Header Ads

hukum amalan jihad bagi muslimah

banner ads
MANJANIQ.COM- Meskipun pimpinannya telah berhasil dilumpuhkan, Perburuan kelompok Santoso di Poso hingga kini masih terus berlanjut. Berita terakhir yang sempat heboh di media adalah penyerahan diri yang dilakukan oleh istri Santoso, Jumiatun Muslimayatun alias Delima, di sekitar Desa Tamanjeka, Kecamatan Poso Pesisir, Sabtu (23/7) lalu.

Menurut informasi yang berkembang, Delima pasrah menyerahkan diri kepada Tim Alfa 17 Yonif 303 Kostrad. Saat itu, Delima menggunakan kerudung panjang berwarna hitam, memakai cadar coklat, dan celana loreng, Ia tampak dikawal oleh sejumlah personel TNI dengan kondisi tangannya yang terikat.

Delima hanyalah satu diantara dua muslimah lainnya yang ikut bergerilya di pergunungan Poso. Keterlibatan mereka termotivasi dengan semangat melawan kedzaliman yang selama ini merajalela terjadi di sekitar mereka. Seruan jihad diyakininya menjadi salah satu solusi. Dengan segala keterbatasan diri, mereka beranikan diri untuk bergerilya bersama suaminya di tengah-tengah hutan belantara.

Kemudian masyarakat pun banyak yang bertanya-tanya, jika memang itu sebuah aksi jihad yang dibenarkan, apakah keterlibatan wanita muslimah untuk melakukan aksi seperti itu dibenarkan dalam syariat? Lalu bagaimana Islam memandang hukum berjihad bagi wanita?

Jihad Wanita Muslimah

Dalam catatan sejarah Islam, Keterlibatan wanita muslimah dalam medan jihad bukanlah perkara yang asing. Kisah para sahabiyah yang berjihad bersama kaum muslimin menjadi bukti yang tak terbantahkan. Kehadiran mereka di medan jihad cukup memberi kontribusi untuk meraih kemenangan. Selain menjadi pasukan yang berada di barisan belakang, yaitu berkerja untuk menyiapkan minuman dan mengobati yang terluka, juga tidak sedikit di antara mereka yang terlibat duel melawan musuh.

Sebut saja misalnya Ummu Amarah binti Ka’ab Al-Anshari. Dalam kitab Siyar A’lam An-Nubala, Imam Adz-Zahabi menyebutkan, “Ummu Amarah pernah mengikuti peristiwa Baiat Aqabah, Perang Uhud, Perang Hudaibiyah, Perang Hunain dan Perang Yamamah. dia berjihad dan terlibat langsung dalam pertempuran dan tangannya terputus ketika mengikuti sebuah pertempuran.” (Siyar A’lam An-Nubala, 2/278)

Kemudian di antara deretan nama-nama lain yang memiliki rekam jejak yang sama adalah Ummu Sulaim, ia berjihad bersama kaum muslimin dalam pertempuran Hunain. Shafiyah binti Abdul Muthallib, ikut serta dalam Perang Uhud dan menjadi pelindung kaum wanita saat terjadi Perang Khandaq. Asma binti Yazid, berjihad bersama kaum muslimin dalam Perang Yarmuk dan berhasil membunuh sembilan tentara Romawi. Selain itu, pastinya masih banyak deretan nama lain yang pernah ikut berjihad bersama kaum muslimin.

Namun di sisi lain, dalam beberapa riwayat juga disebutkan bahwa Aisyah pernah bertanya kepada Rasulullah saw. “Wahai Rasulullah SAW kami tahu jihad itu adalah amalan yang paling utama, apakah kami tidak boleh ikut berjihad? Beliau menjawab, “Bagi kalian ada jihad yang paling utama yaitu haji yang mabrur.” (HR. Bukhari)

Dalam riwayat lain, masih dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

يَا رَسَوْلَ اللهِ، هَلْ عَلَى النِّسَاءِ جِهَادٌ؟ قَالَ: جِهَادٌ لاَ قِتَالَ فِيْهِ، اَلْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ.

“Wahai Rasulullah, apakah ada jihad bagi wanita?” Beliau menjawab, “Jihad yang tidak ada peperangan di dalamnya, yaitu haji dan umrah.” (HR. Ibnu Majah)

Jihad Wanita Menurut Ulama Empat Mazhab

Berdasarkan hadis di atas, Para ulama sepakat bahwa jihad tidak wajib bagi wanita. Karena jihad identik dengan hal-hal yang berat dan payah, sementara perempuan memiliki sifat yang lemah. Oleh karena itu, salah satu syarat kewajiban untuk melaksanakan jihad adalah statunya laki-laki. Syarat dan ketetapan ini telah disepakati oleh seluruh ulama mazhab.

Imam Al-kasani, salah satu ulama dari kalangan Hanafiah berkata, “Jihad tidak diwajibkan bagi anak kecil dan wanita, karena keduanya tidak pantas memikul beratnya peperangan.” (Al-Bada’i Sana’i, 9/4301)

Sementara dari kalangan Malikiah, Imam Ad-Dasuki berkata, “Tidak diwajibkan jihad pada anak kecil dan wanita ketika hukumnya tidak fardhu ‘ain atau tidak ada perintah dari imam kaum muslimin karena kondisi yang tidak mampu. Namun kalau tidak, maka kewajiban jihad berlaku padanya.” (Hasyiyah Ad-Dasuki, 2/175)

Al-Adawi juga menulis, “Jihad hukumnya fardhu kifayah kepada lelaki yang merdeka, berakal, baling dan mampu. Dan tidak ditujukan kepada yang sebaliknya (wanita, tidak berakal, hamba sahaya, belum baling dan tidak mampu.” (Hasyiyah al-Adawi, 2/4)

Pendapat yang sama juga diungkapkan oleh ulama Syafi’iah. Dalam kitab Al-Majmu’ Syarhul Muhadzab, Imam An-Nawawi berkata, “Tidak diwajibkan jihad kepada wanita. Karena terdapat riwayat dari Aisyah r.a bahwa ia pernah berkata, ‘Aku bertanya kepada Nabi SAW tentang kewajiban jihad,’ maka Nabi SAW bersabda, ‘Jihad kalian adalah haji, cukuplah kalian dengan kewajiban haji, karena jihad adalah perang, padahal para wanita tisak terbiasa dengan perang.” (Majmu Syarhul Muhadzab, 19/270)

Ibnu Bathal berkata, “Hadis Aisyah menunjukkan tidak ada kewajiban jihad bagi para wanita.  Dan tidak adanya kewajiban ini dikarenakan mereka dituntut untuk menutup aurat dan menghindari fitnah kaum laki-laki.” (Fathul Bari, 6/76)

Sementara dari Mazhab Hambali, Ibnu Qudamah menerangkan, “Syarat keempat dalam berjihad adalah laki-laki, maka tidak wajib jihad bagi kaum wanita. Karena ada riwayat dari Aisyah, ia berkata, “Aku bertanya kepada Nabi saw, apakah para wanita diwajibkan berjihad?” Nabi menjawab, “Ada kewajiban jihad tapi bukan perang, yaitu haji dan umrah. Karena jihad itu adalah perang dan wanita bukan termasuk dari yang memikulnya, sebab memiliki sifat yang lemah.” (Al-Kafi, 4/253, al-Mughni, 9/197)

Namun demikian, ketetapan hukum di atas bukan berarti kaum wanita dilarang secara mutlak untuk ikut serta dalam medan jihad. Para ulama juga sepakat bahwa wanita tetap  dibolehkan untuk ambil bagian dalam medan perang—sebagaimana riwayat yang disebutkan di atas—untuk membantu barisan belakang; yaitu merawat yang terluka, menyediakan makanan dan menghalau kaum muslimin yang mencoba lari dari medan tempur. Tentunya semua itu ada batasan-batasan khusus yang telah diatur dalam syariat Islam.

Kapan wanita harus berjihad?

Jihad akan menjadi wajib apabila status hukum jihad berubah menjadi fardhu ‘ain, misalnya ketika musuh menyerang ke dalam negeri, maka kondisi dharurat seperti itu menjadikan siapa pun harus melakukan perlawanan. Bahkan seorang budak tidak perlu lagi memohon izin pada tuannya, dan seorang wanita tidak perlu memohon izin kepada suaminya.

Imam Al-Kasani berkata, “Bila seruan perang dikumandangkan karena adanya serangan musuh ke dalam negeri, artinya hukum jihad menjadi fardhu `ain, maka wajib hukumnya bagi seluruh kaum muslimin, yang mampu melakukan perlawanan, untuk berjihad. Berdasarkan firman Allah;

انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat.” (QS Taubah 41).

Maka seorang budak keluar berperang tanpa harus izin tuannya, istri tanpa harus izin suaminya, demikian juga anak-anak juga dibolehkan berperang tanpa izin kedua orang tuanya.” (Baa’i Shana’i, 9/4301)

Imam Az-Zulai’i menjelaskan, “…Jihad fardhu ‘ain bila musuh menyerbu. Maka wanita dan budak boleh keluar tanpa izin suami dan tuannya. Karena tujuan yang diinginkan tidak tercapai kecuali dilakukan oleh semua orang. Maka wajib bagi setiap orang. Hak suami dan tuan tidak dimenangkan dalam kondisi fardhu ain, seperti shalat dan puasa. Ini berbeda ketika belum ada seruan umum karena dengan selain mereka sudah cukup. Jadi tidak perlu mengabaikan hak keduanya. Demikian pula anak boleh keluar tanpa izin kedua orang tuanya.” (Tabyin Al-Haqa’iq Syarh Kanzil Daqaiq, 9/266)

Ibnu Nuhas berkata, “Seandainya seorang wanita mengetahui bila dia menyerah akan mendapatkan siksaan, maka wajib baginya membela diri walaupun akhirnya dia terbunuh. Karena mereka yang dipaksa berzina tetap tidak diperbolehkan baginya untuk menuruti paksaan tersebut.” (Masyari’ al-Asywaq, 1/27)

Maka dapat disimpulkan bahwa hukum jihad bagi kaum wanita pada dasarnya adalah boleh, tidak wajib. Ketetapan itu berlaku ketika status hukum jihad masih sebatas fardhu kifayah. Namun ketika status jihad telah berubah menjadi fardhu ‘ain maka setiap kaum muslimin, baik laki-laki maupun perempuan, merdeka ataupun budak, selama mampu melakukan perlawanan maka seluruhnya wajib ikut berperang. Wallahu ‘alam bish shawab!

Sumber kiblat

Tidak ada komentar