Header Ads

“AKAR EKSTREMISME AGAMA: Memahami Doktrin Salafi Al-Wala’ wal Bara’

banner ads
THE ROOTS OF RELIGIOUS EXTREMISM

Understanding the Salafi Doctrine of Al-Wala’ wal Bara’

Buku yang berjudul THE ROOTS OF RELIGIOUS EXTREMISM: Understanding the Salafi Doctrine of Al-Wala’ wal Bara’ secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai “AKAR EKSTREMISME AGAMA: Memahami Doktrin Salafi Al-Wala’ wal Bara’”. Buku yang ditulis oleh Mohammed Bin Ali ini diterbitkan oleh   Imperial College Press, London, Inggris  pada tahun 2016.

Buku dengan ketebalan sebanyak 320 halaman ini mempunyai  ISBN 978-1783263929 untuk versi cetak sampul tebal. Buku ini merupakan volume ke-9 dari seri buku Imperial College Press Insurgency and Terrorism Series. Isi buku ini disusun menjadi 6 bab selain bagian Pengantar. Buku ini juga dilengkapi dengan  Catatan kaki, Daftar Pustaka, dan beberapa lampiran.

Mohamed Bin Ali adalah seorang Asisten Profesor di bidang Kajian Hubungan Antar Agama dalam Program Masyarakat Plural, S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Technological University (NTU), Singapura. Bidang penelitiannya meliputi yurisprudensi Islam, ideologi Islam, ekstremisme agama, hubungan antar-agama dan rehabilitasi ekstremis Muslim.

Berpengalaman dalam bahasa Arab dan pengetahuan Islam, Mohamed memperoleh gelar Bachelor of Arts (BA) dalam fikih Islam dari Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir pada tahun 2002; Master of Science (MSc) dalam Hubungan Internasional di RSIS, NTU pada tahun 2007; dan Doctor of Philosophy (PhD) dalam Studi Arab dan Islam dari University of Exeter, Inggris pada tahun 2013.

Sejak tahun 2003, Muhamed Bin Ali telah terlibat dalam program rehabilitasi tahanan yang dianggap sebagai teroris di Singapura. Ia menjadi Wakil Ketua dan salah satu konselor pada Religious Rehabilitation Group (RRG), sebuah kelompok relawan ulama Muslim yang memberikan konseling keagamaan terhadap para tahanan yang dianggap terlibat kelompok teroris.

Salah satu isu dalam pemikiran Islam kontemporer yang telah menarik perhatian banyak kalangan ilmuwan Muslim dan di dalam komunitas Muslim adalah sikap Muslim yang benar dan sesuai untuk berhubungan dengan non-Muslim.

Sumber utama kebingungan dan kontroversi berkaitan dengan hubungan ini berasal dari tuduhan bahwa umat Islam harus memberikan kecintaan dan kesetiaan mereka kepada sesama Muslim dan menolak dan menyatakan perang terhadap umat manusia lainnya yang paling akut dilihat melalui konsep Islam Al-Wala’ wal Bara’ (WB) diterjemahkan sebagai Loyalitas dan Pengingkaran, yang nampaknya menjadi pusat ideologi Salafisme modern.

Buku ini menyelidiki dinamika dan kompleksitas konsep WB dalam Salafisme modern dan bertujuan untuk memahami beragam interpretasi konsep ini; dan bagaimana Salafis modern memahami dan menerapkan konsep ini dalam pengaturan religius, sosial dan politik kontemporer. Buku ini menemukan bahwa kompleksitas, keragaman dan perselisihan seputar konsep Salafisme modern sering berkisar pada isu-isu realitas sosial, politik dan aktual saat ini.

Pentingnya buku ini terletak pada kenyataan bahwa memahami konsepsi modern Salafi tentang WB, realitas dan kompleksitasnya telah menjadi prioritas mendesak dalam kehidupan umat Islam saat ini.
Tinjauan Isi Buku

Buku ini merupakan hasil sebuah riset atau kajian yang dilakukan oleh penulis. Sebagai sebuah laporan hasil kajian ilmiah, isi buku ini disusun dalam kerangka penulisan yang mengikuti sistematika kaidah penulisan ilmiah yang lazim diikuti dalam dunia akademik. Secara ringkas isi buku ini dapat digambarkan sebagai berikut.

Latar Belakang

Penulis pada bagian Pengantar bukunya menyatakan bahwa konsep Islam Al-Wala’ wal Bara’ (WB) menjadi konsep sentral dalam ideologi Salafisme modern. Dalam kajiaannya ini penulis mendefinisikan istilah “Salafisme modern” mengacu pada kecenderungan keagamaan menuju seperangkat gagasan dan identitas. Dalam hal ini identitas dimaksudkan sebagai sebuah sistem keyakinan, gagasan, nilai dan tujuan yang merefleksikan komitmen dan kepentingan moral, sosial, dan politik  Salafi modern.

Sistem tersebut membentuk ideologi mereka tentang bagaimana dunia dan sistemnya seharusnya bekerja. Sistem keyakinan ini didasarkan pada ajaran-ajaran yang murni dari Al-Qur’an dan sunnah (tradisi kenabian) dan praktek-praktek Muslim generasi awal (salaf).

Penulis menjelaskan bahwa dalam definisinya yang paling mendasar, konsep WB menggambarkan hubungan Muslim yang seharusnya dilakukan dengan Tuhannya dan dengan sesama manusia lainnya. Istilah wala’ mengacu pada loyalitas yang tak-terbagi oleh Muslim terhadap Allah, Islam dan suadara Muslimnya diatas hal-hal lain.

Salafi memahami bahwa wala’ secara ekslusif diberikan kepada Allah, Rasulullah dan Muslim berdasarkan pada Al Qur’an surat Al-Maidah ayat 55. Sementara itu masih menurut penjelasan penulis, bara’ mengacu pada pengingkaran terhadap segala sesuatu yang dianggap tidak Islami oleh Salafi modern ini.

Menurut penulis, dalam Salafisme modern, konsep WB memperoleh penekanan yang besar. Untuk itulah kajian ini mencoba menggambarkan dan membuktikan fakta tersebut. Seperti yang ditunjukkan dalam kajian ini, sentralitas WB dalam Salafisme modern dapat dilihat melalui tindakan-tindakan Salafi modern dan dalam pernyataan, ceramah dan tulisan mereka tentang WB yang dipelajari dan dianalisis untuk tujuan kajian ini.

Penulis menerangkan bahwa sentralitas konsep tersebut dapat dilihat saat Salafis modern mengidentifikasi WB sebagai salah satu pilar tauhid. Menurut keyakinan mereka, umat Islam harus mengimani dan menerapkan konsep WB dalam kehidupan sehari-hari mereka. Oposisi terhadap konsep tersebut adalah pelanggaran terhadap bagian penting aqidah.

Hal ini berarti bahwa umat Islam harus mengarahkan loyalitas mereka hanya kepada Allah, Islam dan Muslim, karena kesetiaan kepada Allah secara langsung terkait dengan konsep tauhid yang sangat penting. Konsep tersebut merupakan salah satu faktor yang dapat menbatalkan syahadat (nawaqidh al-shahadatain) jika tidak dipraktikkan oleh umat Islam.

Penulis melanjutkan penjelasnnya bahwa dalam Salafisme modern, penerapan wala’ adalah untuk mewujudkan rasa kesetiaan yang mendalam kepada kaum Muslim dengan cara terikat pada mereka, mencintai mereka, memelihara ikatan persaudaraan dengan mereka, membantu mereka, dan berempati dengan mereka. Tanpa ini, tidak ada artinya bagi eksistensi komunitas Muslim (ummah). Sungguh, Salafis melihat eksistensi umat Muslim hanya berdasarkan ikatan bersama yang mengikat hati individu-individunya dalam pengertian kesetiaan ini.

Di sisi lain, bara’ diterjemahkan sebagai pengingkaran total dari semua hal yang tidak menyenangkan Allah. Ini meliputi kufur (kekafiran), syirik (kemurtadan), kuffar (jamak dari kafir yang berarti orang-orang non-Muslim atau kafir), bid’ah (hal baru dalam agama), maksiyat (tidak taat kepada Allah dan perintahnya) dan bahkan sistem politik yang tidak Islami (al-anzimah al-taghutiyyah) seperti demokrasi, sekularisme dan nasionalisme menurut beberapa Salafi modern.

Penulis menambahkan penjelasannya bahwa Salafis modern berusaha untuk melakukan bara‘ dari “orang-orang kafir dan praktik orang-orang kafir” dengan tidak berteman dengan mereka (terutama orang Yahudi dan Kristen) dan menghindari budaya dan tradisi mereka yang dipercaya dapat menodai kemurnian Islam yang mereka impikan. Ini dibenarkan dengan berdasarkan pemahaman literal dari banyak ayat dalam Alquran seperti: “Jangan mengambil orang Yahudi dan Kristen sebagai teman/ pelindungmu…”.



Arti Penting Kajian

Penulis menjelaskan arti penting kajian ini terletak pada fakta bahwa memahami konsepsi Salafis modern tentang WB, realitas dan kompleksitasnya telah menjadi prioritas mendesak dalam kehidupan umat Islam saat ini. Pemahaman ini menjadi sangat penting karena umat Islam sekarang hidup sebagai komunitas minoritas di seluruh dunia. Sebagai kode etik yang mengatur hubungan yang diinginkan antara Muslim dan non-Muslim, konsekuensi penerapan konsep Salafi modern WB sangat serius.

Aturan dan isu-isu Islam mengenai hubungan Muslim dan non-Muslim yang tertanam dalam konsep Salafi modern tentang WB bukanlah sesuatu yang baru. Para ahli hukum dan ilmuwan Muslim di masa lalu telah banyak membahasnya. Namun, masih banyak pertanyaan yang perlu mendapat jawaban mendesak. Banyak umat Islam saat ini tinggal di lingkungan baru di mana penerapan yang tepat dari WB sangat penting. Semakin banyak umat Islam yang hidup sebagai komunitas minoritas di negara-negara non-Muslim.

Negara-negara Muslim dan pemerintahnya juga menghadapi tantangan dan masalah baru dalam lingkungan internasional yang tidak ada dalam periode keemasan Islam di masa lalu. Dunia saat ini berinteraksi melalui jaringan peraturan dan organisasi internasional, hanya menyisakan sedikit ruang untuk isolasi. Dunia saat ini yang kita tinggali melihat kebutuhan mendesak untuk menjamin perdamaian dan menegakkan keadilan bagi semua individu terlepas dari iman dan bahasanya. Semua faktor ini dan lainnya memerlukan pemahaman yang lebih jelas dan luas tentang hukum Islam mengenai hubungan Muslim dan non-Muslim dan, khususnya, konsep WB.



Tujuan Kajian

Kajian ini pada umumnya mencoba untuk menetapkan posisi konsep WB dalam Salafisme modern. Alasan untuk terlibat dalam kajian ini terletak pada kebutuhan untuk melacak kemunculan, pemahaman dan kompleksitas konsep Salafisme modern. Mempelajari konsep WB penting dalam upaya memahami dinamika sosial, religius dan politik Salafisme modern.

Sebagaimana disampaikan oleh penulis dalam bagian Pengantar buku ini tujuan kajian ini dapat dirangkum sebagai berikut.

Untuk mengembangkan pemahaman yang lebih besar tentang pentingnya dan validitas WB dalam Salafisme modern.Untuk mengeksplorasi realitas, kompleksitas dan berbagai interpretasi konsep ini di antara berbagai Salaf saat ini.Untuk mengidentifikasi pendukung utama dan penulis konsep ini antara Salafi modern dan menilai literatur utama tentang masalah ini.Mengembangkan kerangka kerja yang akan membantu dalam memahami fenomena Salafisme modern.Untuk memberikan kontribusi baru di bidang studi Salafisme modern. Buku ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan dan tidak adanya analisis intelektual terhadap konsep Salafisme modern.



Ruang Lingkup dan Batasan Kajian

Salafisme modern dapat dilihat sebagai fenomena religius yang kompleks dan heterogen dalam pemikiran Islam kontemporer. Seperti ditunjukkan oleh judul buku ini, kajian ini mengeksplorasi WB dalam ideologi Salafisme modern. Oleh karena itu, buku ini berfokus pada konsep ini secara eksklusif, walaupun ada konsep keagamaan lainnya seperti hijrah, takfir, jihad dan tahkim bi al-shariah (memerintah menurut hukum Islam) yang terhubung dan memiliki relevansi signifikan dengan WB dalam Salafisme modern.

Konsep-konsep ini, yang mungkin bisa menjadi topik kajian sendiri, tidak dibahas secara mendalam di sini, terlepas dari relevansinya dengan konsep modern Salafi tentang WB.

Konsep WB dalam Salafisme modern sangat luas, dinamis dan kompleks. Kajian ini tidak berusaha membahas semua masalah seputar konsep ini  dalam Salafisme modern. Fokus umum dari kajian ini adalah untuk mengeksplorasi aspek sentralitas, keluasan dan kompleksitas dari konsep ini.

Argumen sentral kajian ini menyatakan bahwa WB dalam Salafisme modern tidak statis namun dinamis, dan Salafi modern dari berbagai latar belakang atau “sekolah” akan menyajikan konsep ini secara berbeda. Contoh spesifik peran WB dalam sosial, politik, dan Jihadi, dipilih dan dibahas sebagai bukti untuk menunjukkan keabsahan argumen kajian ini. Hal yang penting, kajian ini berpendapat bahwa WB dalam Salafisme modern tidak berada dalam ruang hampa agama, namun dibentuk oleh situasi sosial, lokal dan politik saat ini.



Sumber dan Metodologi Kajian

Sumber primer yang digunakan dalam kajian ini terutama terdiri dari buku-buku yang ditulis oleh pemikir Salafi modern mengenai topik WB. Ini juga mencakup artikel, wawancara, pernyataan, ceramah audio dan video tentang WB oleh Salafis modern yang sebagian besar diperoleh dari internet. Jelas, sumber primer ini sangat penting untuk memahami konsep dan pemahaman modern Salafis tentang WB. Oleh karena itu, mengungkap dan menganalisis karya-karya Salafis modern memungkinkan kita untuk menghargai pemahaman yang lebih dalam tentang realitas dan kompleksitas WB dalam Salafisme modern.

Buku-buku yang menjadi sumber primer dalam kajian ini diantranya adalah sebagi berikut.

Al-Wala’ wal Bara’ fil al-Islam min Mafaahim Aqidah al-Salaf (Al Wala’ wal Bara’ dalam Islam menurut Pemahaman Aqidah Salaf) oleh Muhammad Saeed Bin Salim Al-Qahtani.Al-Wala ‘wal Bara’: Aqidah Manqulah wa Waqi ‘Mafqud (Al-Wala ‘wal Bara’: Ajaran yang Diwarisi dan Realitas yang Hilang) oleh Ayman Mohammed Rabie’ Al-Zawahiri.Al-Wala ‘wal Bara’ fi al-Islam (Al-Wala ‘wal Bara’ dalam Islam) oleh Salih Ibnu Fawzan Ibn Abdullah Al-Fawzan.Al-Wala ‘wal Bara’ oleh Abdul Rahman Abdul Khaliq Al-Yusuf.Millat Ibrahim wa da’wah al-Anbiya ‘wa al-Mursalin wa asaalib al-Tughah fi tamyi’iha wa sarfi al-du’aati’ anha oleh Abu Muhammad Asim Al Maqdisi.Al-Wala ‘wal Bara’ in Surah Al-Mumtahinah (Al-Wala ‘wal Bara’ dalam Surah Al-Mumtahanah) oleh Wasim Fathullah.

Metodologi yang digunakan dalam kajian ini adalah riset berbasis pustaka dan materi yang dipelajari terutama berupa buku, artikel dan bahan yang didapat dari internet. Penulis juga menggunakan beberapa temuan dari wawancara dan penelitian lapangan. Dalam kajian ini penulis mencoba untuk menemukan dan menganalisis makna dan pemahaman WB sebagaimana ditetapkan secara khusus dalam buku dan tulisan para ulama Salafi modern yang telah menulis dan memberi ceramah tentang masalah ini.

Untuk pendapat masing-masing individu Salafi atau kelompok tentang konsep tersebut, penulis terutama mengandalkan sumber asli dengan mengamati dan menganalisis tulisan-tulisan, pernyataan, dan juga ceramah mereka.

Penulis dalam menganalisis tulisan-tulisan tentang WB oleh Salafis modern menggunakan kerangka kerja yang dikembangkan oleh Quintan Wiktorowicz yang membagi Salafi modern menjadi tiga kelompok berbeda berdasarkan pada tren ideologis dan interpretasi kontekstual mereka, yaitu, kaum puritan, politicos dan Jihadis. Penulis berpendapat bahwa kategorisasi atau kerangka kerja khusus ini berguna untuk kajian ini terutama dalam upaya untuk memahami keragaman dan kompleksitas Salafisme modern dan konsep WB. Kategorisasi ini didasarkan pada interpretasi kontekstual Salafis, terutama mengenai isu politik kontemporer yang diyakini bisa membagi Salafi modern

Ringkasan Isi Masing-masing Bab

Secara garis besar, kajian ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian Pertama (Bab 1 dan Bab 2) memberikan pengantar tentang Salafisme modern dan konsep WB dalam Salafisme modern. Bagian pendahuluan ini penting karena menentukan gambaran sebelum membahas realitas, kepraktisan dan kompleksitas konsep Salafisme modern di bagian Dua (Bab 3, 4 dan 5) dari kajian ini.

Bagian Dua yang awal melihat WB dalam pemahaman Wahhabisme. Hal ini kemudian diikuti dengan mengamati perbedaan posisi Salafis modern terhadap WB, dan akhirnya menganalisis karya-karya terpilih Salafis modern berdasarkan konsep tersebut.

Ada beberapa pertanyaan penting yang ingin dijawab oleh Bagian Dua ini: Bagaimana konsep WB bermula dalam Salafisme modern? Bagaimana konsep ini telah dikembangkan dan bertransformasi sejak awal berdirinya? Apa perbedaan posisi dan opini yang dimiliki Salafis modern terhadap konsep tersebut?

Bagaimana kelompok-kelompok berbeda dalam Salafisme modern saat ini berbeda dalam pemahaman mereka tentang WB? Mengapa mereka berbeda? Bagaimana dimensi perbedaan WB ini mempengaruhi pemahaman Salafis modern terhadap konsep tersebut? Dan apa isu utama yang terkait dengan WB yang menjadi pokok perdebatan dan perselisihan di kalangan Salafi modern?

Secara keseluruhan isi buku ini setelah bagian Pengantar, dituangkan dalam 5 Bab utama dan diakhiri dengan Bab Kesimpulan.

Bab 1  Salafisme Modern dan Konsep Islam Al Wala’ wal Bara’, terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama memberikan pengenalan dunia Salafisme, terutama fenomena Salafisme modern. Bagian ini dimulai dengan definisi dan ikhtisar singkat tentang Salafisme, sejarah, realitas dan kompleksitasnya di dunia modern. Bagian ini juga akan melihat berbagai faksi dan kelompok Salafisme modern seperti yang diamati oleh banyak akademisi dan komentator. Selain itu, bagian ini membahas secara singkat ideologi, karakteristik dan komponen Salafisme modern. Pengenalan Salafisme seperti ini penting sebelum kita memulai diskusi tentang konsep Salafi tentang WB.

Bagian kedua dari Bab 1 memberikan pengantar bagi konsep WB. Bagian ini dimulai dengan definisi, signifikansi dan perkembangan konsep WB dalam Salafisme modern. Secara khusus, bagian ini mencoba untuk menemukan alasan utama mengapa konsep semacam itu tidak hanya ada, namun merupakan pilar dalam ideologi Salafi. Bagian ini akan mengungkapkan bahwa konsep modern Salafi tentang WB memiliki tiga dimensi utama, yaitu aqidah, sosial, dan politik.

Selain itu, perkembangan dan transformasi konsep Salafisme modern juga menghasilkan dimensi lain yang merupakan dimensi Jihadi. Pengenalan konsep sebagaimana tertuang dalam bab ini akan mengarah pada diskusi tentang bagaimana Salafis modern mendapatkan konsep dari teks-teks agama, khususnya Al-Quran, yang akan dibahas pada Bab 2.

Bab 2 Arti penting Surah Al-Mumtahanah dan Millah Ibrahim dalam Konsepsi  Al-Wala’ wal Bara’ menurut Salafi, bertujuan untuk menggambarkan bagaimana surah keenam puluh dari Quran yang dikenal sebagai Surah Al-Mumtahanah  dan gagasan Millah Ibrahim memainkan peran penting dalam membentuk konsep Salafi modern tentang WB.

Bab 2 ini dimulai dengan premis bahwa memahami Surah Al-Mumtahanah dan apa yang dikandungnya penting untuk memahami WB dalam Salafisme modern. Selain itu, bab ini mencoba untuk melihat bagaimana surah  ini terhubung dengan ayat-ayat Alquran lainnya tentang Al wala ‘ wal Bara’ untuk membentuk gambaran khas Salafi tentang WB.

Bab ini mencoba untuk menunjukkan bagaimana pembacaan Salafi pada teks surah ini dan interpretasi mereka terhadap konteksnya telah mengubah perintah Alquran tertentu ini -yang tampaknya memperingatkan umat Islam awal tentang bahaya membentuk aliansi dengan musuh mereka- ke dalam landasan sebuah ideologi radikal. Bab ini juga akan menyoroti bagaimana para Salafi Jihadi menafsirkan ayat-ayat dari surah ini secara politis dan menggabungkannya dengan konsep takfir melawan penguasa Muslim.

Bab ini dimulai dengan sebuah pengantar dan pemahaman umum tentang Surah Al-Mumtahanah. Secara khusus menyoroti alasan di balik wahyu, konteks historisnya, tema umum surah, dan gagasan Millah Ibrahim, dan bagaimana semua ini telah membentuk pemahaman tentang konsep Salafis modern. Bab ini kemudian melihat ayat-ayat Al-Quran lainnya yang juga berkontribusi terhadap pembentukan konsep Salafis modern tentang WB.

Bab ini menyimpulkan bahwa memahami aspek teologis WB dan bagaimana konsep itu dirumuskan dan dikonseptualisasikan oleh Salafis modern merupakan langkah awal yang penting untuk mencapai pemahaman yang lebih baik tentang realitas, kompleksitas dan keragaman konsep Salafisme modern.

Bab 3 Al-Wala’ wal Bara’  dalam Ideologi Salafi–Wahabi, melihat konsep WB dalam Wahabisme. Bab ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa konsep WB oleh Salafi modern mempunyai akar yang kuat dalam Wahabisme. Bab ini mengilustrasikan bahwa aspek keagamaan maupun politik telah lama ada sejak awal munculnya wahabisme.

Pada dimensi politik, bab ini menyorot bagaimana rivalitas antara Saudi dan Utsmaniyah di akhir abad ke-18 dan perang sipil Saudi  di abad ke-19 telah berdampak pada pengembangan WB dalam diskursus religius wahabi. Bab ini juga berusaha menunjukkan faktor-faktor utama yang telah berkontribusi untuk mengembangkan konsep ini dalam wahabisme modern (abad ke-20 dan setelahnya).

Bab 3 juga menyorot bahwa ulama-ulama wahabi yang beroposisi dengan pemerintah Saudi karena perilaku politik mereka telah menggunakan ajaran-ajaran dan warisan  Wahabi untuk mengembangkan lebih jauh dan meradikalisasi beberapa konsepnya yang meliputi WB. Menggunakan ajaran dan tradisi Wahabi yang sama dengan yang dipegang oleh negara dan ulamanya, para salafi ini mengutuk pemerintahnya.

Bagian terakhir dari bab ini menggambarkan pengaruh dan penyebaran konsep ini, terutama penetrasinya ke dalam kurikulum sekolah-sekolah Saudi dan penyebarannya melampaui batas-batas negara Saudi. Bab ini juga secara singkat menggambarkan bagaimana sistem pendidikan Saudi, khususnya konsep WB dan ajaran “kebencian terhadap yang lain”, telah dikritik secara internasional paska serangan 11 September.

Bab ini menyimpulkan bahwa konsep WB, yang pada awal kemunculan Wahhabisme digunakan sebagai alat untuk memerangi kesyirikan dan bid’ah dalam Islam, telah berkembang menjadi elemen penting yang digunakan oleh para ulama pemerintah Saudi maupun mereka yang menentang kerajaan tersebut, untuk mendukung kecenderungan religius dan agenda politik mereka.

Bab 4 Menganalisis Spectrum  Al-Wala’ wal Bara’ dalam Salafisme Modern, bertujuan untuk mengeksplorasi beberapa perdebatan yang menonjol di kalangan Salafi modern (kelompok maupun individu) mengenai konsep WB dan/atau isu-isu yang muncul di bawah payung konsep ini. Bab ini mencoba untuk menunjukkan bahwa WB dalam Salafisme modern berada pada spektrum luas yang dapat berkisar mulai dari apa yang mungkin disebut “sangat lunak” sampai dengan yang paling “ekstrem atau tanpa kompromi” membentuk konsep ini.

Untuk tujuan bab ini, penulis mencoba melihat empat isu yang berkaitan erat dengan WB yang sering diperdebatkan oleh Salafi modern:

Isu tentang apakah WB mengharuskan umat Islam untuk membenci kekafiran dan orang kafir, atau apakah mereka hanya diharuskan membenci kekafiran tapi bukan orang kafir.Isu tentang bolehkah untuk memerintah dengan selain dari apa yang telah Allah wahyukan atau syariah, dan hubungan para penguasa Muslim dengan negara-negara non-muslim.Isu tentang membantu non-Muslim melawan kaum muslimin.Isu tentang perbuatan menerima dan memberi hadiah kepada orang kafir dan merayakan hari raya keagamaan mereka.

Bab 4 diakhiri dengan pengamatan dan argumen bahwa tidak ada pemahaman tunggal tentang WB dalam Salafisme modern. Kelompok dan individu Salafi yang berbeda memberikan kerangka formal yang berbeda saat berhadapan dengan konsep tersebut. Alasan utama pembagian dan perselisihan seputar konsep ini dipercayai adalah berbagai latar belakang Salafi yang darinya mereka muncul dan tren ideologis mereka yang berbeda. Dikatakan bahwa orientasi Salafisme yang berbeda ini memainkan peran penting dalam memahami alasan di balik perselisihan dan ketidaksepakatan mereka, seperti yang akan ditunjukkan pada Bab 5.

Bab 5 Menganalisis Tulisan tentang  Al-Wala’ wal Bara’ oleh Salafi  Puritan, Politicos,  dan Jihadi, mencoba menganalisis tulisan-tulisan tentang WB oleh pemikir Salafi modern terpilih yang termasuk dalam kategori Salafi modern puritan, politico dan jihadi. Mereka adalah Salih Bin Fawzan Al-Fawzan kategori puritan, Abdul Rahman Abdul Khaliq kategori politico, dan Ayman Al-Zawahiri kategori Jihadi. Bab ini berargumen bahwa perbedaan orientasi Salafi dan latar belakang dari mana Salafis ini muncul berpengaruh pada cara mereka menyajikan konsep tersebut.  

Bab ini juga menganalisis buku dari tokoh Salafi keempat, Muhammad Saeed Al-Qahtani, yang tulisan-tulisannya tentang WB memiliki semua elemen aqidah, sosial, politik dan Jihadi. Melalui analisis ini, disimpulkan bahwa orientasi Salafi tertentu berpengaruh pada gaya penulisan dan penyajian konsep WB oleh Salafi modern. Hal ini mencerminkan posisi WB dalam Salafisme modern adalah cair dan multi dimensi.

Bab 6 Kesimpulan, pertama merangkum dan mengumpulkan temuan penelitian yang diperoleh dari seluruh buku ini, dan kemudian menyoroti kontribusi yang dapat diberikan dari kajian ini. Bab ini kemudian menggambarkan implikasi dan konsekuensi dari pemahaman dan penerapan WB versi Salafi modern. Bab ini kemudian menyoroti pandangan para ilmuwan Muslim arus utama atau Muslim non-Salafi tentang WB. Akhirnya, bab ini memberikan beberapa rekomendasi untuk proyeksi penelitian di masa depan.


Sumber seraamedia

Tidak ada komentar