Header Ads

Selat Malaka dan Islam Indonesia

banner ads
Selat Malaka adalah salah satu selat internasional terpenting di dunia, selain itu, selat ini juga merupakan selat tersibuk kedua di dunia setelah Selat Hormuz, kenyataan ini tak lepas dari letaknya yang strategis dan sejarah penggunaan selat yang sangat panjang. Selat Malaka diapit oleh Pulau Sumatera (Indonesia) dan Semenanjung Malaysia.

Panjang Selat Malaka sekitar 805 km atau 500 mil dengan lebar 65 km atau 40 mil di sisi selatan dan semakin ke utara semakin melebar sekitar 250 km atau 155 mil.
Sejarah mencatat bahawa Selat Malaka telah menjadi jalur lintas yang penting sejak zaman dahulu kala. Selama ratusan tahun sebelum masa penjajahan Barat, bangsa India, China, dan Arab telah menggunakan selat ini untuk jalur lalu lintas perdagangan dan menyebarkan agama. Interaksi yang kuat dalam bidang politik, ekonomi, budaya maupun agama terjalin antara pengguna jalur Selat Malaka dengan penduduk yang berada di wilayah-wilayah sekitar Selat Malaka. Dibukanya Terusan Suez tahun 1869 dan kebangkitan Singapura tahun 1930an menjadikannya salah satu pelabuhan tersibuk di dunia dan semakin memperkuat nilai strategis Selat Malaka.

Setidaknya terdapat 2 jalur perdagangan internasional yang hingga kini masih dapat dilalui. Kedua jalur perdagangan tersebut meliputi jalur perdagangan darat dan laut. Jalur Sutra merupakan julukan bagi jalur perdagangan melalui darat.
Julukan jalur sutra diberikan karena jalur perdagangan ini merupakan jalur pertama atau tertua yang menghubungkan Cina dengan Eropa melalu Asia Tengah Turki sampai ke laut tengah.
Sementara jalur perdagangan laut membentang dari Laut Cina hingga ke India, Syam (syiria), sampai ke laut tengah. Di sinilah peran malaka sebagai jalur strategis yang berada di tengah-tengah keduanya.
Gb. Jalur Sutra (darat dan laut)
Selat Malaka sebagai jalur perdagangan yang dipergunakan oleh lalu lintas pelayaran internasional telah dimulai sejak awal abad Masehi. Bukti-bukti arkheologis malah memperkirakan bahwa hubungan perdagangan antara kawasan pantai timur Pulau Sumatera itu telah ada sejak masa-masa jauh sebelumnya.

Era kerajaan lokal pertama yang mempengaruhi Selat Malaka terjadi di tahun antara abad ke tujuh hingga tujuh belas. Kerajaan Sriwijaya yang berpusat di tempat yang sekarang disebut Palembang mengalami masa kejayaan di abad ke-delapan. Sriwijaya terkenal sebagai kerajaan Budha yang kuat di perairan (bahari), selama masa berkuasanya Sriwijaya, terjadi interaksi perdagangan dan pertukaran barang yang pesat di Selat Malaka.
Barang yang diperdagangkan pada masa itu adalah beragam jenis logam seperti emas, perak, timah dan gangsa (perunggu) yang banyak diperdagangkan oleh pedagang dari India, dan selain itu, ada juga kayu, benda-benda dari kaca, batu-batu berharga dan mutiara, tekstil, barangan kerajinan dari keramik yang banyak diperdagangkan oleh orang-orang China, serta barangan lainnya.
Pada masa kerajaan Sriwijaya dan Majapahit kedua kerajaan ini merupakan pelopor perdagangan di Nusantara yang kemudian memiliki hubungan internasional dengan kerajaan India. Siwijaya yang merupakan kerajaan yang bertumpu pada perniagaan memiliki hubungan internasional dengan bangsa Cina dan Eropa.

Pada periode berikutnya kedua kerajaan tumbuh dan berkembang sebagai pusat perniagaan di Nusantara. Dengan adanya selat malaka ini kerajaan yang paling diuntungkan adalah kerajaan Sriwijaya, yang mana setelah menguasai Malaka, sistem pajak diberlakukan bagi para pedagang yang berdagangan melalui selat malaka. Para pedagang tersebut merupakan para pedagang Internasional dari Arab, India, Cina dan Persia.
Lalu Islam masuk di Asia Tenggara, penduduk di wilayah pedalaman dan penduduk sekitar pantai yang menghadap ke Selat Malaka menjalin interaksi yang kuat dengan orang-orang Islam ini yang datang dari Timur Tengah. Agama ini dalam perkembangannya, begitu mudah diterima karena penyebarannya yang santun sehingga menjadi sangat dominan dan mengalahkan pengaruh Hindu dan Budha di kawasan Selat Malaka.
Dalam waktu yang tidak terlalu lama, banyak bermunculan kerajaan yang beridentitas Islam seperti kerajaan Johor, kesultanan Malaka, Samudera Pasai, Kesultanan Demak dan beberapa Kesultanan Islam yang berpusat di Sumatera dan Jawa. Kemunduran kerajaan Sriwijaya juga menjadi titik tolak kemajuan Kesultanan Islam.
Nama Selat Malaka sendiri diambil dari nama kota tua Malaka. Kota Malaka langsung menghadap ke Selat Malaka yang juga menjadi pusat dari kerajaan Malaka. Kerajaan Malaka berjaya selama 150 tahun mendominasi sektor ekonomi, politik, budaya di sekitar kawasan Selat Malaka. Secara silih berganti kawasan Selat Malaka merupakan tempat pertarungan yang hebat antara kerajaan besar seperti Sriwijaya, dan bangsa-bangsa lain dari Jepang, China, orang-orang Thai dan penduduk lokal di Sumatera.

Sejak dimulainya usaha penjajahan sekitar abad ke 15, bangsa-bangsa dari Eropa mendominasi pengaruh di berbagai tempat termasuk di Selat Malaka. Bangsa Portugis yang tiba di Malaka tahun 1511 mengawali peranannya sebagai bangsa penjajah dengan cara menjalankan politik kekerasan bersenjata. Kawasan Selat Malaka terutama di kawasan Semenanjung Malaya berhasil dikuasai Portugis setelah terlebih dahulu mengalahkan kesultanan Malaka. Setelah menjadi kekuatan dominan, Portugis kemudian memonopoli perdagangan rempah-rempah nusantara dan monopoli mencapai puncaknya antara tahun 1570-1580an.
Ketika Portugis tidak mampu mempertahankan dominasinya dan kesultanan Malaka jatuh, kerajaan Samudera Pasai di Aceh mengambil peran pengawasan lalu lintas dan perdagangan di Selat Malaka. Barang yang diperdagangkan melalui Selat Malaka yang berada dibawah pengawasan Aceh sangat beragam, ada rempah-rempah yang berasal dari Maluku, tekstil, logam mulia, dan barangan dagang seperti lada yang dihasilkan dari wilayah Aceh sendiri.
Keinginan Aceh untuk melebarkan wilayah kekuasaannya sampai ke selatan mendapat tantangan yang kuat dari kerajaan Johor, hingga abad ke tujuh belas, ada tiga kerajaan atau negara yang sangat berpengaruh di Selat Malaka saat itu, yaitu Portugis-Malaka, Aceh dan Johor.

Selat malaka berperan sebagai tempat transit dan menambah bekal makanan segar untuk para pedagang setelah berlayar jauh. Selain itu juga menjadi tempat pengumpulan barang-barang dagangan dari berbagai kepulauan di sekitarnya untuk didistribusikan oleh para pedagang dari Cina, India dan Arab dan peran sebaliknya mendistribusikan barang-barang dari wilayah Eropa dan Asia ke kepulauan Nusantara.
Selat Malaka merupakan tempat yang cocok untuk menunggu perubahan arah angin Barat-Timur untuk berlayar kapal. Aktivitas pelayaran waktu itu sangat tergantung dengan arah muson angin. Angin muson Barat dimulai pada bulan April membawa para pedagang India ke Malaka. Angin muson Tenggara membawa para pedagang Cina untuk pulang. Para pedagang dari Jawa dan kepulauan melayu lainnya juga dating ke malakan pada waktu angin muson tenggara dan tinggal beberapa saat di Malaka sambil menunggu angin muson utara bertiup untuk membawa mereka pulang.
Pada perempatan terakhir abad ke-15, setelah menguasai Mesir, armada perdagangan Turki dan pedagang-pedagang Muslim Arab serta Gujarat bersama para pedagang Melayu, Cina dan Nusantara mulai melayari kepulauan rempah-rempah, dan bersama-sama berhasil mengembangkan Pelabuhan Malaka menjadi menjadi bandar transit bagi perdagangan rempah-rempah Asia Tenggara.

Pala dan fili dari Banda, cengkeh dan kayu manis dari Maluku, lada dari Banten dan Sumatra, serta rempah-rempah lain dari Kalimantan dan beras dari Jawa, sutera dan porselen dari Cina, hasil-hasil tekstil dari India, Jepang, serta lainnya, cukup tersedia di Bandar Malaka.
Menurut Reid, keberhasilan utama Islam di Negeri Bawah Angin terjadi sekitar tahun 1400 M sampai 1650 M. Negeri Bawah Angin (The Land Below The Wind) merupakan nama lain untuk kawasan Asia Tenggara. Di dalam Sejarah Melayu disebutkan bahwa pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Syah banyak pedagang dari Negeri Atas Angin berdatangan ke Malaka. Malaka terkenal sebagai kota dagang baik dari Negeri Bawah angin maupun Negeri Atas Angin.
Peta Wilayah Kekuasaan Kesultanan Malaka pada abad ke-15
Pada abad XV M, Malaka menjadi kerajaan Islam dan sekaligus kota pelabuhan terbesar di wilayah kepulauan Nusantara, serta mendorong penyebaran agama Islam ke seluruh wilayah pesisir semenanjung Malaya dan Sumatra Timur. Kota-kota pelabuhan Islam kemudian menyusul sepanjang jalur perdagangan rempah-rempah ke pantai utara Pulau Jawa dan Maluku, juga jalur perdagangan lainnya seperti ke Brunei dan Manila.
Periode islamisasi yang paling kuat, menurut Reid, terjadi bertepatan dengankejayaan perdagangan di Nusantara, yaitu membanjirnya perak sekitar tahun 1570-1630 M. Periode ini adalah masa hubungan langsung secara ekonomi, agama, danmiliter dengan Mekkah dan Turki Utsmani.Pada saat yang sama, kehadiran agama Kristen yang dibawa oleh orang-orang Eropa juga meningkatkan motivasi kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara untuk mengislamkan penduduk di pedalaman.

Sejarah mencatat bahawa Selat Malaka telah menjadi jalur lintas yang penting sejak zaman dahulu. Selama ratusan tahun sebelum masa kolonialisem Barat, bangsa India, China, dan Arab telah menggunakan selat ini untuk jalur lalu lintas perdagangan dan menyebarkan agama sehingga memberikan bentuk budaya yang teralkulturasi terhadap identitas masyarakat di sekitar Selat Malaka.
Interaksi yang kuat dalam bidang politik, ekonomi, budaya maupun agama terjalin antara pengguna jalur Selat Malaka dengan penduduk yang berada di wilayah-wilayah sekitar Selat Malaka. Dibukanya Terusan Suez tahun 1869 dan kebangkitan Singapura tahun 1930-an yang menjadikannya salah satu pelabuhan tersibuk di dunia dan semakin memperkuat nilai strategis Selat Malaka.
Penulis Portugis, Tome Pires menggambarkan ramainya pelabuhan di selat Malaka dalam karyanya, Suma Oriental; “di Malaka kita dapat menemukan 84 bahasa. Setiap bahasa memiliki ciri khasnya.” Penulis portugis lainnya, Duarte Barbosa juga menggambarkan ramainya pelabuhan atau bandar di Malaka; “…bandar di Malaka ini adalah pelabuhan yang terkaya, dengan jumlah perdaganganterbesar dan perkapalan dan perdagangan yang sungguh banyak yang berasal dariseluruh dunia”.

Referensi:
Anthony Reid, Southeast Asia in Th Age of Commerce 1450-1680 terj. R.Z. Leirissa (Jakarta: Obor, 1998)
  1. Adnan Amal, Portugis dan Spanyol di Maluku. Komunitas Bambu, Jakarta 2009.
  2. Saeri, Karakteristik dan Permasalahan Selat Malaka, Jurnal Transnasional, Vol. 4, No. 2, Februari 2013.
Muhammad Gade Ismail, Pasai Dalam Perjalanan Sejarah : Abad Ke-13 Sampai Awal Abad Ke-16, Penerbit: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Direktorat Sejarah Dan Nilai Tradisional Proyek Inventarisasi Dan Dokumentasi Sejarah Nasional Jakarta 1993.
Nodin Hussin, geografi dan Perdagangan: Kepentingan Selat Malaka kepada Perdagangan Dunia, Asia dan Dunia Melayu 1700-1800, Jurnal Akademika Pusat pengajian Sejarah Politik dan strategi Fakulti Sosial dan Kemanusiaan Universiti Kebangsaan Malaysia. Mei 2008
The Book Of Duerte Barbosa, Vol. II, Hakluyt Soceity London, 1944.
Tome Pires, Suma Oriental, Penerbit Ombak Yogyakarta, cet ke-3 2016
Sumber seraamedia

Tidak ada komentar