Header Ads

Penjelasan Partai Alloh yang di maksud dalam Al Qur'an

banner ads
Menjelang “hari raya tahun politik” dalam kalender penganut demokrasi. Ada-ada saja ulah para pemuka demokrasi di negeri ini. Ada yang memamerkan ketidakmampuan berstatemen di depan kamera, ada yang memamerkan rasa frustasinya dengan “sekadar” mendeklarasikan diri sebagai cawapres. Ada pula kelompok yang partai bukan, ormas bukan, paguyuban bukan, tapi nekat mendeklarasikan pasangan capres-cawapres yang lucunya sosok yang dideklarasikan tak tahu menahu soal deklarasi tersebut.

Berbagai kelucuan tersebut sebenarnya tak perlu kita risaukan, terlebih buat Anda yang masih keukeuhandem di 2019 nanti. Sebagaimana hari raya pada umumnya, kita membutuhkan hiburan-hiburan tambahan yang merelaksasi pikiran kita tanpa mengabaikan ritual utama.

Namun saya cukup terkejut ketika mendengar ada beberapa “kelucuan” yang menggunakan istilah-istilah keagamaan. Seperti khalifah, baiat dan terakhir partai Allah. Untuk istilah yang pertama dan kedua agaknya sudah banyak yang menjawab dan menjelaskan. Namun untuk yang ketiga saya merasa belum banyak yang memberi penjelasan secara pas serta mencoba mendudukan persoalan bahwa istilah itu sejatinya tidak elok dijadikan lucu-lucuan politik.

Istilah “Partai Allah” disebutkan di dalam Al-Qur’an salah satunya pada surat Al Maidah ayat 56,
“Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya hizbullah (partai Allah) itulah yang pasti menang.”

Dalam kitab tafsirnya Tafsir Al Quranul Karim Syaikhul Islam Muhammad bin Shalih Al Utsaimin memberikan penjelasan yang menurut saya sangat-sangat bagus terkait ayat tersebut, bahkan saking bagusnya saya merasa seolah-olah sedang berdialog dengan beliau ketika membuka lembaran-lembaran kitab tersebut.
Berikut akan saya tuliskan bagaimana dialog imajiner saya dengan beliau. Namun dalam rangka hormat saya terhadap ulama, saya tidak akan menuliskan detail deskripsi ataupun gimmick.

Saya: Wahai Syaikh, ayat di atas menyatakan bahwa Allah SWT mempunyai partai, lalu siapa saja yang bisa menjadi anggota partai-Nya?

Syaikh: Yang menjadi anggota partai Allah tentu saja orang-orang yang berani maju dan berhadapan dengan orang ataupun kelompok yang memerangi-Nya. Sebenarnya semuanya telah jelas dan terang, bahwa yang punya komitmen penuh terhadap syariat Islam dialah anggota partai Allah, adapun yang menyelisihi syariat terlebih mendeklarasikan diri kepada khalayak ramai sebagai penyelisih syariat maka mereka lah yang harus dilawan oleh anggota partai.

Dan perlu diingat, sekali lagi ini perlu diingat, bahwa seseorang disebut memerangi Allah itu ketika dia melanggar batasan-batasan yang telah ditetapkan oleh-Nya, ridha terhadap sistem riba itu memerangi Allah, aktifitas perbegalan itu juga berarti perang terhadap Allah.

S: Lalu Syaikh, apakah ayat ini bisa menjadi landasan dalam pendirian sebuah kelompok ataupun partai?

Sy: Tidak!!! Tidak seperti itu!!!
Karena ayat ini menyerukan persatuan, bukan pengkotak-pengkotakan. Sesungguhnya keanggotaan dalam Partai Allah ini selalu berlandaskan komitmen terhadap dinul Islam, dan barangsiapa yang mulai menyelisihi dinul Islam maka otomatis dia dikeluarkan dari keanggotaan partai.

S: Lantas apakah mendirikan sebuah golongan atau partai itu masyru’ (disyariatkan) ?      

Sy: Tentu saja tidak syar’i apabila pendirian partai tersebut malah mengkotak-kotakkan kaum muslimin. Sekali lagi saya ulangi dan saya tegaskan bahwa istilah Partai Allah adalah untuk membuat garis batas yang jelas antara muslim dan kafir, antara haq dan bathil.

S: Lalu mungkinkah umat Islam membentuk semacam partai atau kelompok Islam untuk melawan misalnya partai komunis dan sebagainya?

Sy: Sangat mungkin, karena Allah SWT telah menciptakan sebuah dinamika kehidupan di mana ada Partai Allah maka ada juga partai setan. Sebagaimana firman-Nya dalam surat At Taghabun ayat dua,
“Dia-lah yang menciptakan kamu, maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang beriman.”
Dan Allah SWT memberikan penegasan dalam surat Al Mujadalah ayat 19,
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbus syaitan (partai setan) itulah golongan yang merugi.”
S: Sekarang begini Syaikh, bahwa sebagian cendekiawan berpendapat bahwa umat Islam boleh mengkotak-kotakkan dirinya dalam beragam kelompok sebagaimana bolehnya keberagaman madzhab dalam persoalan fiqih?

Sy: Oh tentu bukan begitu, keberagaman dalam madzhab fiqh adalah keberagaman yang sebatas pada persepsi terhadap sebuah masalah fiqhiyah, namun mereka para Imam dan ahlul madzahib tidak pernah terjebak dalam fanatisme, di mana mereka menganggap bahwa yang persepsinya berbeda berarti bukan kelompok mereka.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa banyak sekali pertikaian antar kaum muslimin sebab fanatisme madzhab, namun hal ini terjadi pada rentang waktu yang jauh sekali dari masa-masa awal berdirinya sebuah madzhab, dan tentu budaya fanatisme ini bukan merupakan warisan dari para pendiri madzhab.

S: Pertanyaan terakhir Syaikh, berkaitan dengan Al Maidah ayat 56 ini yang menyatakan bahwa Partai Allah itu pasti beroleh kemenangan, lalu jika ditarik pada konteks kekinian, mengapa rasa-rasanya kok yang namanya kemenangan itu selalu melekat kepada orang-orang kafir?

Sy: Sebelum masuk pada jawaban, pertama kita harus yakin sepenuhnya bahwa janji Allah SWT itu pasti benar. Lalu mengenai kemenangan orang-orang kafir, sesungguhnya dalam setiap kekalahan kaum muslimin itu terdapat hikmahnya. Sebagaimana kekalahan di perang uhud sebab kemaksiatan yang dilakukan pasukan muslim yaitu tidak mentaati perintah Rasulullah SAW, lalu dalam perang hunain disebabkan kepercayaan diri yang berlebihan. Maka Allah SWT pun memberikan kekalahan kepada kaum muslimin sebagai muhasabah atau koreksi diri agar kesalahan-kesalahan yang diperbuat tidak terulang di masa-masa mendatang.

Dialog imajiner itu pun berakhir, rasanya ingin salim dan mengecup pungung tangan beliau namun sekali lagi karena ini imajiner saya pun hanya bisa mencium sampul kitab penuh debu.

Memang saya akui dialog imajiner ini hanya mencerminkan pemahaman saya yang serba terbatas atas tulisan Syaikh Utsaimin. Mungkin di luar sana banyak orang-orang terpelajar yang mempunyai pemahaman lebih tepat. Dan apabila pemahaman yang lebih tepat itu ternyata benar-benar berbeda dengan pemahaman saya, maka dengan penuh kerendahan hati saya akan mengikutinya kecuali satu hal yang saya yakini dan akan saya perjuangkan kebenarannya.
Yaitu bahwa konsepsi Partai Allah itu benar-benar tidak bisa digathuk-gathukke dengan PKS, PAN, Gerindra, Pilpres 2019 atau bahkan dengan ideologi negara bangsa itu sendiri.

Penulis: Rusydan Abdul Hadi
Sumber kiblat

Tidak ada komentar