Header Ads

Surat cinta untuk penggiat harokah

banner ads
 Sesungguhnya jihad adalah puncak amalan tertinggi di Islam. Sebagaimana hal itu disebutkan oleh Rasulullah SAW di dalam haditsnya, beliau bersabda :

أَلَا أُخْبِرُكَ بِرَأْسِ الْأَمْرِ وَعَمُودِهِ وَذُرْوَةِ سَنَامِهِ ؟ ” ، قُلْتُ : بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ ؛ قَالَ : ” رَأْسُ الْأَمْرِ الْإِسْلَامُ ، وَعَمُودُهُ الصَّلَاةُ ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ

Artinya, “Maukah engkau aku beritahu pokok segala urusan, tiangnya dan puncak tertingginya? Saya menjawab, “Iya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Pokok segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah sholat dan puncak amalan tertinggi adalah jihad..” (HR Ahmad)

Sirah Nabi Muhammad SAW adalah bukti sahih tentang syiar islam (baca;jihad) yang senantiasa ada hingga akhir zaman. Rasulullah SAW memimpin langsung sebanyak 27 peperangan. Di samping itu beliau juga mengirimkan sebanyak 27 ekspedisi. Jika diambil rata-rata maka sejak hijrahnya Nabi Muhammad SAW ke Madinah, maka ada sekitar 7 kali operasi jihad per tahunnya.

Di samping itu, kita juga bisa menyaksikan begitu banyaknya nash-nash, baik itu ayat, hadits maupun perkataan sahabat tentang keutamaan jihad dengan harta dan jiwa, keutamaan ribath (berjaga di jalan Allah), keutamaan mati syahid. Hal yang sama juga bisa kita dapatkan dari perkataan para tabi’in, tabiut tabi’in dari kalangan ulama Islam dan para komandan-komandan yang agung. Sebaliknya, kita juga mendapati larangan meninggalkan jihad, sibuk dengan kehidupan dunia, bermalas-malasan dalam melawan musuh dan kabur dari medan perang.

Di dalam Al-Quran kita bisa mendapati sekitar 70 ayat Al-Quran yang berbicara tentang jihad dan nafiir (keluar berperang di jalan Allah). Di antaranya termaktub dalam firman-Nya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya, “Hai orang-orang yang beriman bertakwalahkalian kepada Allah dan carilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Dan berjihadlah kalian di jalan Allah agar kalian beruntung.” (Al Maidah 35)

Firman lainnya :

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوْا وَّنَصَرُوا أُوْلَئِكَ هُمُ الْـمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَّهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

Artinya, “Dan orang-orang yang beriman, berhijrah, berjihad di jalan Allah dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada muhajirin) mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia.” (QS Al Anfal : 74)

Sementara di dalam hadits Rasulullah SAW bersabda :

ما اغبرت قدما عبد في سبيل الله فتمسه النار

Artinya, “Tidak akan disentuh oleh api neraka kedua kaki seorang hamba yang berdebu di jalan Allah.”  (HR Bukhori)

Di hadits lainnya beliau SAW juga bersabda :

كل ميت يختم على عمله إلا المرابط في سبيل الله فإنه ينمي له عمله إلى يوم القيامة، ويأمن من فتنة القبر

Artinya, “Setiap orang yang meninggal, maka amalannya terhenti. Kecuali orang yang ribath di jalan Allah. Karena amalannya akan senantiasa tumbuh hingga hari kiamat dan dia diselematkan dari azab kubur.”  (HR Tirmidzi)

رباط ليلة في سبيل الله أحب إلي من موافقة ليلة القدر بجوار الحجر الأسود

Dan diriwayatkan dari Abu Hurairoh, Rasulullah SAW bersabda, “Ribath satu malam di jalan Allah lebih aku cintai daripada bertemu malam lailatul qadar di samping Hajar Aswad.” (HR Ibnu Hibban)

Karena agungnya posisi jihad, maka sebagian sahabat menganggapnya sebagai kewajiban besar dalam agama ini. Rasulullah SAW, para khulafaur rasyidin dan para sahabatnya berkontribusi dalam jihad dengan jiwa, harta dan pikiran. Mereka turut serta dalam mengangkat panji jihad, memberikan arahan, memantau pasukan berikut komandannya, saling menasehati di atas kebenaran dan menekankan agar menerapkan tuntunan syariat terhadap musuh saat berperang. Hal ini merupakan sesuatu yang baru dalam dunia perang.

Para ulama juga tidak ketinggalan dalam mengambil peran dalam jihad. Mereka, baik ulama salaf maupun kholaf menulis berbagai macam tulisan khusus tentang tema jihad, atau mereka memasukkan pembahasan jihad dalam buku-buku hadits, fikih, akidah, sirah dan lain sebagainya. Bahkan, para penyair juga turut serta dengan menggubah syair-syair penyemangat guna menorehkan jejak mereka dalam perjalanan jihad sepanjang sejarah.

Tulisan-tulisan para ulama mampu menjaga jihad dari pemahaman yang menyimpang. Karya-karya mereka juga mampu menjaga praktek jihad dari ghuluw, sebagaimana karya mereka juga menjaga jihad agar tidak ditinggalkan oleh umat. Hal ini yang tidak kita dapati pada akhir-akhir ini, ketika pembicaraan tentang jihad sudah mulai diintervensi oleh negara-negara yang ingin memisahkan identitas agama dari tabiatnya. Oleh karenanya muncullah sikap ifrath (ghuluw) dan tafrith (meremehkan) dalam praktek jihad.

Di dalam syariat Islam, Jihad memiliki tujuan, di antaranya, melawan agresi musuh, membantu orang-orang yang terzalimi, menggentarkan musuh, mencegah timbulnya fitnah, menjaga dakwah dari gangguan, mengembangkan pengaruh Islam, meninggikan kalimat Allah. Jihad di sini mencakup jihad melawan orang kafir, orang murtad, perompak, bughot dan orang-orang yang keluar dari ketaatan khalifah, setelah ditegakkannya hujjah atas mereka.

Maka, pembagian jihad ke jihad defensif dan ofensif tidak memberikan dampak yang begitu besar, karena ‘pasar’ jihad akan senantiasa ada, kewajibannya terpatri di jiwa kaum muslimin agar mereka menolong agama mereka dan sesama kaum muslimin. Lebih dari itu, agar dengan jihad mereka menebarkan agama Allah dan meninggikan kalimat-Nya di tengah manusia se-seantero bumi.

Di dalam Islam jihad adalah perang yang faktor pendorong dan tujuannya sama-sama mulia. Dalam prakteknya penuh dengan adab meskipun terkadang harus menumpahkan darah dan menghancurkan beberapa bangunan, yang tidak bisa terelakkan sebagaimana lazimnya sebuah perang.

Dalil-dalil syar’i mengikat jihad dengan kata fi sabilillah (di jalan Allah) bukan karena fanatisme kebangsaan atau suku, juga bukan karena kesombongan jahiliyah atau karena tujuan duniawi. Walaupun sebagian ulama memperluas makna jihad, sehingga memasukkan jihad nafs (jihad melawan hawa nafsu), tapi yang kami maksud di sini lebih spesifik kepada jihad dalam melawan musuh-musuh agama.

Jihad derajatnya lebih tinggi dari seluruh amalan sunnah, kewajibannya berada setelah rukun Islam. Jihad masuk dalam kategori amar makruf nahi munkar. Pensyariatan jihad melewati 4 tahapan, menyesuaikan dengan kondisi kaum muslimin. Awalnya diperintahkan untuk sabar dan tidak melawan, kemudian diizinkan untuk berjihad, kemudian wajib berjihad membela jiwa dan terakhir Allah perintahkan untuk memerangi orang kafir secara kaffah, hingga agama ini menjadi milik Allah semata, hingga orang beriman tidak lagi mendapat gangguan, kehormatan, harta dan negeri mereka tidak lagi ternodai. Oleh karena itu jihad erat kaitannya dengan menjaga maqoshid syariat.

Karena jihad memiliki dampak yang positif bagi umat, maka para orientalis, munafikin, penggembos perjuangan dan orang-orang yang abai terhadap jihad, mereka memusuhi jihad dengan cara mencemarkan, menyelewengkan makna jihad, menuduh dan membuat klaim dusta terhadap jihad. Sehingga mereka memindahkan kalimat jihad itu dari yang semula ibadah yang paling mulia dan luhur menjadi sesuatu yang hina, penuh dengan syahwat dan kepentingan pribadi.

Kemudian negara-negara dunia juga melarang (baca:mengutuk) jihad dalam konfrensi-konfrensi yang mereka adakan. Sehingga jihad menjadi sebuah tindak kriminal jika dilakukan oleh umat Islam. Sebaliknya, peperangan menjadi sah dan legal jika dilakukan oleh orang kafir terhadap umat Islam. Sehingga jadilah umat kita sasaran para agresor, tanpa mereka memiliki hak untuk melawan dan membalas, padahal insting hewan saja akan melakukan perlawanan bila diserang.

Para ahli fikih telah menyimpulkan dari teks-teks syar’i bahwa ada beberapa kondisi jihad menjadi fardhu ain. Ketika musuh menyerang negeri kaum muslimin, jika bertemunya dua pasukan, ketika ada mobilisasi untuk jihad dan ketika kaum muslimin jumlahnya sedikit melawa musuh yang berjumlah besar.

Pasca runtuhnya khilafah Islamiyah dan keengganan ataupun ketidakmampuan negara-negara Islam untuk melaksanakan jihad, muncullah tokoh-tokoh, jamaah-jamaah dan harokah-harokah yang mengambil jihad sebagai jalan. Bahkan harokah-harokah jihad ini mendominasi komposisi amal Islami secara umum baik pada abad yang lalu, maupun hari ini.

Pembicaraan terhadap harokah-harokah jihad juga menjadi tema penting dalam pertemuan-pertemuan regional maupun internasional. Musuh-musuh-pun kemudian menjadikan (perang terhadap jihad) sebagai alat untuk menghambat proyek-proyek dakwah, para penyeru kepada kebaikan dijebloskan ke penjara dan mereka juga melancarkan perang media agar umat tidak mendekat dari agama.

Bisa saja niat jihad yang baik, namun tidak terkawal dengan baik, akan menimbulkan banyak masalah dan problem. Oleh karena itu, kepada setiap aktivis yang jujur dalam meninggikan jihad, haruslah mengambil peran dalam membantu jihad ini. Di antara upaya membantu jihad adalah dengan memberikan nasehat dan evaluasi.

Akan tetapi, sebelum memberi evaluasi dan memberikan nasehat terhadap praktek jihad modern yang terjadi, perlu kita perhatikan hal-hal berikut ini.

Kita tidak sedang mendiskusikan jihad sebagai sebuah syariat, hukumnya fardhu ain atau fardhu kifayah tergnatung kondisi, posisi jihad sungguhlah agung sebagaimana telah kita sebut di atas, dan hal ini tidak perlu diperdebatkan lagi.Mengkritik, mengevaluasi sebagian harokah jihad, atau sebagian pilihan-pilihan amal mereka, bukan berarti menggugurkan keutamaan mereka, tidak pula menafikan dampak positif yag mereka lakukan.Perlu kami tegaskan bahwa kami menentang seluruh bentuk permusuhan terhadap umat Islam dan agresi ke negeri mereka. Kami meyakini bahwa melawan musuh yang menyerang negeri kaum muslimin adalah hal yang disyariatkan.Ketika kami mengevaluasi harokah jihad bukan berarti satu barisan bersama bersama para orientalis dan munafik yang senantiasa memusuhi perjuangan Islam, baik denga cara damai maupun dengan jalan jihad.

Atas dasar poin-poin di atas, evaluasi dan kritikan yang kami lakukan adalah bentuk kecintaan terhadap umat dan bentuk kasih sayang terhadap generasi terpilih umat yang sedang berjihad dan melawan musuh. Dan kami berdo’a kepada Allah agar kami tidak pernah berada di barisan orang-orang yang memusuhi agama. Tujuan kami hanyalah membuka pintu evaluasi semoga menjadi jalan untuk membuang keburukan dan mewujudkan persatuan.

Poin-poin yang perlu dievaluasi dari harokah jihad secara umum adalah :

Sangat sedikit dari harokah-harokah jihad ini yang memiliki ulama atau lemahnya koordinasi dengan ulama yang mengetahui kondisi real suatu negeri.Lemahnya sisi politik harokah-harokah jihad yang membuat mereka tidak siap terlibat dalam negoisasi-negoisasi dan seringnya mereka menjadi objek dari makar musuh.Tidak adanya koordinasi antara kelompok-kelompok jihad bahkan dalam kondisi yang terdesak sekalipun. Kondisi darurat mana yang lebih besar dari apa yang terjadi di Aleppo, ketika Aleppo dibombardir dari berbagai sisi. Padahal di sana ada belasan faksi jihad, namun mereka tidak bersatu malah sibuk satu sama lain.Mudahnya disusupi secara intelijen, politik maupun pemikiran. Contohnya sudah sangat banyak, apalagi bencana dan ujian yang ditimbulkan oleh penyusupan tersebut yang berupa tersulutnya perang saudara atau perpecahan.Kendurnya protap keamanan, lemahnya kehati-hatian dan seringkali merasa aman, sehingga musuh mampu membunuh puluhan komandan dalam satu serangan.Mudahnya beberapa harokah jihad disetir oleh kekuatan regional maupun internasional untuk kepentingan mereka tanpa adanya manfaat yang berarti bagi mujahidin.Majhulnya beberapa nama yang merupakan representasi dari harokah jihad, baik dari segi kapasitas ilmu agama maupun kapasitas kemampuan memimpin umat.Bermudah-mudahan dalam menumpahkan darah yang haram untuk ditumpahkan, baik dari faksi lain maupun warga sipil.Melakukan penghancuran dan pembunuhan di dalam negeri kaum muslimin dengan alasan rusaknya rezim, padahal dalam kajian dalil maupun maslahat hal tersebut tidak memiliki alasan yang dibenarkan. Sehingga jihad terselewengkan dari tujuan utamanya dan jihad mendapat citra buruk di mata masyarakat awam.Sikap-sikap harokah jihad terhadap proyek-proyek persatuan dan koordinasi menimbulkan pertanyaan akan kesungguhan mereka dalam berkomitmen terhadap syariat.

Poin-poin di atas kami sampaikan dilandasi syariat dan asas persaudaraan. Agar nantinya terbit di umat ini fajar baru dalam melaksanakan amal jihad. Agar musuh tidak menjadikan kita senjata untuk menghantam muslim lain. Seringkali umat kita menghadapi perselisihan orang-orang yang sebenarnya memiliki tujuan yang sama, padahal di saat yang sama musuh menyerang mereka dari satu busur, baik itu dengan senjata, keputusan-keputusan maupun syubhat-syubhat yang ditebar.

Pada akhirnya, kita harus menyadari bahwa harokah jihad itu adalah kumpulan sekelompok orang yang sedang berusaha meninggikan kalimat Allah, mereka manusia-manusia yang tidak luput dari kesalahan. Di sisi lain mereka juga mendapat serangan dari musuh bari berbagai lini, baik serangan miiter, media dan politik. Oleh karena itu di antara kewajiban kita bersama saling nasehat menasehati dalam ketaatan, tanpa meninggalkan hak persaudaraan muslim. Wallahu a’lam bissowab.



Diolah oleh Arju Khoiro dari Editorial majalah Al-Bayan edisi 359, dengan judul “Aina Ma’qiuna min Dzirwatis Sanam”

Sumber kiblat

No comments