Header Ads

Perang Ekonomi AS-Cina Berpotensi Picu Krisis Dunia termasuk Indonesia

banner ads
Ekonom UI, Fithra Faisal memperingatkan potensi ancaman yang ditimbulkan oleh perseteruan ekonomi Amerika Serikat dan Cina. Indonesia harus bersiap dalam menghadapi krisis yang ditimbulkan oleh hal itu.

Fithra mengatakan konflik panas antara Amerika dan Cina dipicu oleh kebijakan Donald Trump yang memutus hubungan dagang dengan RRC. Sejak terpilih Trump mengatakan akan membangun “tembok” dengan Meksico dan Cina, memulangkan pekerja mereka, dan tidak akan berdagang dengan mereka. Sehingga Indonesia tidak bisa berperan lebih di antara konflik itu.

“Ini pernyataan tegas yang negatif namun ada misi ekonomi AS di sana. Donald Trump memimpin AS dengan cara koboi,” kata Fithra dalam diskusi “AS vs RRC, Kita Bisa Apa ?”, Jakarta, Sabtu, (24/3/2018).

“Sama dengan pemimpin AS sebelumnya, Goerge W. Bush yang menyatakan War on Teror, siapa yang tidak bersama AS maka ia membela teroris,” imbuhnya.

Dia menilai Indonesia tidak bisa mengambil keuntungan dengan adanya perseteruan dua kekuatan ekonomi dunia itu. Sebab, Indonesia tertinggal dari Vietnam, Filipina dan negara-negara tetangga dalam hal produksi untuk mengisi perdagangan yang kosong antara AS dan RRC.

“Dampak buruk persetuan ini akhirnya di obligasi AS harga turun tapi suku bunganya naik, ditambah pernyataan Donald Trump yang negatif. Sehingga seluruh dunia dalam keadaan sulit,” tutur pakar Ekonomi Perdagangan lulusan Waseda University, Jepang itu.

Fithra memandang peluang Indonesia hanya bisa mengajak berdiskusi, sebab tengah AS mencari teman dengan cara mengancam negara-negara yang terikat hubungan diplomatik. Caranya sama dengannya seperti kampanye War on Terortadi. Sikap Trump inilah menjadi perang yang nyata.

Dia mengatakan akibat konflik ini juga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan bergerak menurun. Untuk itu pemerintah juga harus mewaspadai ini dengan membangun kebijakan yang baik.

“Solusinya adalah memperbaiki infrastruktur segala bidang untuk jangka panjang. Tetapi selama ini kita tidak mengisi hal itu. Bahkan rovolusi mental itu tidak terbukti, di mana diplomasi kita buruk dalam membangun kerjasama. Ini sangat berbahaya, contoh tenaga kerja, justru lebih banyak tenaga asing daripada tenaga lokal,” ungkapnya.
Fithra menuturkan kebijakan yang baik dan sinyal positif dari pemerintah untuk mencegah ekspetasi buruk turunnya IHSG ke titik merak yang bisa mengakibatkan rupiah kian anjlok. Pemerintah harus memadamkan api permasalahan, bukan justru memperbesar nyala api.

“Pemerintah harus mengontrol nilai tukar rupiah, sehingga Indonesia harus siap menghadapi krisis ini,” pungkasnya.

sumber : kiblat.net

Tidak ada komentar