Header Ads

Penjelasan singkat akhir permusuhan Islam vs kekufuran

banner ads
Dalam kitab Dalail an-Nubuwah, Imam al-Baihaqi mencatat sebuah riwayat dari Ummul Mukminin, Shafiyah binti Huyay. Dalam riwayat tersebut Shafiyah menuturkan kisah masa kecilnya yang tumbuh berkembang di tengah-tengah keluarga Yahudi. “Saya adalah anak yang paling disayang oleh bapak dan paman saya, Abu Yasir.” Ungkap Shafiyah mengawali ceritanya, “Tidak pernah aku bertemu dengan keduanya—walaupun mereka sedang bersama dengan anak-anaknya—melainkan keduanya membawaku bersamanya.

Shafiyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan, “Maka ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah, dan singgah di Quba, di rumah kediaman ‘Amr bin ‘Auf, pergilah bapakku Huyay bin Akhthab dan pamanku Abu Yasir di waktu pagi buta, akan tetapi mereka berdua belum pulang meski matahari terbenam. Tidak lama kemudian, mereka datang dalam kondisi lelah, malas, dan lemas.

Mereka berdua berjalan dengan pelan. Saya menyambut mereka dengan ceria, seperti biasanya. Tapi, demi Allah, tidak seorang pun diantara mereka berdua yang menoleh ke arahku, ditambah lagi raut wajah mereka berdua tampak sedih. Tiba-tiba saya mendengar paman saya, Abu Yasir, berkata kepada bapak saya, Huyay bin Akhthab,

“Apakah itu orangnya?”

“Ya, betul,” jawab ayah saya.

“Apa kamu mengenalnya?” lanjut paman.

“Ya,” sahut ayah.

“Bagaimana pendapatmu tentang dia?” tanya paman.

“Saya akan memusuhinya selama saya hidup,” kata ayah. (Dalailun Nubuwah, 2/533)

Riwayat di atas menggambarkan sikap permusuhan Yahudi sejak pertama kali risalah Islam datang. Jiwa mereka tidak pernah tenang dengan kehadiran Islam. Prinsipnya, selama hayat di kandung badan, komitmen untuk memusuhi umat Islam harus tetap dipegang. Bagaimana pun caranya dan apapun wasilahnya harus ditempuh asalkan Islam tidak tegak di muka bumi ini.

Yahudi hanyalah salah satu kelompok beragama yang memusuhi Islam. Selain mereka, permusuhan terhadap umat Islam juga banyak muncul dari orang-orang musyrik, Nasrani, Munafik dan penganut agama-agama kufur lainnya. Bahkan Allah Ta’ala mengingatkan bahwa permusuhan tidak pernah berhenti memusuhi umat Islam, firman-Nya:

لا يَأْلُونَكُمْ خَبَالا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ

“…Mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudaratan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi…” (Ali Imran: 118)

Ya, sejatinya orang-orang kafir tidak pernah ridha jika Islam menang dan berkuasa menerapkan syariatnya. Sejak pertama kali risalah Islam datang, permusuhan itu terlihat dari sikap orang-orang kafir Quraisy yang selalu mengintimidasi para sahabat. Permusuhan tersebut berujung hingga terjadinya serangkaian perang. Mulai dari Perang Badar, Perang Uhud hingga berakhir dengan Fathu Makkah.

Berikutnya, ketika risalah Islam mulai mengetuk hati penduduk Madinah, permusuhan yang lebih parah muncul juga dari kalangan Yahudi. Permusuhan itu dilancarkan dengan berbagai macam cara, hingga akhirnya terjadi perlawanan hingga berujung pada perang Bani Qainuqa’, Bani Nadzir, Perang Bani Qaraizhah hingga penaklukkan benteng Khaibar.

Permusuhan salanjutnya muncul pula dari orang-orang Nasrani yang ditandai dengan terjadinya Perang di wilayah Tabuk. Lalu kebencian orang-orang Majusi ketika risalah Islam masuk ke negeri Persia sampai akhirnya negeri itu berhasil ditaklukkan sepenuhnya oleh umat Islam pada masa Umar bin Khattab.

Kebencian dan permusuhan itu terus bermunculan seiring berkembangnya dakwah Islam. Tidak sedikit yang akhirnya berujung kepada peperangan. Maka tidak heran jika lembaran sejarah Islam dipenuhi dengan peristiwa perang. Bahkan hingga hari ini pun, peperangan tersebut masih berlanjut dengan berbagai macam model dan cara yang dimainkan oleh orang-orang kafir. Hari ini, mayoritas umat Islam cukup menyadari hal itu. Lalu sebagian orang mungkin heran dan bertanya-tanya, mengapa umat Islam harus selalu menghadapi peperangan demi peperangan? Kapankah peperangan itu berakhir? Apakah tidak mungkin jika seluruh umat beragama itu bersatu dan hidup dalam keadaan damai?

Perang Islam Vs Kafir, Kapan Selesainya?

Pertarungan antara ahlul iman melawan para pengusung kekufuran sejatinya telah dimulai sejak pertama kali manusia diciptakan. Iblis sebagai simbol kekufuran, semenjak diusirnya dari surga, dengan lantang memberi ultimatum untuk tetap memusuhi Nabi Adam ‘alaihissalam dan keturunannya. Dalam Al-Quran Allah ta’ala mengingatkan Nabi Adam‘alaihissalam agar berhati-hati dengan godaan setan dan menyebutkannya sebagai musuh yang harus diwaspadai.

فَقُلْنَا يَا آدَمُ إِنَّ هَذَا عَدُوٌّ لَكَ وَلِزَوْجِكَ فَلا يُخْرِجَنَّكُمَا مِنَ الْجَنَّةِ فَتَشْقَى

“Maka kami berkata: “Hai Adam, sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka,” (QS. Thaha: 117)

Permusuhan Iblis terhadap manusia terus berlanjut hingga dia berhasil menyebabkan Nabi Adam diturunkan ke muka bumi. Setelah itu, medan pertarungan pun berpindah ke muka bumi. Allah ta’ala menyebutkan, “Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan”. (Al-Baqarah: 36)

Maknanya, Nabi Adam dan keturunannya adalah musuh bagi Iblis beserta keturunannya. Dapat dipahami bahwa yang disebut sebagai musuh ia akan senantiasa berupaya untuk menjatuhkan lawannya. Menimpakan keburukan kepada musuhnya dengan segalam macam cara dan menghalanginya dari segala macam sarana untuk mendapatkan kebaikan.

Karena itulah, perang antara kebenaran dan kebathilan adalah perang yang tidak ada ujungnya. Sejak pertama kali manusia menempati permukaan bumi ini. Keduanya akan terus bermusuhan, saling mengalahkan, saling menguasai dan saling menundukkan. Sehingga dunia ini hanya ada di antara dua kondisi; dikendalikan oleh aturan Islam sebagai simbol kebenaran dan kebathilan tersingkirkan, bertekuk lutut dibawah al-Haq atau dunia ini dikendalikan oleh kebathilan untuk sementara waktu. Karena sunnatullah menegaskan, kebatilan pasti lenyap dan kebenaran akan tegak.

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

“Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (QS. al-Isra’: 18)

Perlu dipahami bahwa penaklukkan Baitul Maqdis, lalu dilanjutkan dengan pembunuhan Dajjal, dimusnahkan orang-orang yahudi, pertempuran Marj Dabiq, mengalahkan jutaan pasukan salib dan penaklukkan Kostantinopel, lalu penghancuran Ya’juj dan Ma’juj beserta para penyembah patung, semuanya adalah rangkaian peristiwa besar pertempuran antara ahlul haq melawan ahlul batil. Pertarungan terakhir itu disebut oleh para ulama dengan pertempuran Malhamah al-Kubra. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Kalian akan perangi jazirah Arab sehingga Allah menangkan kalian atasnya. Kemudian (kalian perangi) Persia sehingga Allah menangkan kalian atasnya. Kemudian kalian perangi Ruum sehingga Allah menangkan kalian atasnya. Kemudian kalian perangi Dajjal sehingga Allah menangkan kalian atasnya.” (HR Muslim)
Bagaimana dengan Seruan Perdamaian Antar Agama?

Kebenaran dan kebathilan tidak pernah bisa bertemu. Keduanya akan selalu berlawanan. Karena itu, siapa pun yang memahami hakikat peperangan ini, maka ia akan meyakini bahwa kampanye perdamaian atas semua golongan agama adalah usaha yang sia-sia. Usaha yang tidak mungkin terjadi. Sebab, sudah menjadi sunnah ilahi bahwa kebatilan itu tidak bisa hidup bersama dengan ahlul haq. Lalu apa yang diinginkan dari seruan damai tersebut?

Seruan damai tidak lain hanya upaya untuk memalingkan umat Islam untuk meninggalkan prinsip-prinsip agamanya, menjauhkan kaum muslimin dari medan pertarungan, orang-orang muslim gampang dijajah dan dirampas hak-hak dan kesucian mereka. Hasilnya mereka mampu mempengaruhi umat Islam untuk memberi loyalitasnya kepada orang-orang kafir.

Pertanyaannya, bagiamana mungkin umat Islam bisa hidup damai dengan orang-orang yang sebutkan oleh Allah ta’ala:

وَلا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا

“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup.” (QS. Al-Baqarah: 217)

Keadaan yang sama juga Allah sebutkan dalam ayat lain:

“…Mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudaratan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi…” (Ali Imran: 118)

Demikianlah karakter para pembela kebatilan. Mereka itu tidak pernah senang melihat Islam tegak dengan sempurna. Hati mereka penuh dengan kedengkian dan tidak ada yang dapat mengobati kedengkiannya tersebut kecuali umat Islam meninggalkan agamanya. Karena itu , Allah ta’ala mengingatkan:

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka…” (QS. Al-Baqarah: 120)

Ketika menafsirkan ayat di atas, Ibnu Jarir At-Tabari berkata, “Makna ayat tersebut ialah orang-orang Yahudi dan Nasrani itu, hai Muhammad, selamanya tidak akan senang kepadamu. Karena itu, tinggalkanlah upaya untuk membuat mereka senang dan suka kepadamu. Sekarang hadapkanlah dirimu untuk memohon ridha Allah karena engkau telah mengajak mereka untuk mengikuti kebenaran yang telah diturunkan oleh Allah kepadamu.” (Tafsir At-Tabari, 2/563)

Maka tidak mungkin perdamaian antara orang-orang beriman dengan orang-orang kafir akan terjadi dengan sempurna. Walaupun terkadang dalam beberapa kasus, perlu ada perjanjian yang diikat dalam waktu sementara, atau di sana ada perdamaian yang diinginkan untuk membangun kemaslahatan bersama. Namun demikian, mayoritas ulama menuliskan bahwa perdamaian antar kaum muslimin dengan orang-orang kafir tidak pernah terjadi melebih masa dari dua puluh tahun. Karena itu, mereka berpendapat dua puluh tahun itu adalah waktu yang paling lama untuk mengadakan perjanjian dengan orang-orang kafir. Wallahu a’lam bis shawab!


Sumber kiblat

No comments