Header Ads

Tahun politik : Islam disayang lalu ditendang

banner ads
Ada apa dengan politikus? Di tahun politik mereka begitu dekat dengan masjid dan pesantren, mengenakan seragam yang sama dengan para santri, ikut meramaikan panggung para hafizh, tangannya menengadah ke langit memohon kepada Allah, memuji dan memuja-Nya, bersama lantunan zikir dan cinta Rasul dipandu oleh para kiyainya, diakhiri dengan tangan yang bersahabat menyapa rakyat miskin dan lemah.

Ada apa dengan politikus? Mereka mencalonkan diri dengan dukungan ulama yang mengumpulkan seabrekdalil dan argumen fiqh, ushul fiqih dan segenap perangkatnya untuk mendukung dan menentukan ijtihad politik di kubangan lumpur demokrasi.
Ada apa dengan mereka? Setelah sampai pada tujuan politiknya ternyata lupa dengan Allah dan Rasul-Nya. Seolah tampilan keislaman mereka bak seorang aktor yang sedang bermain peran.
Setelah sukses di tahun politik, di kursi tempat mereka duduk, seenaknya mereka berkata,
“Jangan bicara syariat di sini, ini Negara Bhinneka Tunggal Ika,”
“Memaksakan penerapan syariat Islam di sini akan memicu perpecahan, konstitusi kita telah mengakomodir semua agama.”
Seolah mereka lebih pintar dari Allah dalam mengatur manusia.
Di tahun politik, di kursi tempat mereka duduk, mereka bersumpah untuk setia kepada selain Allah dan Rasul-Nya, padahal kursi itu mereka dapatkan dengan berpakaian islami, sowan kepada para pemuka agama. Di kursi tempat mereka duduk, mereka proklamirkan abdi dan taatnya kepada selain Allah, mereka ikrarkan hidup mereka untuk selain Islam.
Bagi mereka, sujud kepada Allah hanya cukup di masjid, mushalla, pesantren dan pengajian. Menjadi religius cukup di bulan Ramadhan saja sementara di dunia politik kita bisa bersujud kepada selain Allah. Bebas mengatur manusia dengan nafsu manusia, mengabaikan aturan-aturan Allah dalam mengatur manusia.
Di tahun politik, fenomena mereka mirip dengan potret musyrik jahiliyah masa lalu yang berdoa kepada Allah saat diterpa ombak laut di malam gelap gulita dengan penuh kekhusyukan, namun ketika mereka selamat mereka lupa kepada Allah dan berbuat syirik kepada-Nya, mengabdi kepada selain Allah, taat kepada selain Allah, menggunakan aturan selain Allah.
قُلْ مَنْ يُنَجِّيكُمْ مِنْ ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ تَدْعُونَهُ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً لَئِنْ أَنْجَانَا مِنْ هَذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ (63) قُلِ اللَّهُ يُنَجِّيكُمْ مِنْهَا وَمِنْ كُلِّ كَرْبٍ ثُمَّ أَنْتُمْ تُشْرِكُونَ 64
Katakanlah, Siapa yang menyelematkan kalian dari bencana di darat dan laut? Yang kalian berdoa kepada-Nya dengan rendah diri dan suara lembut (dengan berkata) “Kalau seandainya Allah menyelematkan kami dari (bencana) ini, maka kami akan menjadi orang-orang yang bersyukur. (63) Katakanlah, “Allah yang menyelamatkan kalian darinya (bencana) dan dari segala macam kesusahan, kemudian kalian sesudah itu melakukan kemusyrikan (64).” (QS. Al-An’am).
Di tahun politik, doa-doa mereka dengan para santri, silaturahmi mereka kepada para kiyai, sholat mereka dan pakaian muslim mereka tak ubahnya laksana doa orang yang terkena musibah di kapal, dan ketika mereka selamat mereka kembali berpaling dari Allah dan Rasul-Nya. Wallahu a’lam bissowab [Ibnu Khomis/istidlal.org]

Tidak ada komentar