Header Ads

Melawan disebut teroris, diam mati tertindas

banner ads
Manjaniq.com - Dari waktu ke waktu, generasi ke generasi, Islam dan kaum Muslimin tak henti-hentinya mendapat serangan dari para musuhnya, orang kafir. Bagi siapa yang berpegang teguh dengan Islam, para musuh Islam tak akan tinggal diam. Mereka akan melakukan apapun, hingga seorang Muslim mengikuti agama orang kafir.

Memang, baginda Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wasalam mensabdakan bahwa di akhir zaman, seorang Muslim dalam menjaga akidahnya seperti memegang bara api. Jika tangan kita tetap menggenggam, maka akan tangan akan terbakar. Tapi jika dilepas, lepas sudah aqidah yang selama ini digenggam.

يَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ

“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi)

Kita bisa melihat bagaimana umat Islam di berbagai belahan dunia mempertahankan akidah mereka. Di Suriah, mereka dipaksa untuk mengatakan La Ilaha Illa Bashar (tidak ada tuhan selain Bashar). Dan kali ini, saudara Muslim kita di Myanmar, mereka terus ditekan oleh pemerintah setempat. Muslim Myanmar bahkan mempertanyakan, mengapa mereka begitu dihajar dan terpaksa meninggalkan tempat kelahiran sendiri.

“Apakah salah kami karena kami Islam? karena La Ilaha Illallah?,” ujar Nur Hasan, pengungsi Rohingya yang berada di Indonesia.

Tak terhitung berapa banyak darah umat Islam yang tertumpah di Suriah, Palestina, Iraq, Afrika Tengah, Rohingya, karena berpegang pada La Ilaha Illallah Muhammadu Rasulullah. Padahal, jika berbicara darah seorang Muslim, Rasulullah SAW mengatakan bahwa hancurnya dunia lebih ringan dari tertumpahnya darah seorang Muslim.

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِغَيْرِ حَقٍّ

“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani)

Meskipun Nabi Muhammad SAW telah menegaskan bahwa di akhir zaman umat Islam akan ‘kesulitan’ dalam berpegang teguh dalam keislamannya, tentu bukan berarti kita hanya pasrah. Membiarkan orang kafir membumihanguskan Islam, menciderai kehormatan umat Islam. Kenapa? karena Nabi Muhammad juga menjelaskan betapa mahalnya darah seorang Muslim.

Oleh sebab itu, umat Islam juga mempunyai kewajiban untuk melakukan perlawanan terhadap orang kafir jika akidah dan jiwa mereka terancam. Umat Islam di tempat-tempat tertentu juga melakukan hal demikian. Di Suriah, ada berbagai gerakan jihad untuk melakukan perlawanan. Di Rohingya yang notabene lemah dukungan pun, tetap melakukan perlawanan dengan dibentuknya Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA).

Namun, musuh Islam dengan berbagai kelicikannya tidak akan tinggal diam dengan perlawanan kaum Muslimin. Sebisa mungkin, mereka menjegal pergerakan Islam. ‘Teroris’. Istilah tersebut pun disematkan pada gerakan umat Islam yang sebenarnya membela akidah, darah, dan tanah kelahiran. Ketua Pemuda Buddhis Indonesia, Bambang Patijaya menyalahkan ARSA sebagai biang kerok adanya konflik Rohingya di tahun 2017. Bahkan, ia menyebut ARSA sebagai kelompok separatis.

“Ini kan gerakan separatis sehingga kemudian tragedi kemanusiaan terjadi dan banyak etnis Rohingya yang tidak bersalah yang juga sebenarnya tidak mengerti,” tuturnya

Umat Islam sebenarnya tidak perlu risau dengan tudingan teroris. Karena itu hanya tuduhan musuh Islam agar Islam tidak melakukan perlawanan. Diam tak melakukan perlawanan, dan mati tertindas. Oleh sebab itu, jika umat Islam dizalimi oleh orang kafir, maka lebih baik melawan daripada menyerah dengan keadaan.
Penulis: Taufiq Ishaq

Sumber kiblat

Tidak ada komentar