Header Ads

3 tangga mujahadah

banner ads
Manjaniq.com - Seseorang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan. Ini adalah hal yang telah diketahui semua khalayak dan termaktub dalam sebuah hadits mutawatir
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya…” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)

Dalam segala hal entah itu berupa muamalah ataupun ibadah. Juga dalam sebuah perjuangan memperjuangkan izzah Islam. Urusan niat memang sangat riskan dan harus ekstra hati-hati menjaganya. Ketika niat telah lurus maka, seorang mujahid pasti ingin mendapatkan kemuliaan dan derajat yang tinggi di sisi Rabb-Nya.

Derajat yang tinggi itu dapat diperoleh jika seorang mujahid mampu menapaki setiap tangga-tangga mujahadah yang ada. Setiap tangga yang ia lewati berupa ujian dari Allah. Semakin berat ujian di setiap tangga maka semakin besar pahala yang ia dapatkan. Sebagaimana sabda Rasul yang diriwayatkan Imam Tirmidzi bahwa ketika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan mengujinya dengan ujian padanya.

Tangga-Tangga Mujahadah

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Sesungguhnya besar balasan (pahala) itu bersama besarnya bala’ (ujian,kesulitan), dan jika Allah mencintai suatu kaum, Dia mendatangkan ujian (bala’) kepada kaum tersebut. Barang siapa ridho (terhadap ujian bala) maka baginya keridhoan (Nya), dan barang siapa yang marah (murka, lawan dari ridho) maka baginya kemurkaan (Nya). (HR Imam Tirmidzi, syaikh Al-Albani:Hasan Shahih)
Perjalanan menuju derajat yang tinggi di sisi-Nya akan dihiasi berbagai ujian. Setiap tangga yang dinaiki oleh seorang mujahid berbeda dengan tangga yang ditapaki orang lain. 

Tanga-tangga mujahadah itu sesuai dengan tingkat keimanan dan keseriusannya dalam perjuangan. Jadi, keniscayaan akan adanya ujian di setiap tangga perjuangan haruslah disadari mulai detik ini. Jika seseorang telah menyadari bahwa semakin jauh dia melangkah maka akan semakin berat ujiannya, minimal dia telah bersiap diri secara mental untuk menghadapi itu semuanya.

Sebagaimana yang dicontohkan salah seorang shahabiyah yang syahid pertama kali, Sumayyah binti Khayyat. Ketika ia disiksa karena beriman pada apa yang dibawa Rasulullah, ia tetap tegar dan tidak mundur selangkah pun. Mengapa shahabiyah mulia ini bisa setegar itu? Mengapa ia mampu menapaki tangga-tangga mujahadah tanpa ada ada keraguan? Karena ia yakin bahwa semua yang menimpa dirinya adalah bentuk kesengajaan dari Allah untuk menguji keimanannya. Maka marilah kesadaran itu sedikit demi sedikit kita tumbuhkan.

Namun, terkadang ada sebuah contoh “amila qolil wa ujiro katsir”, seseorang yang seolah-olah belum begitu banyak menapaki tangga-tangga mujahadah dan belum banyak amalannya kemudian gugur sebagai syuhada. Hal ini adalah sebuah kasus khusus dimana Allah Maha Kuasa memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Jumlah mayoritas yang menjadi arus utama penempuh jalan penegakan Islam melalui manhaj jihad tetap-lah mereka yang telah lama mengarungi tangga menanjak itu. Ketika ia mampu bersabar di atasnya, istiqomah didalamnya, maka Allah akan melihat bukti kesungguhan dari hamba-Nya dan Dia akan mengaruniakan kepadanya derajat yang tinggi sebagai syuhada.

Ilmu , Sabar dan Istiqomah

Seseorang akan mampu melihat sesuatu yang haq jika dirinya telah dipenuhi dengan ilmu. Tanpa ilmu, ia tidak akan mampu menemukan tujuan hidup seorang manusia sebenarnya, tidak mengenal Allah dan kewajibannya sebagai hamba-Nya. 

Dengan ilmu pula ia dapat mengetahui larangan-larangan-Nya. Bagaimana ia bisa menjadi orang yang berderajat tinggi di sisi-Nya jika tidak berilmu? Ketika dia sudah mengetahui semuanya dengan ilmu, maka ia akan bersabar menapaki perjuangan dan tangga ujian hingga syahadah ia dapatkan.

Istiqomah dan syahadah hakiki tidak dapat diraih dengan sikap asal-asalan. Didalamnya selalu dibutuhkan ketetapan hati yang matang dan tidak goyah karena hal apapun jua. Tidak ada waktu untuk “main mata” dengan musuh Allah dengan berkompromi dengan mereka karena iming-iming dunia. 

Sungguhlah hina jika ada seorang mujahid yang menggadaikan janji-janji Allah yang nyata dengan dunia yang fana. Maka, luruskan niat, bekali diri dengan ilmu, hadirkan kesadaran akan adanya tangga-tangga mujahadah yang berisi ujian di setiap tanjakannya, bersabar dan istiqomahlah di dalamnya niscaya Allah akan mengangkat jiwa hamba ke derajat yang tinggi di sisi-nya sebagai syuhada. Wallahu a’lam bi shawab.

Penulis : Dhani El_Ashim

Editor: Arju

Diinisiasi dari majalan An-Najah Edisi 132 Muharram-Safar 1438 H/November 2016

No comments