Header Ads

Rambu rambu jihad bagi muslimah

banner ads
MANJANIQ.COM – Dalam kajian fikih, para ulama sepakat bahwa kaum wanita dibolehkan terlibat dalam amal jihad. Keikutsertaan mereka dalam medan jihad untuk mendukung kaum muslimin di barisan belakang, yaitu mengobati serta merawat yang teluka, menyiapkan minum dan sebagainya. Kesimpulan tersebut dikuatkan oleh beberapa riwayat yang menyebutkan tentang perannya para sahabiyah yang ikut berperang bersama Nabi SAW dalam beberapa medan jihad. Salah satunya adalah apa yang diceritakan oleh Rabi’ binti Mu’awwidz r.a, ia berkata:

كُنَّـــــا مَعَ الـــــــنَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَسْقِــــيُ وَنُـــدَاوِي الجُــــرْحَى وَنَـــرُدُّ القَـــــــتْلَى إِلَى المـَـــدِيْنَةِ

“Dahulu Kami para wanita (ikut berperang) bersama Nabi SAW, kami memberi minum dan mengobati yang terluka serta mengurusi jenazah untuk dipulangkan ke Madinah.” (HR. Bukhari)

Namun demikian kebolehan tersebut tetap ada rambu-rambu yang telah diatur di dalam syariat. Semua itu tidak lain agar keberadaan muslimah di medan jihad tidak mengundang bahaya, baik bagi dirinya sendiri atau membawa fitnah bagi para pasukan yang lain. Di antara rambu-rambu yang disimpulkan oleh para ulama adalah sebagai berikut:

1. Bukan wanita yang memiliki usia muda

Wanita yang dibolehkan berjihad adalah wanita yang sudah berumur tapi masih kuat unutk berjihad, bukan wanita muda yang lebih banyak mendatangkan fitnah dan cepat dihinggapi rasa takut dan bingung dalam pertempuran.

Dalam kitab Syarh As-Saair Al-Kabir, Imam Muhammad Hasan Asy-Syaibani menerangkan, “Tidak ada larangan ikut serta seorang wanita yang sudah berumur dalam perang dengan tugas mengobati orang terluka, menyediakan air, dan menyiapkan makanan bila hal itu memang dibutuhkan. Sedangkan wanita muda dilarang ikut serta dalam perang karena takut akan menimbulkan fitnah. Sementara kebutuhan perang wanita telah tercukupi oleh para wanita tua.” (Syarh As-Saair Al-Kabir, 1/ 185)

Dalam kitab al-Mughni disebutkan, “Tidak boleh bagi seorang wanita masuk ke negeri musuh bersama pasukan Islam, kecuali wanita yang sudah lanjut usia. Mereka bertugas memberi minum dan mengobati yang terluka. Sebagaimana yang pernah dilakukan oleh nabi secara umum. Nabi benci dan tidak senang dengan wanita muda yang ikut masuk ke negeri musuh, karena mereka bukan dari ahli perang, walau terkadang dibutuhkan untuk mendorong orang-orang yang pengecut. (al-Mughni, 9/174)

Mungkin sebagian ada yang bertanya bukankah Nabi SAW sendiri terkadang membawa istrinya yang masih muda dalam perperagan? Pertanyaan ini dijawab oleh Imam Ibnu Qudamah dalam kitabnya, al-Mughni. beliau menjelaskan, “Bila dikatakan bahwa Nabi SAW sering keluar dengan istrinya yang masih muda, seperti Ummul Mukminin Aisyah. Maka kita katakan, ‘Itu hanya satu-satunya wanita yang dibawa oleh Nabi SAW karena sebuah kebutuhan. Dan seperti ini hanya boleh dilakukan oleh seorang pimpinan ketika memang dibutuhkan. Sementara para prajurit tidak diperkenankan, karena dikhawatiran akan menjerumuskan kepada hal-hal yang diharamkan’.” (Al-Mughni, 9/175)

Pendapat Ibnu Qudamah dikuatkan oleh beberapa riwayat dari sunnah Nabi SAW, sehingga wanita di zaman Nabi yang ikut keluar berperang tidak ada dari wanita yang masih muda, tapi dari wanita yang sudah lanjut usia, seperti Ummu Sulaim, Nasibah binti Ka’ab, Ummu Atiyah, Ruba’i binti Mua’wadz dan lain-lain.

2. Berjihad bersama pasukan yang besar sehingga ada rasa aman baginya

Bagi umat Islam, wanita merupakan aurat dan sumber terjadinya fitnah, maka diperlukan ada orang yang menjaganya dan melindunginya dari orang-orang yang dengki dan dari serangan musuh. Maka berjihadnya wanita bersaama pasukan yang sedikit lebih mudah terjadinya fitnah dan musuh pun akan mudah mengalahkan lalu menganiaya kehormatannya.

Menurut pengarang kita Bada’i Ash-Shana’i, “Hukum berjihadnya wanita menuju negeri kafir mesti ada perinciannya. Bila berangkat bersama pasukan besar yang mampu menjamin keamanannya maka tidak makruh, karena pasukan membutuhkan perannya untuk memasak dan kebersiahn. Lalu bila berangkat bersama pasukan kecil yang tidak menjamin keamanannya, maka hukumnya jihad menjadi makruh baginya.” (Bada’i Shana’i, 7/102)

3. Mendapatkan izin dari suami ketika hendak keluar berjihad

Para ulama sepakat atas keharaman seorang wanita keluar untuk melaksanakan ketaatan yang sunnah tanpa izin kepada suaminya.

Bahkan Ibnu Mudzir telah menyebutkan adanya ijma’ atas permasalahan ini. Dia berkata, “Para ulama sepakat bahwa seorang suami berhak melarang istrinya keluar untuk melaksanakan haji yang sunnah.” (Al-Ijma’ Li Ibni Mundzir, 1/48)

Termasuk dalam hal ini juga, hukum jihad offensive bagi wanita, karena dalam kondisi seperti ini mereka tidak diwajiabkan untuk mengikutinya. Penulis Bada’i Shana’i berkata, “Tidak boleh seorang hamba sahaya keluar kecuali setelah izin kepada tuannya, tidak juga wanita kecuali setelah izin kepada suaminya. Dikarenakan perannya seorang hamba sahaya bagi tuannya dan peran istri kepada suaminya hukumnya fardhu ‘ain. maka lebih diutamakan daripada jihad yang fardhu kifayah.” (Bada’i Shana’i, 7/98)

4. Berjihad disertai suami atau mahram

Ketentuan ini terkait erat dengan karakteristik jihad itu sendiri, yaitu sering harus meninggalkan kampung halaman. Sehingga ketika seorang muslimah hendak bepergian maka tentu ia harus disertai suami atau mahramnya.
Dalam beberapa riwayat, dengan tegas Nabi SAW melarang wanita melakukan safar tanpa mahram. Di antaranya beliau bersabda:

لاَ تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ ثَلاَثًا إِلاَّ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ

“Janganlah kaum wanita melakukan safar sejauh tiga hari (perjalanan) melainkan bersama dengan mahramnya.” (HR. Bukhari-Muslim)

Dalam lafadh lain, Nabi SAW bersabda:

“Tidak halal (boleh) bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir melakukan safar sejauh sehari semalam (perjalanan) dengan tanpa mahram.” (HR. Bukhari-Muslim)

Imam An-Nawawi berkata, “Para ulama berpendapat bahwa beragamnya lafal hadis di atas karena beragamnya orang yang bertanya dan beragamnya tempat. Adanya larangan tiga hari bukan berarti kalau sehari semalam atau setengah hari menjadi boleh.” (Syarh Shahih Muslim, 9/103)

Ibnu Abdil Bar mengatakan, “Keluarnya para wanita ke medan jihad bersama mahram dan suami-suami mereka dibenarkan—wallahu’alam—bila berada di kamp yang besar dan bisa menjamin keamanan bagi mereka.” (Al-Istidzkar, I/302)

Demikianlah beberapa ketentuan yang menjadi rambu-rambu bagi wanita muslimah yang hendak berangkat jihad. Semua ketentuan di atas ditetapkan agar terhindar dari hal-hal yang membahayakan, baik itu yang mengancam kehormatan wanita itu sendiri, atau berupa fitnah yang menimpa terhadap para pasukan perang yang lain. Apalagi ketika berada di medan jihad yang sifatnya cukup identik dengan hal-hal yang keras, payah dan penuh kesulitan. Wallahu a’lam bis shawab!

Sumber kiblat

Tidak ada komentar