Header Ads

Kondisi terkini di Rakhine mencekam dan pengungsi masih memprihatinkan

banner ads
Manjaniq.com - Kondisi terakhir hingga Jumat malam lalu (8/9) di kawasan Rakhine State masih mencekam. Militer Myanmar masih melakukan penyisiran di sejumlah desa di kawasan tersebut. Bahkan, hingga tadi malam masih terjadi pembakaran pemukiman penduduk di desa Maungdaw, Buthidaung, dan Rathedaung oleh militer.

“Hingga tadi malam masih ada sekitar 100 ribu lebih etnis Rohingya yang terisolasi di dalam kawasan Rakhine State. Dua ratus ribu lebih sudah berhasil menyeberang ke Bangladesh serta puluhan ribu lainnya masih terjebak dalam perjalanan dari Rakhine menuju Bangladesh,” ungkap Mohammad, Ketua Tim SOS Rohingya ACT yang beberapa waktu lalu berada di lokasi paling rawan tersebut.

Menurutnya, banyaknya pengungsi Rohingya yang terjebak dalam perjalanan karena mereka masih belum sampai di titik aman. Mereka harus menembus hutan dengan berjalan kaki selama tujuh hari menuju perbatasan Bangladesh.

“Mereka melakukannya sangat hati-hati guna menghindari berpapasan dengan patroli militer,” kata Mohammad, Sabtu (9/9).

Untuk 100 ribu jiwa yang terisolasi di kawasan Rakhine State, sebagian besar sudah ada di pengungsian di wilayah yang sama. “Alhamdulillah, pekan ini bantuan kami sudah dua kali masuk untuk pengungsi yang terisolasi tersebut,” tambahnya.

Bantuan yang disalurkan ACT kepada para pengungsi mencapai 12 ton yang terdiri dari beras, terigu, kentang, cabai, bawang, dan minyak sayur.

Dikatakannya, serangan militer Myanmar ke wilayah Rakhine State bersifat sporadis dan tak terjadwal. Serangan tersebut bisa terjadi pagi, siang, atau sore hari. “Yang jelas mereka tak pernah melakukannya malam hari,” ungkap Mohammad.

Berdasarkan pantauan di lapangan, masalah kesehatan para pengungsi yang terisolasi sangat memprihatinkan. Tanpa dokter, tanpa penanganan medis, mereka terancam kematian akibat penyakit.

“Tak ada bangunan permanen yang bisa buat mereka berteduh. Mereka harus tinggal di tenda-tenda darurat berupa terpal yang dibentangkan. Bila hujan turun, tenda mereka bocor di mana-mana. Belum lagi pakaian yang digunakan hanya yang ada di badan,” lanjut Mohammad.

Akibatnya, sejumlah penyakit dialami pengungsi yang terisolir tersebut. Penyakit yang menyerang mereka di antaranya demam, diare, kelaparan, dehidrasi, radang, dan lain-lain.

“Air yang mereka minum pun diambil dari air genangan berwarna cokelat yang tentu sangat tidak baik buat tubuh. Tak ada MCK juga buat buang air. Tapi ya mau bagaimana lagi, tenaga medis dan dokter tak ada sama sekali di sini,” ungkapnya.

Mengenai akses masuk buat lembaga kemanusiaan di Myanmar, menurut Mohammad, hingga kini belum ada perubahan sejak meletusnya konflik tanggal 25 Agustus lalu.

“Blokade bantuan kemanusiaan, baik logistik maupun medis masih terjadi. Kami belum merasakan ada perubahan sama sekali,” pungkas Mohammad. []

Sumber Act.id

Tidak ada komentar