Header Ads

Penjelasan polemik cadar tali

banner ads
Manjaniq.com - Saudariku yang salihah, beberapa waktu lalu beredar sebuah fatwa yang menyebutkan bahwa seorang muslimah tidak diperbolehkan mengenakan cadar tali karena tali yang diikat ke belakang membentuk kepala yang berarti telah membentuk lekuk tubuhnya. Apakah memang demikian? Semoga sedikit ulasan berikut ini bisa bermanfaat bagi kita semua.

Hukum asal pakaian adalah mubah

1. Allah Ta’ala berfirman di surat Al-A’raf,

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللّهِ الَّتِيَ أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالْطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ
“Katakanlah, ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?'” (QS. Al-A’raf: 32)

Pakar tafsir di kalangan para sahabat, yaitu Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, berkata tentang ayat ini,

إن الجاهلية كانوا يحرمون أشياءَ أحلها الله من الثياب وغيرها
“Dahulu orang-orang jahiliyah mengharamkan perkara yang Allah halalkan, baik pakaian dan yang lainnya.” (Tafsir Ath-Thabari)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin mengatakan,

الأصل في الملبوسات الحل إلا ما قام الدليل على تحريمه ، وقد أنكر الله عز وجل على من يحرمون شيئاً من اللباس أو من الطعام بلا دليل شرعي ، قال الله تعالى : ( قل من حرم زينة الله التي أخرج لعباده والطيبات من الرزق ) ، أما إذا دلَّ دليل على تحريم هذا اللباس سواء كان محرماً لعينه : كالحرير للرجل وما فيه صور للرجل أو المرأة ، أو كان محرَّماً لجنسه : كما لو كان هذا اللباس من لباس الكفار الخاص بهم : فإنه يكون حراماً ، وإلا فالأصل الحل”
“Hukum asal berbagai jenis pakaian adalah halal (boleh dikenakan) kecuali terdapat dalil yang mngharamkannya. Allah ‘Azza wa Jalla telah mengingkari orang yang mengharamkan pakaian dan makanan tanpa dalil syar’i. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللّهِ الَّتِيَ أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالْطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ

“Katakanlah, ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” (QS. Al-A’raf: 32)

Adapun jika terdapat dalil yang mengharamkan pakaian tersebut, baik haram karena zatnya seperti kain sutra untuk laki-laki atau pakaian yang terdapat gambar (makhluk bernyawa) untuk laki-laki dan perempuan, atau haram karena jenisnya seperti pakaian ciri khas orang kafir maka ini semua haram dikenakan. Jika tidak ada unsur haram seperti di atas maka hukum asal pakaian adalah boleh dikenakan. (Fatawa Islamiyyah, 4:246)

2. Juga firman Allah Ta’ala di surat yang sama,

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Wahai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)

3. Diriwayatkan dari Abdullah Ibnu Amr Ibnu Ash; dia berkata, “Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

كلوا وتصدقوا والبسوا في غير إسراف ولا مخيلة

‘Makanlah dan bersedekahlah, kenakanlah pakaian tanpa berlebihan dan tanpa kesombongan.'” (HR. An-Nasa’i, no. 2559)

4. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

كل ما شئت، والبس ما شئت، ما أخطأتك خصلتان : سرَف ومَخِيلة

“Makanlah sesuka kalian dan berpakaianlah sesuka kalian, selama kalian tidak melakukan dua perbuatan yaitu berlebihan dan sombong. (HR. Ibnu Abi Syaibah, no. 24878)
--------------

Cara memakai cadar yang benar

Sebuah pertanyan diajukan kepada Samahatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah,

الكلام في هذه الآونة عن البرقع، إذ أنه أصبح يأخذ شكل ما يسمى بالموضة، فما هو رأي سماحتكم في البرقع من حيث هو، وما توجيه سماحتكم للنساء إذا أردن لبس هذا النوع من الملابس؟
كان لبس البرقع من عادة العرب يلبسون البراقع، يقال له: النقاب يفتح فيه للعين أو العينين معا وتستر به وجهها، ولهذا نهى النبي – صلى الله عليه وسلم – عن لبسه في حال الإحرام للمرأة، قال: لا تنتقب المرأة ولا تلبس القفازين في حال الإحرام العمرة والحج. معناه أن في غير ذلك لا بأس أن تلبس البرقع أو القفازين في الأوقات الأخرى للتستر والحجاب فلا حرج في لبس القفازين والنقاب للمرأة في غير الإحرام للتستر عن الرجال، وإذا سترت وجهها بغير النقاب كالخمار كله أو بغيره من الألبسة كالجياد والجلباب وغيره كله طيب والنقاب يكون بقدر العينين وعين واحدة ما يكون مشكوف الوجنتين ولا الجبهة، بقدر العينين فقط، هذا هو الجائز. وأما منعه وتحريمه فلا دليل عليه، بل السنة ظاهرة في جوازه….. لكن يكون بقدر العينين أو إحداهما، وإذا لبست خمارا أو ….. يسترها فلا بأس، تقول عائشة -رضي الله عنها-: كنا مع النبي – صلى الله عليه وسلم – في حجة الوداع محرمات ، إذا دنى منا الرجال أسدلت إحدانا جلبابها وخمارها على وجهها من رأسها فإذا بعدوا كشفنا. فمعنى هذا أنهم ما لبسوا النقاب، فهذا يدل على جانب وهذا جانب ، إذا سدلت الخمار أو الجلباب على وجهها بالكلية على وجه ترى معه الطريق فلا بأس، وإن جعلت نقابا ترى معه الطريق حتى لا تقع في حفرة أو في غيره فلا بأس كله والأمر واسع، والحمد لله. المذيع: كأني فهمت من سماحتكم أن هناك شروطا للنقاب؟. الشيخ: الشرط أن يكون ساترا للوجه إلا العين أو العينين. أما أن يتخذ ناحية جمالية، وتظهر منه الوجنتان والخدود، فهذا ما يصلح. المذيع: إذا كان جمال المرأة في عينيها فما هو توجيهكم؟ الشيخ: ظاهر السنة أنه لا بأس بالنقاب مطلقاً ما فيه تفصيل. المذيع: إذا هل من توجيه للمرأة؟ الشيخ: ما فيه إلا ما قاله النبي – صلى الله عليه وسلم-: (لا تنتقب المرأة، ولا تلبس القفازين). يعني المحرمة، أما غيرها فلا بأس. وإذا رأت أن إظهار عينيها فيه فتنة، وأنها تخشى الفتنة، فلتخمر وجهها بغير ذلك من الخمار والشيء المعروف، أو بغير ذلك، إذا كانت ترى أن إظهار عينيها قد تحصل به الفتنة فهي أعلم بنفسها.

– Pembawa acara: Kali ini pembahasan seputar cadar (burqa’). Jika cadar dibuat bentuk seperti cadar fashion (cadar gaul) maka apa pendapat Anda tentang cadar model ini? Apa arahan Anda kepada para wanita yang ingin memakai cadar jenis ini?

– Syaikh Ibnu Baz rahimahullah: Dahulu cadar termasuk pakaian yang biasa dikenakan orang Arab. Cadar disebut juga dengan niqab, yaitu cadar yang terbuka di bagian salah satu mata atau kedua-duanya, fungsinya untuk menutup wajah wanita.

Oleh karenanya, Nabi shallallahu’alaihi wasallam melarang mereka memakai cadar tatkala ihram. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لا تنتقب المرأة ولا تلبس القفازين في حال الإحرام العمرة والحج

‘Para wanita jangan memakai niqab dan kaos tangan tatkala kondisi ihram, baik saat umrah maupun haji.”

Artinya, jika di luar ihram, tidak mengapa bila wanita memakai cadar atau kaos tangan untuk menutupi dirinya dari pandangan kaum lelaki. Adapun jika seorang wanita menutup wajahnya bukan dengan cadar, tapi dengan benda lain — misalnya menggunakan kerudungnya (khimar) atau jilbab — maka semuanya tidak mengapa dilakukan.

Hendaknya cadar yang digunakan wanita terbuka di bagian salah satu mata atau kedua matanya, dan tertutup dibagian kedua pipi dan dahi. Hanya sebatas mata saja yang boleh terbuka. Inilah yang benar.

Adapun pendapat yang mengatakan bahwa cadar tidak boleh terbuka pada bagian matanya maka tidak ada dalil tentang hal ini. Bahkan sunnah Nabi secara jelas menunjukkan bolehnya (membuka kedua mata atau salah satunya, ed.). Akan tetapi, perlu diingat, bahwa (yang terbuka/tampak) hanya sebatas kedua mata atau salah satunya.

Jika wanita hendak menggunakan kerudung untuk menutupi wajahnya maka tidak masalah. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,

كنا مع النبي – صلى الله عليه وسلم – في حجة الوداع محرمات ، إذا دنى منا الرجال أسدلت إحدانا جلبابها وخمارها على وجهها من رأسها فإذا بعدوا كشفنا

“Dahulu kami bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menunaikan ibadah haji wada’ dalam kondisi ihram. Jika para lelaki mendekati kami, salah seorang di antara kami mengulurkan jilbab dan kerudungnya dari kepala lalu diletakkan di atas wajahnya. Jika para lelaki telah pergi menjauh, kembali kami buka wajah kami.”

Hadits diatas mehunjukkan bahwa mereka para sahabiyah tidak memakai cadar (akan tetapi memakai kerudungnya untuk menutup wajah). Ini menunjukkan satu sisi dan yang lain menunjukkan sisi lainnya.

Jika seorang wanita mengulurkan kerudung atau jilbabnya di atas (kepala dan wajah) seluruhnya dan ia tetap bisa melihat jalan maka tidak masalah. Atau dia memakai cadar sementara ia tetap bisa melihat jalan, sehingga tidak terperosok masuk ke dalam lubang maka tidak masalah memakainya. Perkara ini longgar, walhamdulillah.

– Pembawa acara: Rasanya saya mulai memahami maksud Anda. Adakah syarat yang harus dipenuhi dalam memakai cadar (niqab)?

– Syaikh Ibnu Baz rahimahullah: Syarat cadar hendaknya menutup seluruh wajahnya kecuali kedua mata atau salah satunya. Adapun jika wanita memakai cadar hanya untuk bergaya agar menarik dan cantik, lalu menampakkan kedua pipinya maka perbuatan ini tidak pantas dilakukan.

– Pembawa acara: Jika kecantikan wanita ada pada matanya, apa nasihat Anda?

– Syaikh Ibnu Baz rahimahullah: Sunnah Nabi dengan jelas menegaskan bolehnya menggunakan niqab secara mutlak. Tidak ada rincian di dalamnya.

– Pembawa acara: Adakah nasihat Anda untuk wanita tersebut?

– Syaikh Ibnu Baz rahimahullah: Tidak ada. Kecuali sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

لا تنتقب المرأة، ولا تلبس القفازين
“Janganlah wanita yang berihram memakai cadar dan juga jangan memakai kaos tangan.”

Adapun selain wanita yang berihram, silakan memakainya. Bila seorang wanita memandang bahwa jika ia menampakkan mata bisa membuat lelaki ajnabi (non-mahram) tergoda, dan ia khawatir akan hal ini, maka silakan memakai kerudung untuk menutupi wajahnya atau menggunakan kain lainnya. Jika wanita tadi menilai bahwa menampakkan mata bisa menimbulkan godaan maka dialah yag paling tahu tentang dirinya. (http://www.binbaz.org.sa/node/18416)
-------------

Dari sedikit uraian serta penjelasan Syaikh bin Baz rahimahullah di atas, bisa kita petik beberapa pelajaran:

Hukum asal pakaian adalah mubah. Siapa saja yang mengharamkan pakaian model tertentu atau cadar model tertentu maka wajib mendatangkan dalil.

Cadar disebut juga burqa’ dan niqab. Keduanya memiliki fungsi yang sama yaitu menutup wajah. Adapun niqab lebih spesifik cirinya yaitu terbuka di bagian salah satu mata atau keduanya.

Terlepas hukum cadar wajib ataukah sunnah, fungsi cadar tetaplah sama yaitu menutupi wajah. Sehingga sungguh sangat ironis tatkala seorang wanita muslimah bersemangat mengenakan cadar tapi cadar itu terbuka lebar di bagian dahi atau bahkan pipi bagian bawah matanya, hingga hampir terlihat jelaslah kecantikan wajahnya. Cadar model inilah yang sepatutnya ditinggalkan.

Tidak ada model cadar khusus yang dajarkan syariat. Bahkan dari keterangan Syaikh Bin Baz, cadar bisa dari kerudung, jilbab, atau kain lainnya, asalkan bisa berfungsi menutupi wajah. Poin inikah adalah sedikit sanggahan untuk saudari-saudariku yang melarang saudarinya mengenakan cadar tali.

Saudariku, semoga Allah merahmatimu.

Pertama, jika kita mau jujur pada diri sendiri, hampir semua wanita muslimah yang mengenakan jilbab atau khimar terlihat bentuk kepalanya. Baik dia memakai cadar atau tidak, baik dengan ikatan atau tidak. Sedikit atau pun banyak, bentuk kepala tetaplah terlihat. Perkara ini tidak bisa dihindari kecuali bila wanita tersebut memakai kerangka kayu atau benda lain yang melindungi kepalanya sehingga tidak membentuk bulat, padahal ini tentunya sesuatu yang memberatkan. Oleh karenanya, tidak bijak rasanya bila menghukumi haram cadar tali semata-mata karena alasan ini.

Kedua, jika kita telisik lebih dalam tentang perintah memakai khimar dan jilbab maka kita temukan beberapa faedah penting:

1. Di surat Al-Ahzab: 59

Yudniina ‘alaihinna (يدنين عليهن) yang memiliki makna yurkhiina (يرخين), yusdilna (يسدلن) yang berarti menggerai dan menjulurkan jilbab ke bawah.

Az-Zamakhsyari berkata dalam Al-Kasyaf, 3:274,

ومعنى: “يدنين عليهن من جلابيبهن”، يرخينها عليهن، ويغطين بها وجوههن
“Makna yudniina alaihinna min jalaabiibihinna adalah hendaknya mereka (para wanita) menjulurkan di atas (tubuh) mereka serta menutup wajah mereka dengannya.

2. Di surat An-Nur: 31

Walyadhribna (وليضربن) yaitu meletakkan khimar di atas kepala wanita.

Al-Hafizh Ibnu Hajar (dalam Fathul Bari, 8:490) berkata,

(فاختمرنَ)؛ أي: غطَّين وجوهَهنَّ، وصفة ذلك: أن تضع الخمار على رأسها، وترميه من الجانب الأيمن على العاتق الأيسر، وهو التقنُّع
“Mereka para shahabiyah memakai khimar, yang berarti mereka menutup wajah-wajah mereka. Caranya dengan meletakkan khimar di atas kepalanya kemudian melemparnya dari sisi kanan ke atas bahu kiri (sehingga menutupi wajah). Inilah yang disebut memakai qina’.”

Ringkasnya, cara memakai jilbab dan khimar cukup diletakkan dan dijulurkan dari atas ke bawah. Bisa kita bayangkan bagaimana kondisi kepala bila hanya diletakkan kain di atasnya lalu kain tadi tergerai kebawah.Tentu bentuk kepala akan tetap terlihat dari luar.

Ketiga, sekarang ini banyak sekali beredar model cadar. Di antaranya cadar tali, cadar bandana, cadar rits/ritsleting/zipper, cadar butterfly, dan nama-nama lain yang kami sendiri tidak mengetahuinya. Bahkan tak hanya di Indonesia, di negara-negara Eropa, Amerika, dan lain-lain beredar cadar dengan beraneka ragam bentuk/model termasuk bentuk cadar yang memiliki ikatan di belakang kepala, baik dengan tali atau dengan perekat (velcro). Tidak menutup kemungkinan, muslimah yang hidup pada masa lampau mengenakan bentuk cadar yang sama yatitu cadar tali. Namun sedangkal pengetahuan kami, belum ada ulama yang mendahului berfatwa bahwa tidak diperbolehkan mengenakan cadar dengan ikatan tali di belakang.
-----------------------

Kesimpulannya, cadar tali hukum asalnya diperbolehkan. Selama tidak ada dalil tegas yang mengharamkannya maka cadar tali tetaplah pakaian yang boleh dikenakan wanita muslimah. Wallahu a’lam bishshawab.

وصلى الله على نبينامحمدوعلى آله واصحابه ومن تبعهم بإحسان الى يوم الدين
----------

Referensi:

Tafsir Ath-Thabari, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
Imra’atun min Ahlil Jannah, Sa’d bin Dhidan As-Sabi’i.
http://www.binbaz.org.sa/node/18416
http://islamqa.info/ar/82577
http://www.fikhguide.com/tourist/cloth/275

Penyusun: Umi Farikhah (Ummu Fatimah) -ghafarallahu laha wali waalidaiha-
Muraja’ah : Ustadz Aris Munandar hafidzahullah


Artikel WanitaSalihah.Com

Tidak ada komentar