Header Ads

Good muslim vs Bad Muslim, Anda Yang Mana?

banner ads
Jika ada satu produk paling menonjol dari Perang Melawan Teror itu adalah narasi bahwa ada masalah di dalam Islam. Sejak Bush mendeklarasikan Perang Melawan Teror, upaya untuk mereformasi Islam semakin digalakkan. Teori mereka, segala kekacauan di dunia ini sumbernya adalah paham keislaman. Itulah kenapa, mulai dikampanyekan bentuk Islam moderat. Dengan biaya besar dari Amerika Serikat tentunya.

Mereka mulai masuk ke dalam ranah pendefinisian Islam. Apa itu Islam, bagaimana Islam dipraktikkan di dunia modern, dan bagaimana Islam yang kompatibel dengan Barat dan kepentingannya. Narasinya dikemas dalam bahasa yang indah; toleran, cinta damai, bhinneka, dll. Namun, arti yang sebenarnya adalah kemauan untuk tunduk dalam hegemoni Barat. Jangan melawan apalagi memberontak, jika tidak ingin disebut teroris dan radikal.
Narasinya dikemas dalam bahasa yang indah; toleran, cinta damai, bhinneka, dll. Namun, arti yang sebenarnya adalah kemauan untuk tunduk dalam hegemoni Barat. Jangan melawan apalagi memberontak, jika tidak ingin disebut teroris dan radikal.
Hari ini, ramai terdengar upaya domestikasi Islam. Di beberapa belahan dunia, mulai dimunculkan istilah-istilah baru di belakang kata Islam. Mulai dari Islam Amerika, Islam Inggris, hingga baru-baru ini presiden Prancis Macron mengusulkan untuk mengatur umat Islam di Prancis, dengan nama, ya tentu saja, Islam Prancis. Temanya sama, yaitu Islam yang sesuai nilai-nilai setempat. Berbagai dalil dan dalih diberikan, meski ujungnya jika kita cermati adalah Islam yang nyaman dan sesuai dengan kepentingan Barat.
Seruan reformasi Islam menggema. “Kita membutuhkan reformasi Muslim,” kata Newsweek. “Islam membutuhkan reformasi dari dalam,” kata Huffington Post. Setelah peristiwa serangan terhadap Charlie Hebo di Paris, Financial Times setuju terhadap orang-orang di Barat yang percaya bahwa presiden sekuler Mesir, Abdul Fattah As-Sisi, “bisa muncul sebagai Martin Luther dari dunia Muslim”, meski Human Rights Watch memandang sosok As-Sisi sebagai pelaku kejahatan kemanusiaan atas serangan mematikan yang ia lakukan terhadap para pengunjuk rasa yang tidak bersenjata.
Selain itu, ada juga sosok Ayaan Hirsi Ali, seorang ateis dan mantan Muslim yang lahir di Somalia. Karirnya banyak ditunjang dengan menjual kemurtadannya. Ia menulis sebuah buku berjudul Heretic: Why Islam Needs a Reformation Now. Dia sering muncul di studio TV Barat dan di halaman-halaman media Barat, mendorong Muslim, baik liberal maupun konservatif, untuk meninggalkan beberapa keyakinan inti agama mereka dan bersatu di belakang seorang “Muslim Luther”.
Dalam sebuah acara di National Press Club, Ayaan Hirsi Ali mengatakan kepada khalayak bahwa “kami” – yaitu, Barat – berperang melawan Islam karena Islam sendiri adalah masalahnya. Dia menetapkan agenda perubahan yang diperlukan untuk menjinakkan Islam ke dalam bentuk yang dapat diterima. Dia rupanya ingin Allah tidak berbicara banyak tentang api neraka dan lebih fokus pada surga.
Apakah suaranya didengar, itu soal lain. Apakah umat Islam akan menanggapi secara positif seruan untuk melakukan reformasi dari seorang wanita yang telah menggambarkan agama mereka sebagai “kultus maut yang merusak, nihilistik” yang seharusnya “dihancurkan”, dan menyarankan Benjamin Netanyahu diberi hadiah Nobel perdamaian, itu juga soal lain lagi.
Namun realitanya, ada sebagian umat Islam yang menjalankan agenda yang diusulkan Ayan Hirsi Ali tersebut. Reformasi Islam, misinya. Menampilkan Islam yang ramah, santun, mengamini tuduhan Barat bahwa ada masalah di dalam Islam, seolah kehidupan manusia vakum dari realita sosial dan politik. Seolah masalah di Timur Tengah murni karena paham keislaman, bukan karena tatanan yang dipaksakan warisan kolonial, invasi Barat dan represi rezim bonekanya.
Narasi ini bukanlah hal baru. Kolumnis New York Times, Thomas Friedman, juga menyerukan reformasi Islam pada 2002; Akademisi AS Charles Kurzer dan Michaelle Browers menelusuri asal-usul “analogi Reformasi” ini pada awal abad ke-20, dan mencatat bahwa “jurnalis konservatif sama bersemangatnya seperti akademisi liberal untuk mencari seorang Muslim Luthers”.
Upaya untuk mengubah, atau bahkan memanipulasi keyakinan umat Islam bukanlah hal baru. Tujuannya cuma satu, agar Islam lebih sesuai dengan kepentingan Barat. Saat Napoleon menginvasi Mesir pada tahun 1798, ia berpura-pura menjadi Muslim dan bercita-cita untuk membuat Al-Quran baru yang lebih sesuai dengan agama Timur baru yang lebih beradab.
Inggris dengan sangat hati-hati merekayasa lahirnya dunia Arab baru dengan bantuan Lawrence Arabia.Modusnya sama, berpura-pura masuk Islam, dengan narasi kemarahan terhadap kekhalifahan non-Arab. John Philby, pejabat intelijen Inggris, berpura-pura masuk Islam dalam rangka membujuk Kerajaan Najed untuk menganeksasi Hijaz dan menjadi pemimpin dunia Islam. Saat Jenderal Edmund Allenby memasuki Yerusalem pada tahun 1917 sebagai seorang penakluk, intelijen Inggris sibuk meyakinkan dunia Arab bahwa Allenby mempunya makna Al-Nabi (Nabi), dan bahwa ia adalah seorang Muslim yang taat yang mencoba mengembalikan Yerusalem ke tangan Muslim Arab.
Di Indonesia, nama Snouck Hurgronje cukup legendaris jika bicara tentang manipulasi agama Islam. Snouck membagi golongan Islam menjadi tiga kategori pokok berdasarkan lapangan aktivitas, yakni Islam sebagai ritual keagamaan murni atau ibadat, Islam sebagai bidang kemasyarakatan, dan Islam dalam bentuk kenegaraan.
Terhadap ketiga unsur Islam yang berbeda ini, ia menawarkan tiga pendekatan yang berbeda pula. Kepada yang pertama, pemerintah harus berlepas tangan atau tak usah ikut campur di dalamnya. Sedangkan terhadap yang kedua—jika memungkinkan—pemerintah justru harus memfasilitasi, seperti membantu dalam urusan ibadah haji. Tetapi untuk kelompok yang ketiga, pemerintah harus bersikap keras dan tak pandang bulu.
Di abad ke-21 ini, saat pemerintah George W. Bush masuk dalam perang tanpa akhir melawan terorisme, mereka meminta dilakukannya evaluasi terhadap sistem madrasah, dan bahkan mengintervensi kurikulum agama yang diajarkan di sekolah-sekolah di negara Muslim. Dalam sebuah bocoran memo Departemen Luar Negeri AS pada musim panas 2017 silam, mereka mendorong pemerintah Trump untuk mempromosikan “reformasi Islam

Mendefinisikan Islam
Persoalannya jauh lebih dalam dari sekadar upaya memanipulasi politik umat Islam melalui tipu daya. Sejak era Napoleaon, sebuah logika sejarah coba dipasang di dunia Islam—sebuah logika sejarah yang diatur oleh ketidakseimbangan kekuatan antara penginvasi dan yang diinvasi, antara pemilik dominasi dan yang didominasi, antara penjajah dan yang dijajah.
Sejarawan Inggris, Arnold Toynbee, pernah memberi label kepada mereka yang menolak dominasi Barat dengan sebutan zealot, orang-orang fanatik. Kini, istilah yang berbeda digunakan, sesuai waktu dan konteksnya: ekstremis, radikal, reaksionaris, fanatik, barbar, teroris, pengkhianat, pemberontak, dan sebutan-sebutan peyoratif lainnya.
Ide dasarnya adalah membuat dikotomi antara Islam yang menginspirasi para pemeluknya untuk melawan dominasi, dan Islam yang yang memotivasi umatnya untuk tunduk. Ini adalah dikotomi antara Bad Muslim yang melawan dan Good Muslim yang mau tunduk. Baik Inggris, Pransis, maupun Amerika selalu mendambakan kekuatan untuk mendefinisikan, karena kekuatan hegemonik tertinggi bukanlah kekuatan untuk menaklukkan, tapi kekuatan untuk mendefinisikan.
Dengan kekuatan untuk mendefinisikan, Prancis melabeli Abdul Qadir Al-Jazairi, pahlawan Aljazair yang menentang penjajahan Prancis, dengan sebutan orang gila yang fanatik. Belanda juga memberi label serupa kepada para pejuang Indonesia. Mereka memerintahkan Muhammad Hatta untuk menyebut Pangeran Diponegoro, Imam Bondjol, Teuku Umar dengan sebutan teroris. Perintah yang ditolak oleh Hatta, tentunya.
Dengan kekuatan yang sama, Inggris menggambarkan Turki Utsmani sebagai pelaku bid’ah yang menyimpang dari Islam. Dengan kekuatan yang sama pula, institusi kekhilafahan dikosongkan dari teologi umat Islam.
Masing-masing penjajah memiliki branduntuk melegitimasi dogma yang mampu melumpuhkan nurani, membuat publik percaya bahwa invasi dan dominasi mereka baik dan bahkan diperlukan oleh pribumi. Prancis mengerek bendera liberte, Inggris menggelorakan nilai-nilai beradab, Italia memproklamirkan efisiensi dan administrasi. Bahkan, dalam invasinya ke dunia Islam di abad ke-21 ini, Amerika menjual narasi freedom dan demokrasi.
Tapi Barat sadar, mereka tidak memiliki kredibilitas untuk mengatur cara beragama umat Islam. Karenanya, peran itu mereka titipkan kepada sebagian Muslim, yang mereka beri istilah dengan Muslim moderat.
Mereka berusaha mendefinisikan Islam, membagi umat Islam dengan dikotomi Good Muslim dan Bad Muslim. Muslim yang baik (Good Muslim) adalah Muslim moderat, rasional, tanpa kekerasan, dan progresif, yang slogan utamanya adalah lantunan “Islam adalah agama perdamaian.” (baca-tunduk, jangan melawan hegemoni Barat). Muslim yang buruk (Bad Muslim) adalah Muslim ekstrimis, irasional, kasar, dan fundamentalis, yang menyanyikan “Death to Amreeka” dan menentang segala sesuatu yang modern dan beradab. Seringkali, inilah penggambaran umat Islam yang disajikan di media mainstream. Silakan pilih, mana yang kira-kira cocok dengan Anda?!
Muslim Moderat, aspirasi Umat atau pesanan Barat?
Pertanyaannya, darimanakah diskursus mengenai Muslim Moderat ini bermula? Apakah ia muncul dari dalam umat Islam sendiri ataukan diolah dari pesanan luar? Fakta menunjukkan bahwa diskursus mengenai “Muslim Moderat’ ini dibentuk oleh perang melawan terorisme pimpinan Amerika Serikat. Diskursus ini dibangun di bawah bendera “Good Muslim” dan “Bad Muslim”. Diskursus Islam moderat ditujukan untuk mempromosikan Islam liberal yang kompatible dengan “Good Muslim”.
Diskusi tentang Islam pun dilakukan dalam bingkai politik dan keamanan, dengan mengkategorikan mereka yang radikal sebagai “Bad Muslim”.
Istilah ‘moderat’ menjadi kunci dalam mengidentifikasi orang Muslim yang mampu berasimilasi dengan baik dengan budaya Barat. Muslim moderat ditampilkan sebagai seorang Muslim yang moderat dalam mempraktikkan keislaman mereka, dan mengakomodir nilai-nilai liberal dan sekuler. Muslim ‘moderat’ digambarkan baik. Mereka setia, cinta damai, dan toleran. Selanjutnya, lawan dari Muslim moderat adalah Muslim ekstremis. Muslim moderat diposisikan berlawanan dengan Muslim yang nilai-nilai Islamnya tidak sesuai dengan peradaban Barat: kaum fundamentalis, jihadis, Islamis, ekstremis, dan konservatif. Pada dasarnya, istilah ini berfungsi untuk memberikan definisi otoritatif tentang apa itu “Islam yang benar.”
Persepsi tentang Muslim ekstremis dikembangkan disekitar ketakutan Barat terhadap Syariat.
Definisi ini tidak didasarkan pada prinsip Islam itu sendiri, tapi diukur dari kepentingan Barat.  Umat Islam dipaksa memilih dua dikotomi tersebut, menerima Islam yang sesuai dengan hegemoni budaya mereka atau melawan, dengan risiko pengasingan, kehilangan pekerjaan, deportasi, penjara, bahkan pembunuhan.
Dikotomi ini mendefinisikan umat Islam bukan dari kerangka agama mereka, bagaimana Islam yang dibawa Rasulullah, tapi dari sejauh mana umat Islam tunduk pada tuntutan masyarakat modern yang hegemonik. Dunia sekuler percaya bahwa mereka telah menerapkan standar yang berlaku secara universal.
Mereka mempertahankan lensa kognitif kolonial yang mengukur kebaikan berdasarkan kepentingan mereka. Untuk eksis, umat Islam diminta untuk berasimilasi. Mereka tetap dibiarkan mempraktikkan agamanya dalam bingkai budaya yang bhinneka dan moderat, meski realitanya kebebasan tersebut dibatasi dalam serangkaian opsi yang telah ditentukan sebelumnya.
Dialog yang melibatkan umat Islam, atas nama menciptakan harmoni, seringkali dibangun diatas pondasi yang keliru, dengan meminta umat Islam bertanggungjawab untuk meredakan ketakutan irasional dalam sebuah standar yang selalu berubah.
Keragaman dalam Islam memang adalah sebuah keniscayaan, realita sejarah menunjukkan hal itu. Namun, keragaman tersebut masih selaras dalam bingkai Islam. Kini, keragaman tersebut dibajak, dikotakkan dalam bingkai keamanan dan politik Barat. Mereka kini berusaha mengambil otoritas, siapa Muslim yang baik dan siapa Muslim yang buruk. Bak Dajjal yang menggambarkan surganya Allah dengan ilusi neraka, dan sebaliknya menggambarkan nerakanya Allah dengan ilusi surga.

Sumber seraamedia

Tidak ada komentar