Header Ads

Laskar FPI di tangkap polisi karena laporan bandar narkoba setelah barang terlarangnya di razia

banner ads
Aziz Yanuar dari Pusat Asasi Muslim Indonesia (PUSHAMI) mengungkap perihal penangkapan empat anggota Front Pembela Islam (FPI) di Bekasi. Mereka dijemput paksa petugas kepolisian sehari pasca melakukan tangkap tangan pengedar obat terlarang di bilangan Jati Bening, Pondok Gede, Jakarta Timur pada Rabu (27/12/2017) malam.

“FPI mendapat laporan dari masyarakat tentang beredarnya obat keras Daftar G yang meresahkan masyarakat dan menyebabkan banyaknya aksi tawuran serta kriminalitas yang dilakukan anak-anak muda di Pondok Gede, Rabu (27/12/2017) siang. FPI dan LPI Pondok Gede langsung meminta bantuan Muspika Kecamatan yang terdiri dari TNI dan Polri untuk mengamankan obat-obatan tersebut,” kata Aziz melalui rilisnya kepada Kiblat.net pada Ahad (31/12/2017).

Ia mengatakan, dari lokasi tersebut didapat barang bukti ratusan butir obat keras Daftar G yang terdiri dari berbagai macam jenis pil lexotan obat keras dari Dextro, Tramadhol, Exzimer dan lain sebagainya. Termasuk obat anak-anak yang sudah kedaluarsa. “FPI yang melakukan tangkap tangan menyerahkan proses hukumnya kepada aparat keamanan,” tambahnya.

Namun ironisnya, kata dia, sehari pasca tangkap tangan pengedar obat keras tersebut, empat orang anggota FPI justru dijemput paksa aparat kepolisian tanpa didahului surat pemanggilan resmi pada keesokan harinya, Kamis (28/12/2017). Mereka adalah, Boy Giandra, Syafii Alwi, Roni Herlambang dan Saiman.

“Dari empat orang anggota FPI tersebut, ketiganya dibebaskan pada hari Kamis dan Jumat. Namun, satu orang anggota FPI, Boy Giandra hingga kini justru ditahan dan dikenakan pasal 170 dan 335 ayat 1 tentang kekerasan dan pemaksaan dengan ancaman 5 tahun pidana. Hal itu atas pengaduan/pelaporan pihak pemilik toko obat,” kata Aziz.

Aziz, yang saat ini menjadi kuasa hukum FPI, mengaku sangat menyayangkan hal itu. “Ironis, seorang warga yang peduli akan bahaya narkoba dan melakukan tangkap tangan justru ditahan atas laporan si pelaku/pengedar narkoba,” ujarnya.
Ia kemudian menjelaskan aturan dalam KUHAP pasal 111, di mana dalam hal tertangkap tangan setiap orang mempunyai wewenang dalam tugas ketertiban, ketentraman dan keamanan umum wajib menangkap tersangka guna diserahkan berserta atau tanpa barang bukti kepada penyelidik atau penyidik.

“Bila perkara ini didiamkan, akan menjadi preseden buruk ke depannya. Sebab bila ada pelaku kriminal, seperti pengedar narkoba, atau maling yang mencuri di rumah Anda, kemudian Anda melakukan tangkap tangan, justru si maling atau pengedar narkoba bisa menuntut anda dengan pasal-pasal karet seperti perbuatan tidak menyenangkan dan lain-lain,” katanya memisalkan.

Sumber kiblat

Tidak ada komentar