Header Ads

Inilah cara Amerika lemahkan Revolusi Suriah dan langgengkan Rezim Assad

banner ads
Dunia terkejut, saat akhir pekan kemarin, AS, Inggris, dan Perancis melakukan serangan terhadap Rezim Suriah. Kita dibuat percaya bahwa serangan-serangan ini dilakukan sebagai respon dari negara superpower dunia terhadap serangan senjata kimia yang dilakukan rezim Suriah di Douma, yang telah menewaskan paling sedikit 70 orang, mayoritas anak-anak dan perempuan. Ratusan orang masih dalam kondisi kritis. Kerusakan terus bertambah parah karena milisi pro pemerintah, dengan dukungan dari angkatan udara Rusia, mengepung kota tersebut.

Penggunaan senjata kimia oleh rezim Suriah terhadap penduduk sipil selama ini telah menjadi norma. Fosfor, Gas Sarine, Napalm, Gas Chlorine, Mustard Gas dan zat-zat lain yang tidak diketahui telah digunakan di pusat-pusat warga sipil di Douma, Ghouta, Atabah, Hama, Aleppo dan daerah sekitarnya untuk menekan pasukan pemberontak agar menyerah. Menurut AS sendiri, Suriah telah menggunakan senjata kimia “setidaknya 50 kali selama perang”, sementara estimasi lain memperkirakan angkanya mencapai 200-an serangan.
Apakah hati nurani dunia akhirnya terketuk?
AS memuji serangan tersebut sebagai respon kemanusiaan yang tepat dan pas. Sebuah klaim yang membuat dunia menjadi gila. Media populer menghias halaman depannya dengan gambar tanggapan AS, Inggris dan Prancis: “Benar dan sah”, kata Theresa May.
Tidak sulit untuk meyakinkan banyak dari kita bahwa pembalasan ini adalah sifat manusiawi; yang berasal dari perasaan kewajiban moral untuk menampar rezim Suriah yang brutal karena terlalu sering ‘melewati batas’.
Di sisi lain, beberapa hari sebelumnya, Presiden Trump mencemooh badan intelijen eksternalnya karena menunda serangan pesawat tak berawak di Afghanistan yang akan mengakibatkan terbunuhnya warga sipil tak berdosa, “Mengapa kalian menunggu?”, sesalnya.
Pertanyaannya, bagaimana mungkin sebuah pertanyaan yang jelas-jelas menggemakan reputasi pemerintahannya dengan kekejaman diselaraskan dengan tumbuhnya kewajiban moral?
Trump mencoba membuat sebuah narasi heroik dengan pernyataannya, “Hari ini, negara-negara Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat telah memamerkan kekuatan kebaikan mereka melawan barbarisme dan kebrutalan.”
Sandiwara kepahlawanan juga ditunjukkan oleh dubes AS untuk PBB, Nikki Haley, dalam pidato teatrikalnya di PBB. Seolah membela mereka yang ditindas oleh rezim keji, Haley memandang serangan kimia Assad “harusnya menyatukan kita dalam keterkejutan dan kemarahan.” Di sana, terjadi sebuah adegan dramatis dan perdebatan yang panas, di tengah kilatan lampu kamera dan janji-janji melakukan tindakan.
Sebelumnya, seorang presiden yang sedang terjangkit Tweetoholic membuat sebuah retorika menegangkan,
“Bersiaplah Rusia, karena mereka akan datang, bagus dan baru dan “pintar!” Kalian tidak seharusnya berteman dengan Hewan Pembunuh Gas yang membunuh rakyatnya sendiri dan menikmatinya!”
Sebuah pemandangan yang indah dari negara penyelamat dunia yang datang untuk membantu orang-orang Suriah, digambarkan sebagai ‘keterlibatan pertama AS ke dunia yang tertidur di gua selama AS meluncurkan lebih dari 11.300 bom mematikan di Suriah sejak 2011 (hingga pertengahan 2017).
Operasi yang bernama ‘Penyelesaian Inheren’, yang diklaim menargetkan ISIS, dalam waktu hanya beberapa bulan telah membunuh lebih banyak warga sipil dibanding yang dilakukan oleh ISIS atau Rusia. Belum lagi Irak, belum lagi Fallujah. Di kota tersebut, sekitar 40.000 warga sipil tewas oleh “kekuatan kebaikan” tersebut.
Angka-angka tersebut dijual dengan kemasan bahasa “collateral damage”, atau korban tak terhindarkan yang sangat disesali di wilayah ISIS, atau sekadar dengan bahasa “perisai manusia”.
‘Penyelesaian Inheren’ pun tidak benar-benar menyelesaikan masalah. AS juga membombardir kelompok oposisi. Dalihnya adalah karena mereka dianggap berasosiasi dengan Al-Qaeda. Bahkan, kalaupun Al-Qaeda mengingkari, kelompok yang berjuang untuk kemerdekaan rakyat mereka dari pembantaian Assad masih merupakan target yang sah untuk alasan yang hanya diketahui oleh Amerika.
Faktanya, AS telah berbagi wilayah udara Suriah dengan rezim dan Rusia, melalui koordinasi militer yang rumit. Bisa jadi, beberapa diantara pesawat tempur AS melewati pesawat rezim yang mengangkut senjata kimia. Di manakah hati nurani dan moral AS saat itu?
Permusuhan macam apa yang bersepakat untuk menyelamatkan rezim pembantai dan menghancurkan lawan dari rezim tersebut? Ini semua adalah kesepakatan, bahwa baik Rusia maupun AS tidak ingin mendepak Rezim Assad. Selamat pagi bagi mereka yang baru saja bangun untuk menyadari fakta bahwa tidak ada yang menyelamatkan orang-orang Suriah kecuali Allah Yang Maha Kuasa.
Jika ada keraguan, sekarang sudah jelas. Penggunaan senjata kimia oleh rezim Suriah bukanlah karena mereka menjadi berani karena dukungan kapal induk Rusia yang berkarat dan rapuh dengan toilet yang hampir tidak berfungsi, tetapi mereka menjadi berani karena perjanjian-perjanjian Barat yang secara implisit melemahkan revolusi di Suriah.
Mengapa?
Sentimen keislaman yang dipegang oleh rakyat Suriah dan kelompok perlawanan tidak bisa ditoleransi oleh pembuat kebijakan AS yang terjangkit Islamofobia. Tidak ada kelompok perlawanan yang cukup “moderat” (baca: sesuai) bagi Amerika, karenanya, mereka tidak diberi ruang untuk menentukan nasib mereka sendiri. Dukungan AS hanya diperluas ke YPG; sebuah faksi dari kelompok yang oleh AS sendiri dimasukkan dalam daftar organisasi teroris terlarang, yang kebetulan memiliki aliansi dengan rezim Assad.
Lalu, mengapa AS, Inggris, dan Prancis akhirnya memenuhi kata-kata mereka dengan ‘aksi’? Beberapa orang berpendapat bahwa itu semua dilakukan untuk mencegah pengembangbiakan senjata kimia dan untuk menegakkan ‘Hukum Internasional’. Kalau bukan karena gambar kaki yang terkoyak, tenggorokan yang teriris, dan anak-anak yang terkubur membanjiri mata ini, klaim semacam itu tentu akan membuat kita menangis dalam tawa.
Katakan kepada puluhan warga sipil yang kakinya terkoyak oleh hunjaman bom AS seberat 227 kg di Masjid Umar bin Khattab di desa Al-Jinah pada tanggal 16 Maret 2017, bahwa “tenang, tidak apa-apa, karena kalian bukanlah korban senjata kimia. tetapi kalian korban dari sebuah serangan yang legal secara internasional.”
Ya, ‘legal’ menurut pemerintah yang paling menjijikkan, menjengkelkan, tidak tahu malu di dunia; sebuah ‘kekuatan kebenaran’ yang melawan Barbarisme’. Beritahu kepada tubuh rakyat Gaza yang kering, hangus oleh serangan ilegal bom fosfor putih Zionis Israel, bahwa tidak apa-apa, karena ‘Israel’ adalah sahabat terbaik Amerika.
Banyak yang meyakini bahwa pemerintahan AS sekarang dijalankan oleh seorang psikopat gila. Lalu, mengapa kita harus bersikap keras dan kritis? Dia adalah seorang pria yang memenuhi kata-katanya. Ketika rezim Assad melewati garis merahnya, lelaki itu membuat Tomahawksnya terbang. Sekitar 100 dari mereka, dibantu empat Tornado Inggris yang menderu, propaganda panas di Twitter, ancaman balik Rusia, Iran, dan Suriah, telah mengguncang panggung dunia.
Sekitar 103 rudal jelajah telah diluncurkan, untuk membumihanguskan ‘fasilitas senjata kimia’ milik rezim. Sebuah gedung ‘pusat penelitian’ yang kosong, dihantam. Mungkin gedung tersebut sudah tidak beroperasi lagi, atau mungkin masih berisi buku-buku yang menjelaskan tentang cara memproduksi senjata kimia, atau tikus yang sudah diberi infus Sarine, atau gagang pintu yang sudah dilapisi Napal. Pertunjukan yang sangat menegangkan memang, saat sekitar 73 rudal berhasil ditangkis, namun tidak ada satu pun korban yang tercatat.
Sebuah komedi yang tidak lucu
Hanya satu pesan yang bisa kita tangkap saat AS dan sekutunya meluncurkan serangan tersebut, bahwa Assad boleh membantai rakyat Suriah, tapi jangan menggunakan senjata kimia. Gunakan alat dan metode lain. Misi itu sudah terwujud, dieksekusi secara sempurna.
Sumber seraamedia

Tidak ada komentar