Header Ads

Framing Media Terhadap Dunia Islam

banner ads
Manjaniq.com - Sejak peristiwa 9/11 yang memunculkan “perang melawan teror”, hubungan antara terorisme dan Islam telah menimbulkan tantangan bagi para jurnalis di Barat. “Melampaui stereotip, untuk membuka informasi yang mengungkapkan kebenaran” adalah salah satu dari isu yang diangkat dalam buku ini.

Buku “Media Framing of the Muslim World” terdiri dari delapan bab, ditulis oleh tiga akademisi dengan pengalaman nyata dalam dunia jurnalisme dan pelaporan: Halim Rane, (Associate Professor di Griffith University, konsentrasi Islamic Studies, Australia), Jacqui Ewart (Associate Professor Jurnalistik dan Studi Media di Griffith University), dan John Martinkus (Dosen Jurnalisme, Media dan Komunikasi di University of Tasmania, Australia).

Siapa pun yang tertarik dengan representasi media dalam kasus “perang melawan teror” tidak akan kecewa membaca buku ini.

Buku ini dibuka dengan mengeksplorasi isu-isu sentral mengenai representasi Muslim dan Islam dan aspek utama produksi berita, termasuk nilai berita, pembingkaian atau framing dan fungsi media sebagai agenda setting.

Bab Pengenalan mencakup definisi yang sensitif tentang istilah kunci yaitu “Barat” dan “Islam”, yang mengakui pentingnya istilah-istilah tersebut namun dengan hati-hati, untuk menghindari pergeseran makna, sekaligus memberi pembaca pengenalan singkat tentang konsep orientalisme dan “benturan peradaban “dan menyediakan beberapa contoh kontekstual dari kedua pendekatan tersebut dalam kaitannya dengan fenomena Islamofobia.

Bab berikutnya mengeksplorasi keragaman dunia Muslim dan maraknya pemikiran anti-Muslim di Barat, yang sejauh ini telah diwakili oleh media massa. Bab-bab selanjutnya menyoroti berbagai aspek framing media massa terhadap dunia Muslim melalui berbagai studi kasus termasuk investigasi konflik, pencari suaka, tersangka terorisme, Arab Spring dan peringatan 11 September.

Meskipun memuat serangkaian sumber teoritis, analitis dan studi kasus yang mengesankan, gaya bahasa buku ini sangat mudah dicerna dan mudah dipahami. Buku ini sebagian besar terdiri dari ringkasan atau sintesis dari penelitian dan penerapan lensa teoritis dari bidang studi media, sosiologi, studi perdamaian dan konflik dan studi wilayah Timur Tengah.

Bab 6, “The Arab Spring”, menempatkan konteks konflik baru-baru ini di wilayah ini dan bagaimana Arab Spring ini pertama kali dimunculkan di media. Pada awal mula Arab Spring di musim dingin tahun 2011/2012, gerakan tersebut “diberitakan sebagai gerakan untuk kebebasan dan demokrasi dan bukan revolusi Islam.

Mereka melakukannya tanpa kekerasan dan mereka bukan jihadis”. Ini, menurut penulis, merupakan bukti perubahan wacana di seluruh dunia Muslim: “Pergerakan ini lebih inklusif, terdiri dari Muslim dan Kristen serta Islamis dan sekuler” (halaman 113). Kesimpulan yang gugur ketika Arab Spring adalah bahwa hanya gerakan Islamis yang memiliki kekuatan untuk memobilisasi banyak pengikut untuk sebuah pemberontakan. Karakter demokratis pemberontakan banyak didukung oleh keterlibatan LSM dan kelompok hak asasi manusia.

Ketika membahas kudeta militer Jenderal As Sisi di Mesir, penulis mencatat bahwa “perhatian pemirsa berakar kuat pada kekhawatiran Islam dalam politik yang menunjukkan relevansi abadi antara Orientalisme dan Islamofobia” (hal.124). Orientalisme pasti berpengaruh banyak pada banyak jurnal dan berita Barat, namun salah satu karakteristik mencolok media Barat yang berurusan dengan Arab spring adalah keterbukaan umum terhadap revolusi demokratik.

Para penulis menunjukkan, “Dengan terpilihnya pemerintah yang berorientasi Islam pasca revolusi, media Barat berada dalam ketidakpastian, dan dukungan terhadap rezim baru tersebut menurun di tengah meningkatnya kekacauan demonstrasi yang baru” (hal 134). Artinya, penulis menganggap bahwa bukan kesalahan media Barat jika pemerintah Islam yang baru terpilih gagal menjalankan pemerintahan yang demokratis.

Bab “Moving on from 9/11” sebagian besar berfokus pada penelitian asli yang dilakukan di Australia oleh para penulis, dan mendokumentasikan kemunculan sementara dari narasi baru tentang rekonsiliasi dan kerjasama potensial antara dunia “Muslim” dan “Barat” sepuluh tahun setelah peristiwa 11 September, melengkapi diskusi penulis tentang representasi media yang lebih beragam tentang umat Islam yang muncul melalui pelaporan tentang Musim Semi Arab.

Kesimpulan keseluruhan dari penulis adalah bahwa penurunan jumlah cerita “berita buruk” tentang Muslim merupakan sebuah kemajuan, untuk isu-isu yang berkaitan dengan framing pemberitaan media tentang dunia Muslim, karena “kabar buruk akan terus menjadi fokus dari media secara umum, daripada kabar baik “(halaman 181).

Ini mungkin adalah keterbatasan utama buku ini: dengan memusatkan perhatian pada deskripsi framing yang telah ada, kurang memberi perhatian untuk membahas visi pelaporan media yang lebih transformatif yang menggugat nilai-nilai berita yang dominan dan menjadi kebiasaan media Barat.

Sumber seraamedia

Tidak ada komentar