatakan Yerusalem Timur sebagai ibukota Palestina. Meski demikian, OKI gagal mencegah Kedutaan AS pindah ke Yerusalem.
Erdogan dipuji karena mengambil sikap tegas, tetapi kredibilitasnya sendiri dipertanyakan ketika partainya sendiri menolak proposal untuk membatalkan perjanjian dengan Israel. OKI tidak dapat mengeksploitasi dukungan global yang luar biasa untuk melakukan sebuah tindakan yang efektif. Ia bahkan gagal untuk sekadar menyelenggarakan penyelidikan independen terhadap pembantaian di Gaza.
Sementara itu, Barat berhasil mengadu domba satu bangsa Islam dengan yang lain, menarik perbatasan secara sewenang-wenang sejak Perjanjian Sykes-Picot tahun 1916. Kini, kata Islam diidentikkan dengan teror, sedangkan Kristen Barat, dalam kasus realitas yang terbalik, dengan cepat menggambarkan dirinya sebagai pembebas.
Jadi, meskipun memiliki jumlah dan sumber daya yang besar, Umat Muslim, yang diwakili oleh OKI, tidak lagi menjadi kekuatan di panggung dunia. Seperti yang ditulis Robert Fisk pada bulan Desember 2017,
“Jika ada sesuatu yang takluk dari deklarasi kekanak-kanakan Donald Trump bahwa Yerusalem adalah ibu kota Israel, itu adalah respon menyedihkan dari negara-negara Muslim. Karena di sana, di Istanbul, […] hanyalah para lelaki tua yang lelah yang kita dengarkan selama bertahun-tahun, tidak ada yang lebih sedih daripada “Presiden” Palestina yang tua dan tidak berguna, Mahmoud Abbas […] Ada 57 kepala negara dari Organisasi Kerjasama Islam di ibukota Turki, tetapi beberapa terlalu tua dan pikun […] Sebenarnya para pemimpin Muslim ini tidak absah lagi.
Mereka tidak mewakili siapa pun. Mereka mungkin melirik ke arah Moskow dalam beberapa minggu mendatang, tetapi relevansi mereka tidak ada bedanya dengan Tsarist Russia atau Imperium Austro-Hungarian. Mereka mewakili negara-negara gagal yang tidak memiliki moralitas atau keberanian untuk ditampilkan atas kehadiran mereka dalam konferensi Istanbul.”
Jadi, hari ini, meskipun warga Gaza yang berani dan Al-Quds berteriak minta tolong, impunitas Zionis Israel yang didukung oleh Hegemoni AS telah menginjak-injak martabat umat Islam. Umat Islam menjadi begitu tidak berdaya, tidak mampu mengumpulkan kekuatan untuk menyatukan suara melawan para penindas; apalagi melawan secara militer.
Hari ini, orang-orang beriman yang mengilhami peradaban besar di mana Muslim dan non-Muslim sama-sama menjalani kehidupan yang kreatif dan berguna dan yang, dengan pencapaiannya, memperkaya seluruh dunia, berlari maju mundur, tersesat dan tidak menyadari bahwa merekalah penyebab kehancuran diri mereka sendiri.
Kejadian ini mengingatkan kita pada pembantaian yang dilakukan Tartar pada tahun 1200-an M, ketika umat Islam begitu ketakutan dengan kekuatan Tartar, bahkan satu Mongol dapat membunuh lebih dari seratus Muslim dan tidak ada yang berani membela diri.
Perasaan tidak berdaya inilah yang telah memasuki jiwa Muslim secara kolektif ketika krisis demi krisis menghantam dunia Islam. Periode pasca 9/11, pemindahan kedutaan AS ke Yerusalem, dan pembantaian Gaza pada malam peringatan Nakba, secara tepat melambangkan contoh lain dari impunitas AS dan Israel.
Yang menarik, masa-masa sulit bagi umat Islam ini tampaknya telah diramalkan oleh Nabi Muhammad shallallāhu ʿalayhi wa sallam lebih dari 1.400 tahun yang lalu.
Beliau mengibaratkan orang-orang Muslim yang hidup pada masa itu seperti buih. Mengambang di atas air, tanpa bobot, tidak mampu mengendalikan jalannya sendiri. Dengan senang hati mengalir ke manapun tujuannya, mabuk dengan posisi imajinernya di atas air. Deskripsi yang tepat memang.
Lalu, apa jalan bagi umat untuk merebut kembali martabat Muslim yang hilang dan Al-Quds?
Adalah Friar Manuel Musallam, anggota the Christian-Islamic Committee in Support of Jerusalem and the Holy Places, yang mengingatkan umat Muslim:
“Hanya Saladin baru yang akan membebaskan Palestina dari pendudukan. Jalan untuk membebaskan Yerusalem akan dimulai di Gaza dan seorang Saladin baru perlu dilahirkan untuk membebaskan wilayah itu dari pendudukan.”
Sejarah telah membuktikan berulang kali, bahwa Allāh telah memberkati umat Islam ini dengan para pembaharu dan “Salahuddīn” pada waktu yang tepat untuk merebut kembali kejayaan Islam. Namun demikian, penting bagi setiap Muslim untuk berusaha untuk menjadi diri mereka sendiri di zaman malapetaka ini , saat dunia Islam tercemar oleh penyakit wahn.
Mungkin, seorang syuhada Gaza yang hanya bisa jalan dengan kursi roda, Fadi Abu Salah, yang hanya bersenjata dengan batu dan katapel, mengajarkan kepada setiap Muslim sebuah pelajaran tentang keberanian dan sikap “saya bisa melakukannya”: Lakukan apa yang harus dilakukan untuk menjadi Salahuddīn di jalanmu sendiri.
Bangkitkan kembali semangat Muslim yang hilang; menjadi bagian dari gerakan kebangkitan umat Islam; mulai perjalanan panjang menuju kejayaan. Ini adalah hal terkecil yang bisa dilakukan oleh seorang Muslim.
Sumber seraamedia

Tidak ada komentar