Header Ads

Kitman, Studi tentang Menjaga Rahasia dan Amniyah

banner ads
MANJANIQ.COM, Dalam kehidupan militer Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam, terdapat teladan yang sangat mempesona. Terutama pada keteguhan menjaga rahasia ( kitman ). Hal ini sangat penting untuk dijelaskan dan direnungkan di tengah tengah kaum muslimin hari ini.



Kitman merupakan salah satu factor utama yang wajib diperhatikan kaum muslimin hari ini, karena dengannya sebuah perjuangan bisa sampai kepada titik dimana bisa menjatuhkan dan merebut segala sesuatu yang dimiliki musuh, bahkan kita bisa menguasai Informasi atas kekuatan yang dimiliki musuh.

Sangat disayangkan jika ada sekelompok orang yang memiliki keinginan untuk menegakkan Agama Allah tapi tidak memperhatikan factor-faktor tentang pentingnya menjaga kitman ini.

Dalam bahasa Arab, kata kitman berarti :merahasiakan sesuatu atau menyembunyikannya. Namun dalam istilah kemiliteran kontemporer, kitman mengandung pengertian : merahasiakan informasi informasi asykari/militer terutama yang berhubungan dengan data kualitatif , senjata – senjata , struktur organisasi , kemampuan logistik , komando , manuver – manuver , dan juga yang berkaitan dengan kondisi geografis, dari jangkauan lawan ataupun kawan. Juga tidak membeberkan rahasia – rahasia itu baik yang sifatnya kecil maupun besar, yang sepele atupun yang penting dari jangkauan seluruh manusia tanpa kecuali.

Seorang pejuang sejati haram hukumnya membocorkan rahasianya, termasuk pada orangtua dan kerabat keluarganya. Dalam sejarah militer terdapat banyak contoh yang berbicara bagaimana pihak musuh sanggup meraup berbagai informasi melalui anggota keluarganya- terutama dari kalangan wanita- sehingga bocornya informasi itu mendatangkan kerugian yang sangat besar dalam peperangan dan pertempuran. Sesungguhnya rahasia – rahasia militer wajib tersimpan rapat dalam kemasan kitman yang rapi. Dan tidak ada kata – kata ampun bagi mereka yang membocorkan rahasia kepada pihak musuh ataupun kawan sendiri. Mereka yang tahu rahasia – rahasia asykary/militer wajib untuk merahasiakan terhadap siapa saja.
Terdapat ancaman sangat keras terhadap perbuatan menyebarkan rahasia. Renungkanlah firman Alloh Ta‘ala:

((قَالَ يَا بُنَيَّ لَا تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَى إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا لَكَ كَيْدًا إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوٌّ مُبِينٌ ))
“Ayahnya (Nabi Yusuf) berkata: “Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (QS. Yusuf: 5)

Adapun dalil dari Sunnah: Nabi –Alaihi `s-Sholatu wa `s-Salam—bersabda:
( إِنَّ الْعَبْدَ لَيَقُوْلُ اْلكَلِمَةَ لاَ يَقُوْلُهَا إِلاَّ لِيُضْحِكَ بِهَا الْمَجْلِسَ ، يَهْوِيْ بِهَا أَبْعَدَ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ، وَإِنَّ الْمَرْءَ لَيَزِلُّ عَلَى لَسَانِهِ، أَشَدَّ مَا يَزِلُّ عَلَى قَدَمَيْهِ)
“Sungguh seseorang itu mengatakan suatu kalimat yang barangkali hanya untuk membuat orang yang duduk dengannya tertawa, padahal itu bisa melemparkannya sejarak lebih jauh daripada jarak antara langit dan bumi. Sungguh seseorang bisa tergelincir lidahnya dan berakibat lebih dahsyat daripada tergilincirnya kedua kakinya.” (HR. Baihaqi)

Berikut ini adalah contoh-contoh dari Sunnah Nabi dan para Salafus Sholeh dalam menjaga rahasia:

1. Ketika Umar bin Khothob mengangkat Qudamah bin Madh‘un sebagai gubernur pengganti dari Mughiroh, ia memerintahkannya untuk tidak memberitahu siapapun. Ketika itu Qudamah tidak punya bekal (untuk berangkat menunaikan tugas), maka isterinya pergi ke rumah keluarga Mughiroh, ia berkata: “Pinjamilah kami bekal untuk seorang musafir, sesungguhnya Amirul Mukminin telah mengangkat suamiku sebagai gubernur Kufah.” Mendengar itu, isteri Mughiroh memberitahu suaminya. Maka Mughiroh datang kepada Umar dan meminta izin untuk masuk menemuinya, lalu ia berkata: “Anda telah mengangkat Qudamah sebagai gubernur, dan sungguh dia adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” Umar bertanya: “Siapa yang memberitahumu?” Ia berkata: “Wanita-wanita Madinah, mereka memperbincangkan hal itu.” Maka Umar berkata: “Pergilah dan cabutlah ikatan janji dari Qudamah.” (Muhaadhorootu `l-Udabaa’i tulisan Al-Ashfahani, juz I hal. 75)


2. Ketika Nabi Muhammad berniat untuk menaklukkan Mekkah, beliau menyuruh Aisyah untuk menyiapkan perbekalannya. Ketika tengah sibuk menyiapkan bekal, tiba-tiba ayahnya, Abu Bakar, masuk ke rumahnya. Ia bertanya: “Puteriku, apakah Rosululloh menyuruhmu menyiapkan perbekalannya?”
“Iya,” jawab Aisyah.
“Ke manakah beliau hendak pergi?”
“Demi Alloh aku tidak mengerti.” kata Aisyah.
Beberapa saat setelah itu, Nabi n mengumumkan kepada orang-orang bahwa beliau hendak menuju Mekkah dan memerintahkan mereka untuk bekerja keras
dan bersiap-siap, kemudian berdoa:
اَللَّهُمَّ خُذِ الْعُيُوْنَ وَاْلأَخْبَارَ عَنْ قُرَيْشٍ حَتَّى نُبْغِتُهَا فِيْ بِلاَدِهَا
“Ya Alloh, cegahlah mata-mata dan sumber-sumber pemberitaan dari kaum Quraisy sampai kami kejutkan mereka di negeri mereka.”
Akan tetapi Hatib bin Abi Balta‘ah menulis surat kepada orang-orang Quraisy memberitahukan hal itu. Ia mengirim surat itu bersama seorang wanita dan memberinya hadiah. Wanita itu menyembunyikan surat tadi dalam gelungan kepalanya dan Hatib bertindak begitu jauh. Ketika itu Umar mengusulkan agar dia dibunuh, akan tetapi Nabi memaafkannya karena dia termasuk pengikut perang Badar. Terkait dengan peristiwa ini, turunlah firman Alloh Ta‘ala:
((يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ أَنْ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ رَبِّكُمْ إِنْ كُنْتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَادًا فِي سَبِيلِي وَابْتِغَاءَ مَرْضَاتِي تُسِرُّونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَأَنَا أَعْلَمُ بِمَا أَخْفَيْتُمْ وَمَا أَعْلَنْتُمْ وَمَنْ يَفْعَلْهُ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ ))
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rosul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Alloh, Robbmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang padahal Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al-Mumtanahah: 1)
Sisi intelejen yang terdapat dalam kisah di atas adalah sikap Aisyah yang tidak memberitahu ayahnya tentang tujuan Nabi n, Nabi n berdoa agar Alloh mencegah mata-mata kaum Quraisy supaya beliau mengejutkan mereka, Nabi n marah atas perbuatan Hatib, Umar mengusulkan agar dia dibunuh, dan ancaman Alloh bagi mata-mata dan pengkhianat.



3. Nabi n dan Abu Bakar pernah pergi ke daerah Badar dan bertemu seseorang di tengah perjalanan, keduanya bertanya kepadanya tentang berita-berita mengenai kaum Quraisy. Dari orang ini juga mereka berdua tahu posisi kaum Quraisy. Tatkala memberi syarat bahwa ia harus tahu dari kabilah mana mereka berdua, maka Nabi n menjawab: “Terakhir, kami dari air,” lalu keduanya pergi sementara lelaki itu kebingungan memikirkan nasab atau arah yang disebutkan Nabi n tadi.



4. Apabila hendak pergi berperang, Nabi n menyamarkan, seolah-olah hendak menuju ke tempat lain (ber-tauriyah), misalnya ketika hendak berangkat ke perang Hunain beliau bersabda: “Bagaimana jalan menuju Nejed? Bagaimana kondisi airnya? Siapakah musuh yang ada di sana.” Beliau pernah bersabda: “Perang adalah tipu daya.”


5. Hakim meriwayatkan dari Aisyah: Rosululloh n membuat sandi untuk kaum Muhajirin dalam perang Badar, yaitu: “Abdu `r-Rohman,” “Khozroj,” dan “Abdulloh”. Hakim juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas secara marfu‘: “…beliau menentukan sandi untuk kabilah Azdi: “Ya Mabruur…ya Mabruur.”
Ahmad, Abu Dawud dan Tirmizi meriwayatkan sebuah sabda Nabi: “Sesungguhnya di tengah-tengah kalian ada musuh, maka ucapkanlah: Haa Miim Laa yunshoruun.” Dan dari Salamah bin Al-Akwa‘: “Kami pernah berperang bersama Abu Bakar di zaman Rosullulloh (masih hidup), sandi kami ketika itu adalah: “Amit…amit…” (HR. Ahmad dan Abu Dawud) atau terkadang: “Ya Manshuur…Amit.”



6. Ketika perang Uhud usai, Abu Sufyan berteriak: “Adakah Muhammad di antara kalian? Adakah Abu Bakar di antara kalian? Adakah Umar di antara kalian?” Nabi n memerintahkan untuk tidak menjawab teriakannya itu, supaya kaum musyrikin tidak kembali berperang sementara darah pada luka-luka kaum Muslimin belum lagi mengering.



Tipudaya memiliki banyak seni, ini diketahui oleh para pakar perang. Di antaranya adalah tekhnik bersembunyi, kamuflase, berkelit… Berikut ini beberapa masalah syar‘i terkait dengan tipudaya, yaitu:



a) Ketika dalam kondisi perang; dalam hal ini terdapat hadits Ummu Kultsum binti ‘Uqbah s ia berkata: “Aku belum pernah mendengar Rosululloh n memberi kelonggaran untuk berbohong selain ketika seseorang mengucapkannya dalam pertempuran, atau mendamaikan orang, atau kata-kata suami kepada isteri dan isteri kepada suami.” (HR. Ahmad dan Muslim, Abu Dawud juga meriwayatkannya dari Asma binti Yazid s)


b) Adapun membohongi musuh di luar kondisi perang, maka itu diperbolehkan berdasarkan beberapa alasan, di antaranya jika berbohong itu mendatangkan mashlahat agama dan dunia bagi seorang mukmin, atau dalam rangka mengelak gangguan orang-orang kafir. Dalil-dalil yang menunjukkan hal itu adalah:



(1) Kisah Nabi Ibrohim q. Rosululloh n bersabda: “Nabi Ibrohim tidak pernah berbohong kecuali tiga kali; dua di antaranya beliau lakukan karena Alloh k yaitu ketika beliau mengatakan: “…aku sedang sakit,” dan: “…yang melakukan semua ini adalah patung terbesar ini.” Rosululloh n melanjutkan: “…suatu hari beliau bersama Saarroh datang ke negeri seorang penguasa bengis, kemudian raja itu diberitahu bahwa di negeri ini ada seorang lelaki bersama seorang wanita yang sangat cantik. Maka Nabi Ibrohim dipanggil, ia bertanya kepada beliau: “Siapa ini?” beliau menjawab: “Saudariku.” Kemudian Nabi Ibrohim menghampiri Saarroh dan berkata kepadanya; “Wahai Saarroh, di bumi ini tidak ada orang beriman selain aku dan kamu. Orang itu menanyaiku tentang dirimu maka kukatakan kepadanya bahwa kamu adalah saudariku, maka janganlah engkau menganggapku berdusta…” (HR. Bukhori dari Abu Huroiroh, hadits no. 3358)


Berbohong di dalam kisah ini ada yang dalam rangka kemashlahatan agama dan ada juga yang dalam rangka melepaskan diri dari gangguan orang-orang kafir, dan dua-duanya diperbolehkan.


(2) Kisah Ash-habu `l-Ukhdud; tentang kisah ini terdapat riwayat dari Shuhaib a bahwasanya Rosululloh n bersabda: “Dulu ada raja yang hidup di zaman sebelum kalian, ia memiliki tukang sihir. Ketika usia tukang sihir mulai senja, ia berkata kepada raja: “Aku sudah tua, utuslah seorang pemuda kepadaku supaya kuajarkan ilmu sihir.” Maka raja itupun mengirim seorang pemuda (ghulam) untuk menjadi murid si tukang sihir. Ketika di tengah perjalanan, pemuda itu melewati seorang rahib (pendeta), lalu ia duduk dan mendengar perkataannya, ia terkesima dengan kata-kata rahib itu. Setiap kali ia berangkat ke tukang sihir, selalu ia melewati rahib dan duduk di sana, maka sesampai di tempat tukang sihir, ia cambuk pemuda itu. Pemuda itu mengadukannya kepada rahib, rahib berkata: “Jika kamu takut kepada tukang sihir, katakan: Keluargaku menahanku. Jika kamu takut keluargamu, katakan: Tukang sihir menahanku.”
An-Nawawi berkata, menerangkan hadits ini: “Hadits ini berisi kebolehan berbohong dalam perang dan lain-lain dalam rangka menyelamatkan nyawa dari kebinasaan, baik nyawa dirinya atau nyawa orang lain yang haram untuk dibunuh.” (Shohih Muslim bi Syarhi `n-Nawawi juz XVIII/ 130)



An-Nawawi berkata di tempat lain: “Mereka mengatakan: tidak ada perselisihan pendapat bahwa ketika ada orang dzalim yang ingin membunuh seseorang yang sedang bersembunyi di tempat seseorang, maka ia wajib berbohong dengan mengatakan tidak tahu keberadaan orang yang akan ia bunuh itu.” (Shohih Muslim bi Syarhi `n-Nawawi juz XVI/ 158)

Sumber kabarduniaislsmofficial. Wp

Tidak ada komentar