Header Ads

Antara Mudik dan Berbakti kepada orang tua

banner ads
Guratan-guratan zaman memenuhi wajahnya yang keriput. Hanya bisa termenung dengan apa yang ada karena merasa bingung mau berbuat apa lagi. Kejenuhan memenuhi hatinya karena raga tak sekuat dulu dan kemampuan berkurang drastis digerogoti oleh waktu.
Itulah gambaran apa yang terjadi pada orang tua yang hanya bisa bertemu anak-anaknya ketika lebaran tiba. Tradisi mudik namanya. Sebuah tradisi tahunan yang pasti akan memakan energi yang besar dan memenuhi jalan-jalan raya di seantero Nusantara.

“Ah aku kan orang sibuk, yang penting kebutuhan orang tua sudah tak penuhi,”celetuk salah seorang anak dari seorang bapak. Terkadang mereka tak membutuhkan apa yang disebut harta dan semacamnya. Cuma butuh perhatian kasih sayang sebagaimana yang mereka berikan kepada anaknya sewaktu kecil walau itu tidak akan cukup untuk menebusnya.

Berbakti pada Orang Tua Sebagai Sumber Luasnya Rezeki

Mencari rezeki adalah keniscayaan. Terkadang ini adalah alasan paling dominan yang membuat seorang anak jauh dari orang tua. Dari buaian hingga dewasa berada di bawah pengawasan orang tua, ketika tiba waktunya mulailah melanglang buana untuk mencari pengalaman hidup yang semakin lama makin keras.
Banyak sekali ditemui, orang tua sendirian di rumah megah buatan anaknya yang merantau. Tapi buat apa rumah yang megah dan mewah jika mereka tenggelam dalam kesepian. Hati orang tua memang sulit untuk ditebak. Tetapi percayalah bahwa mereka akan bahagia jika melihat anak-anaknya bahagia dan sukses dalam hidupnya.

Namun, perlu diingat, apapun yang kita berikan pada mereka dalam bentuk apapun itu tidak akan pernah mampu menggantikan kasih sayangnya pada anak-anaknya. Janganlah merasa cukup dengan hanya menggelontorkan sejumlah uang dan memafisilitasi hidupnya. Mereka juga butuh perhatian, sapaan dan canda tawa di sisa-sisa hidupnya.

Anugerah yang besar dari Allah jika kita mempunyai orang tua yang telah mengenal dien Islam. Barangkali kita lalai masalah berbakti mungkin mereka bisa memaklumi dan menyibukkan dalam ibadah pada-Nya. Sembari mereka mengingatkan dan berusaha mengumpulkan anak-anaknya semampunya.

Cerita akan berjalan lain jika mereka bukanlah orang yang paham agama. Tidak akan ada jalan pikiran untuk bertaqarrub dengan-Nya. Yang ada dalam benaknya adalah tugasnya mendidik anak telah selesai. Rasa jenuh dalam hidup menggelayuti dan selalu berniat mengakhiri hidup untuk memutus rasa sakit karena kesepian. Sekali lagi, kehidupan dan harta mungkin telah kita berikan untuk mereka tapi yang dibutuhkan bukanlah hanya sekadar itu saja.

Cerita nyata dari beberapa pengalaman penulis bahwa ada beberapa orang tua yang pada akhirnya berusaha mengakhiri hidupnya sendiri. Alasannya? Klasik, karena jenuh hidup. Entah karena sakit yang menahun atau karena merasa ia sendirian di dunia ini, teman-teman seangkatannya telah mendahului menghadap Allah. Jadi, ketika ada kabar orang meninggal dan ternyata dai kenal, ia selalu menyeletuk,”Lha, giliranku kapan?”
Ketika mendapati orang tua kita sampai segitunya cara berpikirnya seharusnya kita segera intropeksi diri. Apa yang  kurang dari yang kita berikan pada orang tua? Harta, perhatian, kasih sayang atau apa?

Berbicara soal harta, karena ada beberapa yang beralasan jauh dari orang tua untuk mengais harta, Rasulullah pernah bersabda,
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barangsiapa yang ingin diluaskan rizkinya dan di-panjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyam-bung silaturrahimnya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Salah satu cara untuk meluaskan dan melapangkan rizki adalah dengan menyambung silaturami. Dalam silaturahmi yang harus didahulukan adalah silaturahmi kepada orang tua sebelum kepada yang lain. Jadi, resep untuk melapangkan rezeki dari Rasulullah adalah dengan menyambbung silaturahmi terutama dengan orang tua kita.

Jika memang ada hajat yang mendesak harus jauh dari orang tua, rekatkanlah hubungan kita dengannya. Sesering mungkin menanyakan kabarnya baik via udara atau tatap muka. Agar mereka merasa ada yang membutuhkan dan terpompalah semangat untuk hidup dari hatinya. Buatlah jadwal yang paten dalam hal ini. Momen mudik dan berkumpul bersama nanti jadikanlah ajang untuk membicarakannya. Buatlah mereka tersenyum di akhir masa bernafasnya. Jangan sampai momen mudik hanya berlalu begitu saja dan hanya terulang setiap tahun. Itu pun terkadang ada beberapa anggota keluarga besar yang absen entah karena kesibukan atau karena keengganan.

Ridha Allah Bergantung Kepada Ridha Orang Tua

Melihat sub judul di atas tentu ingatan kita langsung terarah pada hadits Nabi yang masyhur
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسُخْطُ الرَّبِّ فِي سُخْطِ الْوَالِدِ
“Darii ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallaahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ridha Allah bergantung kepada keridhaan orang tua dan murka Allah bergantung kepada kemurkaan orang tua”(HR.Bukhari)

Salah satu ladang pahala yang tidak setiap orang sadari adalah keridhoan orang tua. Orang tua yang telah renta dapat menjadi wasilah menuju jannah-Nya jika kita mampu membuat mereka ridho. Karena ridho Allah bergantung pada keridhaan mereka berdua.

Ketika di sub pertama kita lebih membahas soal harta dan menyinggung sedikit soal perhatian dan kasih sayang, maka dalam sub ini lebih mendalam soal perhatian pada orang tua. Sudah menjadi rahasia umum bahwa ketika manusia mendekati masa senja maka sifatnya akan menjadi kekanak-kanakan. Butuh perhatian lebih dan pelayanan yang ekstra.
Layaknya dulu kita diasuh dengan kasih sayang oleh orang tua, maka saat ini adalah waktu bagi kita untuk membalasnya. Repot memang, menjengkelkan itu pasti. Tapi itulah sumber pahala dan berbalas Jannah. Kesabaran ekstra harus dicanangkan karena kondisi mereka yang sudah tua, segalanya harus dilakukan secara pelan-pelan. Mulai dari cara berbicara hingga berakhir pada masalah MCK.

Dalam Shifah Ash-Shafwah disebutkan pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan, Usamah bin Zaid, salah seorang sahabat muda kala itu yang diangkat Nabi menjadi panglima menebang sebuah pohon kurma dan mengambil hati pohon kurma (yang terletak di pucuknya) dan menyuapkannya kepada ibunya.

Di dalam kitab Birr Al-Walidain karya Ibnul Jauzi disebutkan ada dua laki-laki dari Sahabat  yang paling berbakti di kalangan umat ini kepada ibunya: ‘Utsman bin ‘Affan dan Haritsah bin an-Nu’man.

Adapun ‘Utsman, maka dia telah berkata, ‘Aku tidak mampu memandang ibuku (karena segan) sejak aku masuk Islam’.

Sedangkan Haritsah, maka dia biasa membersihkan kutu (rambut) kepala ibunya, menyuapinya dengan tangannya, dan dia tidak pernah sama sekali meminta penjelasan ketika ibunya memerintahkan sesuatu kepadanya, hingga akhirnya sesudah dia keluar dia bertanya kepada orang yang di dekat ibunya, ‘Apa yang diinginkan ibuku?’.”

Masya Allah, sungguh menakjubkan apa yang telah dicontohkan para pendahulu kita. Seharusnya itu menjadi pendorong untuk mendapatkan keridhaannya. Bukan malah saling melepaskan tanggung jawab dan baru berkumpul ketika pembagian warisan tiba. Jangan sampai hal itu terjadi. Kita harus ingat bahwa kita ada karena mereka. Jangan sampai hanya persoalan harta saja yang dipikirkan. Pikirkanlah keridhaan mereka yang akan berujung pada keridhaan Allah.

Kesimpulannya adalah marilah Ramadhan yang tinggal beberapa hari ini membuat kita lebih tersadar soal hubungan kita dengan orang tua. Momen mudik yang sudah menjadi tradisi ini, kita jadikan tonggak awal perbaikan hubungan kita dengan mereka. Jika ada sebagian yang telah berjalan dengan baik, marilah dipertahankan dan ditingkatkan. Jika masih ada yang belum dan mulai tersadar, marilah segera kita perbaiki sebelum segalanya terlambat. Wallahu a’lam bi shawab.

Penulis : Dhani El_Ashim
Editor: Arju

Tidak ada komentar