Header Ads

Reuni 212 dalam timbangan urgensi dan persatuan umat

banner ads
Bersamaan dengan datangnya angin siklon tropis, iklim politik di Tanah Air juga mengalami pergeseran yang cukup drastis. Menjelang Pilkada serentak 2018 dan Pilpres 2019, umat Islam di Indonesia masih kebingungan dalam mencari figur ideal terkait sosok pemimpin.

Hal ini berbeda dengan momentum setahun lalu, ketika umat Islam di negeri ini berhasil dipersatukan oleh sebuah momentum Aksi Bela Islam pada 2 Desember 2016 atau yang lebih dikenal dengan “Aksi 212”. Aksi tersebut merupakan momentum istimewa dalam kamus perjuangan umat Islam Indonesia. Kasus penistaan agama oleh Ahok menjadi pemantik, hingga mendorong kesadaran umat Islam akan pentingnya politik dan kepemimpinan.

Aksi 212 kemudian bermetamorfosa menjadi “gerakan” massal yang mengusung dan membela pemikiran Islam. Ia merupakan alat perekat beberapa tokoh dan kelompok Islam. Ia menjadi motor aksi boikot atas produk atau kegiatan yang dinilai mendiskreditkan Islam. Ia juga menjelma sebagai kekuatan opini yang dengan tajam mengkritisi ketimpangan praktik hukum, politik dan ekonomi yang dijalankan pemerintah.

Namun, potensi besar yang dibawa oleh semangat 212, membuat sebagian pihak tidak senang. Mereka tidak tinggal diam. Penangkapan sejumlah tokoh yang terkait dengan gerakan 212 gencar dilakukan. Pembekuan asset, pembunuhan karakter, hingga berujung pada ancaman dan tekanan terus dilancarkan. Sehingga ketika ada cetusan ide untuk menggelar reuni alumni 212, suasana yang sama juga kembali terulang.

Di media, statemen tokoh yang berupaya mendelegitimasi reuni 212 sudah mulai ditebar, bahkan jauh hari sejak acara hendak digelar. Kapolri Tito Karnavian melayangkan tuduhan reuni 212 tidak jauh dari agenda politik 2018-2019. Menkopolhukam Wiranto menyebut reuni 212 bisa mengganggu aktivitas masyarakat, karena masyarakat dari daerah butuh biaya dan butuh waktu untuk mengikuti acara tersebut. Padahal mereka yang datang dari daerah tidak sedikitpun pernah mengemis atau membebani biaya negara.

Ada pula analisis dari seorang penulis jurnal intelijen yang menyebut bahwa reuni 212 sudah tidak ada urgensinya lagi, bahkan bisa berdampak buruk. Ia mengklaim bahwa reuni 212 telah mencemarkan kredibilitas aktivis Islam karena melakukan komersialisasi gerakan, menggerus pamor tokoh Islam kalau massa yang datang hanya sedikit, juga memboroskan keuangan negara karena untuk pengamanan perlu dilakukan operasi intelijen yang berbiaya mahal.

Meski kita meragukan dua alasan pertama yang disebutkan, tapi kita yakin bahwa pengamanan maupun upaya penggembosan dengan operasi intelijen bisa jadi sudah dilaksanakan. Rencana Presidium Alumni 212 untuk menggelar kongres sebelum reuni 212 yang mengumpulkan sejumlah ulama dan tokoh Islam di Asrama Haji Pondok Gede akhirnya terpaksa pindah tempat, karena dibatalkan sepihak oleh pengelola Asrama Haji yang berada di bawah naungan Kementerian Agama.

Yang membuat banyak pihak curiga adalah, alasan yang disebutkan pengelola bahwa tempat tak bisa dipakai karena gardu listrik kebanjiran. Walhasil, setelah diinvestigasi wartawan, ternyata tak ada masalah dengan gardu listrik Asrama Haji Pondok Gede. Apakah ini salah satu skenario yang tercakup dalam operasi intelijen berbiaya mahal? Wallahu a’lam.

Baca juga: Benarkah Banjir Jadi Alasan Penolakan Kongres 212? Ini Penelusuran Kiblatnet

Kendati demikian, umat juga harus sadar bahwa gerakan 212 masih menjadi gerakan massa yang kurang bertuan. Belum ada titik temu di sebagaian umat Islam untuk menentukan ke arah mana angin (atau badai) ini bertiup. Kondisi ini tentu mengkhawatirkan, bila suatu ketika muncul “kekuatan luar” yang memiliki kekuatan untuk mengendalikan gerakan.

Banyak pihak berupaya mendeligitimasi gerakan 212 berikut upaya untuk memelihara semangatnya. Namun, umat Islam tak boleh melupakan gairah persatuan dan ukhuwah yang telah dibangun pondasinya oleh Aksi Bela Islam 212. Upaya persatuan dan persaudaraan Muslim hendaknya menjadi agenda bersama umat Islam yang harus diwujudkan.

Kita harus membuka kembali catatan sejarah terkait upaya yang dilakukan Rasulullah SAW dalam menyatukan seluruh potensi umat. Kisah persatuan kabilah Aus dan Khazraj, persaudaraan Muhajirin dan Anshar, pakta Madinah, hingga pidato seruan persatuan dan perlindungan dari kaum Muslimin saat menaklukkan Kota Mekkah adalah guratan historis yang patut digaungkan kembali.

Dengan segala kekurangannya, umat Islam tetap memerlukan momentum-momentum khusus yang menjadi titik awal agar bandul perubahan terus bergerak. Reuni 212 ini mungkin bisa menjadi salah satu momen untuk merawat ingatan bahwa umat Islam Indonesia pernah bersatu-padu membela Kitab suci Al-Quran dari tindakan penistaan.

Di sisi lain, umat juga harus dibangkitkan kepeduliannya terhadap realitas dan kebutuhan masyarakat sekitar. Reuni 212 ini juga harus menggerakkan perhatian umat akan kesulitan yang melanda saudara seiman akibat bencana alam yang akhir-akhir ini melanda sebagian wilayah Tanah Air. Sebab, sejatinya nilai-nilai dan semangat Islam selalu mengajak umat manusia agar terus menerus berbuat kebaikan.

Sumber kiblat

No comments