Header Ads

Turki kerahkan Armada tempur di perbatasan idlib

banner ads
Manjaniq.com - Konvoi armada tempur militer Turki, Ahad (17/09), dilaporkan tiba di perbatasan dengan Suriah. Pergerakan militer Turki ini terjadi dua hari setelah Konferensi Astana VI digelar yang menghasilkan kesepakatan tiga negara penjamin (Turki, Rusia dan Iran) mengerahkan pasukan militer ke Idlib untuk mengawasi gencatan di kota itu.

Kantor berita Al-Jazeera melaporkan dari wartawannya di perbatasan Turki-Suriah, armada tempur yang berjumlah puluhan itu diangkut dengan kereta api dari provinsi Kerklar menuju distrik Iskenderun, provinsi Hatay. Setelah dibongkar, kendaraan berat ini sebagian diangkut dengan truk menuju ke titik-titik militer di perbatasan dengan Turki.

Sementara itu, titik utama militer Turki berada di “Kamp Tua” yang terletak di kota Ar-Rayhanah, yang menghadap langsung perlintasan Bab Al-Hawa di pedesaan Idlib bagian utara.

Sampai saat ini belum diketahui misi yang diemban pasukan ini. Akan tetapi, para aktivis dan tokoh oposisi mengatakan bahwa pergerakan militer Turki ini untuk merealisasikan poin kesepakatan Astana VI yang berlansung pada 14 dan 15 September lalu, khususnya terkait wilayah Idlib.

Seperti diketahui, poin penting yang disepakati dalam Astana VI merealisasikan zona de-eskalasi di Idlib, yang wilayahnya mayoritas dikontrol Hai’ah Tahrir Al-Syam (HTS). Seluruh pihak yang terlibat di Astana, baik oposisi dan negara penjamin dan juga rezim, sepakat bahwa HTS gerakan “teroris” yang harus diperangi.

Kabar ini datang bersamaan santer informasi yang menyebutkan militer Turki dan sebanyak 25 pasukan Free Syrian Army (FSA) siap memulai operasi militer di Idlib menghadapi HTS. Mereka ingin mengulang operasi Dar’u Furat yang sukses mengalahkan ISIS di sepanjang perbatasan.

Menteri Luar Negeri Turki mengatakan, setelah menghadiri Konferensi Astana VI, bahwa pasukan pengawas zona de-eskalasi itu dari Turki, Rusia dan Iran. Pasukan ketiga negara tersebut akan ditempatkan di perbatasan wilayah-wilayah zona de-eskalasi. Masa tugas mereka selama enam bulan.

Dia menambahkan, termasuk bagian dari zona de-eskalasi itu wilayah Idlib dan sekitarnya. Pasukan pengawas akan disebar di pos-pos militer dan daerah aman yang membelah wilayah zona de-eskalasi dengan wilayah lain di Idlib. Tugas mereka memastikan tidak ada baku tembak, pertempuran dan serangan udara.

Sumber: Al-Jazeera, kiblat

Tidak ada komentar