Header Ads

Keluarga Adalah Awal Terbentuknya Kejujuran

banner ads
(MANJANIQ.COM)- Diceritakan pernah ada seorang kaisar di Timur Jauh yang sudah tua tengah memilih penggantinya. Ia tidak mau memilih salah satu dari anak-anaknya atau pun asistennya, melainkan ia akan memilih penggantinya dengan cara yang berbeda. Pada suatu hari, ia memanggil semua pemuda di dalam kerajaannya dan berkata, “Kini telah datang waktunya bagiku untuk turun dan memilih penggantiku. Aku memutuskan untuk memilih salah satu di antara kalian. Aku akan memberi kalian masing-masing satu buah biji/benih yang sangat istimewa. Pulanglah kalian, tanamlah benih ini, siramilah dan kembalilah ke sini tahun depan dengan apa yang tumbuh dari satu biji ini. Aku akan menilai tanaman kalian dan yang terbaik akan aku pilih menjadi kaisar berikutnya.”

Ada seorang pemuda bernama Ling. Seperti yang lain, ia pun menanam benih itu dan menyiraminya setiap hari. Setelah sekitar tiga minggu, teman-temannya membicarakan tentang bibit tanaman yang sudah mulai tumbuh. Ling pun memeriksa tanamannya, tapi benih itu belum tumbuh.

Enam bulan berlalu, yang ada hanya pot. Sementara teman-temannya selalu membicarakan tanaman mereka, Ling merasa gagal. Ling tidak berkata apa-apa kepada teman-temannya, ia masih terus menunggu benih yang ditanamnya tumbuh.

Setahun pun berlalu dan semua pemuda membawa tanaman mereka kepada kaisar untuk diperiksa. Ling mengatakan kepada ibunya bahwa ia tidak mau menghadap kaisar dengan membawa pot kosong. Tapi sang ibu terus mendorongnya untuk pergi membawa pot itu menghadap kaisar. Ling akhirnya menuruti nasehat ibunya untuk jujur dan membawa pot itu ke istana apa adanya.

Sesampai di istana, ia kagum melihat berbagai jenis tanaman milik teman-temannya yang tumbuh dalam bentuk dan ukuran yang bermacam-macam. Ling menaruh potnya yang kosong di lantai, sementara teman-temannya menertawakan.

Kaisar tiba, mengamati ruangan dan menyapa para pemuda itu. Dengan perasaan malu, Ling mencoba bersembunyi di belakang. “Wah tanaman kalian sudah tumbuh besar, hari ini satu di antara kalian akan menggantikanku.” Kata sang kaisar.

Kaisar kemudian melihat Ling di belakang ruangan dengan potnya yang kosong. Ia memerintahkan para penjaga untuk membawanya ke depan. Ling ketakutan.

Semua pemuda mengolok-oloknya. Kaisar meminta semuanya untuk tenang, ia menanyakan nama Ling dan berkata, “Inilah kaisar baru kalian, namanya adalah Kaisar Ling.”

Ling tidak percaya, ia tidak bisa menumbuhkan benih yang diberikan sang kaisar. Kemudian sang kaisar berkata, “Satu tahun yang lalu, aku memberi semua pemuda yang ada disini satu buah benih. Aku menyuruh kalian menanam benih itu, menyiraminya, dan membawanya kembali kepadaku hari ini. Tapi aku memberi benih yang telah direbus dan tidak mungkin tumbuh. Ternyata kalian menggantinya dengan benih lain. Ling adalah satu-satunya yang dengan keberanian dan kejujurannya membawa pot dengan benih yang kuberikan. Oleh karena itu, dialah orang yang akan menjadi kaisar yang baru.”

Begitulah, jujur dalam segala variannya, mendatangkan segala kebaikan bagi pelakunya, meskipun itu orang kafir, sebagaimana yang ditunjukkan dalam hadits Rasulullah, “Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebajikan.” (HR. Muslim)

Adanya “alif lam” dalam kata “ash-shidq” maupun “al-birr”, berfungsi sebagai lil istighraaq, yakni mencakup segala bentuk kejujuran dan segala bentuk kebajikan, baik kebaikan dalam berhubungan dengan Allah SWT maupun kebaikan yang terkait dengan hubungan sesama manusia, mencakup keberuntungan di dunia maupun di akhirat. Kesempurnaan maslahat dan kebajikan, berbanding lurus dengan kadar kejujuran. Begitu pun sebaliknya, berkurangnya nilai kejujuran, menjadi sebab berkurangnya nilai kebaikan.

Orang Tua sebagai Qudwah

Sebuah sisi yang kini banyak terlalaikan sepanjang perjalanan membimbing seorang anak adalah kejujuran. Kejujuran harus ditanamkan sejak kecil. Untuk itu jelas dibutuhkan keteladanan orangtua dalam hal ini. Namun yang terjadi, tanpa disadari, orangtua justru memposisikan diri sebagai guru dalam hal kebohongan atau ketidakjujuran.

Misalnya, orangtua tidak menegur anaknya yang diketahuinya berbohong kepada temannya, atau terkadang orangtua memberikan contoh buruk kepada si anak dengan berbuat dusta, atau yang lebih parah lagi orangtua menyuruh si anak berbohong demi keuntungan orangtuanya.

Sebagai contoh nyata, orangtua yang tidak berkenan menerima seorang tamu yang datang untuk kepentingan tertentu, dia berpesan kepada anaknya, “Katakan saja ayah dan ibu sedang tidak ada di rumah.” sementara dia bersembunyi di kamarnya. Atau di waktu lain, seorang ibu memanggil anaknya yang sedang bermain, “Ayo pulang, Nak! Ibu kasih kue nanti di rumah.”

Tapi ternyata sesampai di rumah, tak sepotong pun kue diberikan. Atau juga terkadang orangtua menyuruh anak melakukan sesuatu dengan iming-iming hadiah, namun ketika si anak melaksanakan perintah orangtuanya tak sesuatu pun didapat, bahkan ketika si anak menagih janji, kemarahanlah yang didapatkannya. Dari sini anak-anak belajar berdusta dan ingkar janji, justru dari orangtua mereka sendiri.

Kepada Allah SWT sajalah kita mohon pertolongan dari kerusakan semacam ini. Padahal semestinya sudah menjadi tugas orangtua membimbing, mengarahkan dan mengajarkan anak-anaknya untuk senantiasa jujur dalam ucapan dan perbuatan, serta menjauhi dusta dan ingkar janji.

Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 119

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”

Banyak pula peringatan yang disampaikan Rasulullah SAW, diantaranya beliau katakan bahwa dusta akan menggiring si pendusta berbuat berbagai keburukan. Demikian yang beliau kabarkan dalam hadits yang disampaikan oleh Abdullah bin Mas’ud ra.

“Sesungguhnya kejujuran membimbing pada kebaikan dan kebaikan akan membimbing ke syurga. Dan seseorang senantiasa jujur dan membiasakan untuk jujur hingga dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya dusta membimbing pada kejahatan dan kejahatan akan membimbing ke neraka. Dan seorang hamba senantiasa berdusta dan membiasakan untuk dusta hingga dicatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR. Bukhari & Muslim)

Shiddiq Harus Ditanamkan dalam Segala Kondisi

Berdusta, demikian buruk akibatnya, terlebih lagi berdusta kepada anak-anak, akan membuka pintu keburukan yang luas, karena nantinya anak-anak akan menirunya, hingga mereka akan terbiasa berbicara dusta dan mengingkari janji. Selain itu, anak akan kehilangan kepercayaan kepada orangtuanya, sehingga nantinya mereka pun tidak lagi membenarkan orangtuanya dalam berbagai hal.

Dengan gamblang Rasulullah SAW melarang seorang ibu berdusta kepada anaknya. Dikisahkan oleh ‘Abdullah bin ‘Amir bin Rabi’ah Al-‘Adawi ra.: Suatu hari ibuku memanggilku, sementara Rasulullah SAW sedang duduk di rumah kami. Ibuku berkata, “Mari sini, aku akan memberimu sesuatu.” Rasulullah SAW bertanya kepada ibuku, “Apa yang akan kau berikan padanya?” Ibuku menjawab, “Aku akan memberinya kurma.” Lalu beliau berkata kepada ibuku, “Seandainya engkau tidak memberinya sesuatu, niscaya dicatat atasmu sebuah kedustaan.” (HR. Abu Dawud)

Kisah ini menunjukkan bahwa setiap perkataan yg ditujukan kepada anak-anak, ketika mereka menangis misalnya, baik untuk bergurau atau untuk membohongi si anak bahwa nanti akan diberi sesuatu atau ditakut-takuti dengan sesuatu, adalah dilarang dan termasuk kedustaan. Walaupun maksudnya untuk sekedar bergurau dan bercanda, seseorang tetap tidak diperbolehkan mengatakan sesuatu yg dusta.

Rasulullah SAW mengancam orang yang berdusta dalam candanya sebagaimana disampaikan Bahz bin Hakim dari ayahnya dari kakeknya:

Saya mendengar Nabi SAW bersabda, “Binasalah orang yang berbicara untuk membuat orang-orang tertawa dengan ucapannya, lalu dia berdusta. Binasalah dia, binasalah dia!” (HR. Tirmidzi)

Dari perkataan Rasulullah SAW tersebut, dapat dipahami tidak mengapa seseorang membuat orang-orang tertawa dengan ucapan yang jujur.

Rasulullah SAW sendiri bukanlah orang yang tidak pernah bercanda, namun canda beliau tidak pernah lepas dari kebenaran. Abu Hurairoh ra. Mengisahkan bahwa para sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, engkau bercanda dengan kami?” Maka beliau pun menjawab, “Sesungguhnya aku tidak mengatakan kecuali kebenaran.” (HR. Tirmidzi)

Oleh karena itu, orangtua tidak boleh bergurau dengan gurauan yang dusta, juga harus melarang dan menegur apabila mengetahui anak-anak mereka bergurau dengan kata-kata yang dusta.



Menanamkan Kejujuran Harus Diiringi Kesiapan menerima Konsekwensinya

Kisah-kisah tentang kejujuran dapat pula diceritakan kepada anak-anak untuk memberikan gambaran kepada mereka bahwa kejujuran akan senantiasa membawa kebaikan. Sebuah kisah indah tentang kejujuran dituturkan oleh Ka’ab bin Malik ra. Ketika dia tertinggal dari perang Tabuk, tanpa satu udzur pun, sementara segala perlengkapan perang telah dia persiapkan.

Ka’ab bin Malik menceritakan, ketika ada kabar Rasulullah SAW sudah kembali dari peperangan itu, dia pun merasa gelisah. Terlintas dalam hatinya untuk berdusta kepada Rasulullah SAW untuk menghindari kemurkaan beliau, namun Ka’ab yakin dia tidak akan bisa selamat dari kemurkaan beliau selama-lamanya, hingga ia pun bertekad untuk berkata jujur.

Setiba dari peperangan, seperti kebiasaan Rasulullah SAW setiap pulang dari safar, beliau masuk masjid dan sholat dua roka’at. Setelah itu, orang-orang yang tidak ikut dalam peperangan mengajukan udzur masing-masing dan bersumpah di hadapan Rasulullah SAW. Beliau pun menerima pengakuan yang nampak dari mereka, membai’at dan memohonkan ampun bagi mereka dan menyerahkan isi hati mereka kepada Allah SWT.

Hingga datanglah Ka’ab. Ketika Rasulullah SAW bertanya tentang udzurnya, Ka’ab mengatakan, “Wahai Rasulullah, andaikan aku duduk di hadapan selainmu dari kalangan ahli dunia, tentu aku berpikiran untuk keluar dari kemarahannya dengan mengajukan suatu udzur, lagipula aku pandai berdebat. Akan tetapi, demi Allah, aku tahu seandainya hari ini kukatakan kepadamu kebohongan yang membuatmu ridha kepadaku, sungguh Allah SWT akan membuatmu marah kepadaku.

Dan bila kukatakan kepadamu perkataan jujur yang membuatmu marah kepadaku, sungguh dengan itu kuharapkan kesudahan yang baik dari Allah SWT. Demi Allah, aku tidak memiliki udzur apa pun. Demi Allah, tak pernah diriku sekuat dan semudah seperti saat aku tertinggal dari peperangan bersamamu.”

Rasulullah SAW pun bersabda, “Orang ini telah berkata jujur. Bangkitlah, sampai Allah berikan keputusan tentangmu.”

Waktu terus bergulir, Rasululullah SAW melarang setiap orang berbicara dengan Ka’ab dan dua orang shahabat lain yang diberi keputusan serupa. Dunia pun terasa sempit bagi Ka’ab, tak ada seorang pun yang mau menyapanya, siapa pun dan dimana pun. Bahkan Rasulullah SAW pun enggan bertatap pandang dengannya.

Inilah yang harus dia jalani, hingga lima puluh malam lamanya. Keesokan harinya, usai sholat shubuh di atas rumahnya, Ka’ab duduk sembari merasakan kesempitan hatinya. Tiba-tiba terdengar seseorang berseru kepadanya, “Wahai Ka’ab bin Malik, bergembiralah!” Ka’ab pun tersungkur sujud, dia tahu kelapangan itu telah datang. Ternyata ketika sholat shubuh, Rasulullah telah mengumumkan di hadapan para shahabat bahwa Allah SWT menerima taubat Ka’ab dan dua orang temannya. Orang-orang pun berdatangan menyatakan kegembiraannya.

Setelah itu, Ka’ab datang menghadap Rasulullah SAW. Beliau menyambut dengan wajah yang begitu bersinar bagai rembulan karena rasa gembira, “Bergembiralah dengan kebaikan yang kau dapat hari ini, semenjak engkau dilahirkan ibumu.” Ka’ab bertanya, “Apakah ini darimu, wahai Rasulullah? Ataukah dari Allah?”

“Tidak, bahkan ini dari Allah SWT.”

Allah SWT menurunkan ayat 117-119 dari surat At-Taubah:

لَقَدْ تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (١١٧)وَعَلَى الثَّلاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّى إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الأرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ وَظَنُّوا أَنْ لا مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلا إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ (١١٨)يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ (١١٩)

“Sungguh, Allah telah menerima tobat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar, yang mengikuti Nabi pada masa-masa sulit, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada mereka. Dan terhadap tiga orang yang ditinggalkan. Hingga ketika bumi terasa sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah (pula terasa) sempit bagi mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja, kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat, Maha Penyayang.”

Saat itu Ka’ab mengatakan, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah menyelamatkanku dengan kejujuranku. Dan termasuk taubatku, aku tidak akan berbicara kecuali dengan jujur seumur hidupku.”

Ka’ab menceritakan, “Demi Allah, aku tak pernah bersengaja bicara dusta semenjak kukatakan hal itu kepada Rasulullah SAW sampai hari ini dan sungguh aku berharap agar Allah SWT tetap menjagaku sepanjang sisa umurku.”

Dia juga mengatakan,  “Demi Allah, tidaklah Allah memberikan nikmat pada diriku setelah memberikan petunjuk kepadaku untuk ber-Islam, yang lebih besar daripada kejujuranku pada Rasulullah SAW sehingga aku tidak berdusta pada beliau dan binasa seperti binasanya orang-orang yang berdusta.”

Inilah sebuah teladan yang memberikan pelajaran besar bagi anak-anak untuk menanamkan kejujuran dalam dirinya, walaupun untuk mengakui kesalahan.

Demikianlah, tak ada jalan lain bagi orangtua kecuali berbenah diri dengan mulai membiasakan untuk berkata dan berbuat jujur, baik itu jujur terhadap Allah SWT maupun jujur terhadap manusia, sehingga terus membiasakan diri untuk jujur, setahap demi setahap sampai kejujuran itu menjadi akhlak kita, sebagaimana dalam hadits yang disampaikan oleh Abdullah bin Mas’ud ra. di atas.

Begitu pula kepada anak-anak, orangtua harus membiasakan anak-anaknya untuk jujur dalam segala ucapan, perbuatan dan dalam penunaian janji, diiringi dengan upaya untuk menjauhkan mereka dari segala kedustaan. Karena bagaimana pun juga, rumah dan keluarga adalah tempat pertama mereka belajar dan mempelajari segala hal. Semoga dengan begitu, mereka akan menuai kebahagiaan di dunia dan di negeri yang kekal abadi.

Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar