Header Ads

Dunia Tawarkan 5 Solusi Konflik SARA di Rohingya, Mana yang Menurut Anda Lebih Tepat?

banner ads
Dunia Tawarkan 5 Solusi Konflik SARA di Rohingya, Mana yang Menurut Anda Lebih Tepat?

MANJANIQ.COM – Konflik SARA di Rohingya sudah mencapai titik kasus genocide. Bisa dibilang pula ini adalah sebuah kekejaman luar biasa di level internasional. Tidak ada yang sependapat dengan arah pikir pemerintah Myanmar kecuali mereka yang sudah sakit dalam hatinya. Dalam kaitannya dengan masalah kemanusiaan, konflik SARA di Rohingya sudah tidak mencerminkan sebagai tindakan seorang manusia. Dari sisi agama, sentimen yang berlebih terhadap agama tertentu akan berakibat fatal. Bahkan ajaran yang selama ini diyakini sebagai ajaran penebar kedamaian pun bisa berubah drastis.

Berikut ini kami sarikan dari berbagai sumber, bagaimana solusi untuk menyelesaikan konflik SARA di Rohingya.

Solusi yang Ditawarkan Oleh PBB

Asisten Komisaris Tinggi PBB untuk pengungsi yang bertanggung jawab dalam perlindungan, Volker Tusk mengatakan tidak akan ada solusi jika akar penyebab membanjirnya pengungsi Rohingya belum ditangani.

“Ini akan membutuhkan tanggung jawab penuh Myanmar terhadap semua rakyatnya. Pemberian kewarganegaraan adalah tujuan akhir,” katanya, dikutip dari laman Republika.

Solusi yang Ditawarkan Oleh Menlu Indonesia

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi menyerahkan usulan Formula 4+1 untuk Rakhine State kepada konsulat negara Myanmar dalam misi diplomasi di Nay Pyi Taw, Myanmar, Senin (4/9/2017).

“Saya hadir di Myanmar membawa amanah masyarakat Indonesia, yang sangat khawatir terhadap krisis kemanusiaan di Rakhine State dan agar Indonesia membantu,” terang Retno saat bertemu dengan konsulat negara, Daw Aung San Suu Kyi.

Retno menyampaikan, ia juga membawa suara dunia internasional agar krisis kemanusiaan di Rakhine State dapat segera diselesaikan.

Adapun Formula 4+1 yang diusulkan untuk Rakhine State tediri dari empat elemen, yaitu mengembalikan stabilitas dan keamanan, menahan diri secara maksimal dan tidak menggunakan kekerasan, perlindungan kepada semua orang yang berada di Rakhine State tanpa memandang suku dan agama, dan pentingnya segera dibuka akses untuk bantuan keamanan.

Solusi yang Ditawarkan Oleh Pakar Hukum UI

Pakar hukum dari Universitas Indonesia (UI), Heru Susetyo, yang sejak tahun 2008 mendampingi dan meneliti warga Rohingya, menyebutkan delapan solusi untuk mengatasi tragedi kemanusiaan etnis Rohingya di Myanmar yang kembali terjadi.

Pertama, kata dia, menghentikan kekerasan dan diskriminasi dalam segala bentuknya. Kedua, mengakui etnis Rohingya sebagai bagian dari Warga Negara Myanmar.

Ketiga, tambahnya, menegakkan hukum yang adil dan tegas bagi para penjahat kemanusiaan dan pelaku genosida, baik untuk tingkat nasional maupun mahkamah pidana internasional.

“Termasuk membuka akses bagi tim International Fact and Finding Team,” ujar Pendiri Pusat Advokasi Hukum dan Hak Asasi Manusia (PAHAM) ini kepada hidayatullah.com, kemarin, Selasa (05/09/2017).

Kemudian, lanjut pendiri PIARA (Pusat Informasi dan Advokasi Rohingya Arakan) ini, melakukan repatriasi para manusia perahu dan pencari suaka yang terserak di banyak negeri saat kondisi keamanan dan sospol sudah kondusif.

Lalu, negeri Myanmar wajib membuka akses untuk masuknya bantuan kemanusiaan ke Rakhine di Myanmar, entah itu berupa medis, obat-obatan, sandang,pangan, air bersih, hingga bantuan pendidikan dari pihak luar.

Keenam, melakukan rehabilitasi, restorasi, dan rekonstruksi aspek-aspek fisik maupun non-fisik di Arakan/Rakhine, termasuk re-edukasi tentang urgensi multikulturalitas di Myanmar.

Ketujuh, membangun ekonomi, pendidikan, dan kesehatan serta meningkatkan kesejahteraan, khususnya di Rakhine, dan umumnya di Myanmar.

Dan terakhir, mengeluarkan sikap dan tindakan yang lebih proaktif dari PBB dan ASEAN untuk menghentikan kekerasan dan diskriminasi terhadap etnis Rohingya. “Termasuk melakukan intervensi kemanusiaan dan mengirim peacemaking force (pasukan perdamaian) apabila kekerasan terus berlarut-larut,” pungkasnya, dikutip dari laman Hidayatullah.

Solusi yang diserukan oleh FPI sejak 2013 silam

Kata Ustad Jakfar, makanan, minuman, pakaian dan obat-obatan telah dikirimkan kepada mereka. Tetapi, sejatinya itu bukanlah solusi atas konflik Rohingya.

“Kami minta sebagaimana terjadi di Filipina Selatan. Satu yang bisa selesaikan adalah jihad. Harus ada persiapan jihad,” katanya sembari mengutip ayat 60 Surat Al Anfal yang merupakan perintah dari Allah bagi umat Islam untuk mempersiapkan jihad.

Jihad untuk Rohingya, kata Ustad Jakfar, bisa langsung secara fisik maupun dengan mencurahkan pemikiran, seperti dimuat dalam laman suara-islam.com.

Solusi yang diserukan Ustadz ABB sejak 2013 lalu

Dari balik sel Super Maximum Security, LP Pasir Putih Nusakambangan, ustadz Abu Bakar Ba’asyir menyerukan kaum muslimin agar berjihad ke Myanmar. Sebab, hanya jihad solusi satu-satunya menghentikan genosida terhadap Muslim Rohingnya yang terus terjadi.

“Semua itu kesalahan kita sendiri yang tidak mau berjihad. Di Filipina itu kaum Muslimin kuat karena mereka mau berjihad,” tuturnya.

Ustadz Ba’asyir pun mengutip ayat Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 82:

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” (QS. Al-Maidah: 82).

“Jadi orang yang paling buruk permusuhannya terhadap Islam itu adalah orang Yahudi dan orang Musyrik,” tegasnya.

Selain itu, ia menyesalkan sikap orang-orang Budha di Indonesia yang tak mampu menghentikan pembantaian terhadap Muslim Rohingya yang dilakukan oleh penganut Budha di Myanmar.

“Omong kosong, ajaran Budha yang katanya mengasihi itu, buktinya yang membantai kaum Muslimin adalah orang-orang Budha,” tandasnya, seperti dimuat dalam laman voa-islam.com.

"Lalu, solusi mana yang menurut Anda paling bisa menyelesaikan masalah di Rohingya?

Sumber globalmoslem

Tidak ada komentar