Header Ads

Inilah Sosok Ketua Panitia Aksi 21 Februari Besok

banner ads
DARI SEORANG JURNALIS, POLITISI, PENGUSAHA, SAMPAI PEGIAT SOSIAL
UsamahhisyamBerawal dari profesi sebagai seorang jurnalis, Usamah Hisyam terjun ke pentas politik, kemudian merambah bisnis pers dan konsultan marketing komunikasi, hingga mengabdikan dirinya sebagai pegiat sosial.
Pria kelahiran Surabaya, 14 Mei 1963, ini, adalah seorang wartawan yang merangkak dari bawah, sejak menimba Ilmu Jurnalistik di Sekolah Tinggi Publisistik (STP, sekarang Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jakarta) di Lenteng Agung 32, Jakarta Selatan, sejak 1984.
Bakat menulis yang dimilikinya sejak di bangku SMP, mendorong Usamah mendirikan majalah sekolah yang diberi nama Kreasi SMA 36, Rawamangun, Jakarta Timur. Untuk melambungkan majalahnya, ia mengajak dua artis penyanyi remaja tahun 1980-an yang juga adik kelasnya, Dian Mayasari dan Jayanti Mandasari, menjadi pengasuh Majalah Kreasi.
Lulus SMA, Usamah fokus mendalami ilmu jurnalistik di STP. Sambil kuliah, ia menjadi penulis lepas dan wartawan freelance di sejumlah media. Dengan mengumpulkan honorarium tulisan antara Rp 10.000 sampai Rp 15.000 per naskah, Usamah membeli sebuah mesin ketik merk Olivetti seharga Rp 200.000 sebagai modalnya bekerja. Ia bertekad untuk mandiri.
Dari pekerjaannya sebagai penulis lepas di Harian Minggu Sinar Harapan, Harian Pelita, serta wartawan freelance di Majalah Sportif, dan Majalah Remaja Mitra, Usamah dapat membiayai kuliah dan kehidupannya sendiri.
Ayahnya, H. Hisyam Yahya yang menikah dengan H. Nurul Huda, adalah seorang pengusaha penyalur gula pasir dan tepung terigu di Kota Surabaya. Sang ayah tak setuju Usamah tinggal di ibukota sebagai anak indekos. Namun, anak ketujuh dari 12 bersaudara lulusan SD Mujahidin dan SMP Negeri 7 Surabaya ini bersikukuh menetap di ibukota dengan merintis dunia kewartawanan secara mandiri. Sebulan sekali dua orang kakaknya yang sudah bekerja, Sitti Rahma dan Nur Syamsi, secara bergantian selama tiga tahun membantu mengirim biaya kehidupan antara Rp 50.000 sampai Rp 75.000 per bulan.
Usamah diterima bekerja sebagai karyawan untuk pertama kali menjadi wartawan di Majalah Bulanan Popular yang berkantor di Gunung Sahari, Jakarta, kemudian pindah ke GOR Pelita Jaya, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, antara 1986-1988. Ia lebih banyak menulis profil para artis dan artikel sepakbola di bawah binaan langsung Pemimpin Redaksi Majalah Popular, John Halmahera, yang dikenal sebagai wartawan sepakbola senior.
Tahun 1989-1990 Usamah bergabung dengan Majalah Matra. Pada majalah bulanan trend pria grup Majalah Berita Mingguan Tempo ini, Usamah dipercaya menjabat salah satu redaktur. Pemimpin Umum majalah ini, Fikri Djufrie, Pemimpin Redaksi Nano Riantiarno, Redaktur Pelaksana Kemala Atmodjo dan Kun Syarief Hidayat – seluruhnya wartawan kondang dan penulis handal pada era tersebut – banyak memberikan inspirasi bagi Usamah dalam mengembangkan kemampuan jurnalistiknya.
Pada saat Usamah sudah menjabat sebagai redaktur, ia juga berhasil meraih gelar sarjana komunikasi tahun 1989. Sementara rekan-rekan satu angkatannya yang mayoritas lulus bersamaan dengannya baru merintis karier sebagai reporter di berbagai penerbitan. Saat itulah Usamah baru memetik hikmah dan manfaat dari kerja kerasnya sambil kuliah.
DARI JURNALIS MENJADI POLITISI
Pertengahan tahun 1991, Usamah berkenalan dengan Surya Paloh, pengusaha pers nasional yang baru mengembangkan Kelompok Usaha Surya Persindo, antara lain, Suratkabar Harian Media Indonesia dan 11 penerbitan daerah lainnya. Ia direkrut menjadi Redaktur Edisi Minggu Media Indonesia, dengan gaji tiga kali lipat dari gaji sebelumnya di Matra serta mendapatkan sebuah mobil sedan pribadi.
Setahun kemudian, Usamah dimutasikan menjadi Asisten Redaktur Polkam, mendampingi wartawan senior Imam Anshori Saleh (saat ini Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi). Meskipun dari struktur jabatan turun, tetapi secara fungsional baik tugas dan tanggung jawab perusahaan lebih prestisius, karena desk polkam menjadi primadona dan menentukan wajah Harian Media Indonesia.
Tahun 1994 Imam Anshori Saleh   yang mendapat promosi menjadi Redaktur Eksekutif digantikan oleh Don Bosco Selamun (saat ini Pemred Televisi Berita Satu), dan tahun 1995 Usamah diangkat menjadi Redaktur Polkam menggantikan Don Bosco Selamun.
Sejak menjadi wartawan bidang polkam, Usamah mulai mendalami dunia politik. Ia ditugaskan untuk mengawal perkembangan pemberitaan serta dinamika politik di lingkungan PPP (Partai Persatuan Pembangunan). Dari penugasan inilah Usamah mulai memiliki akses komunikasi dengan pimpinan PPP, seperti, Ketua Umum PPP Buya Ismail Hasan Metareum, jajaran Ketua yakni Hamzah Haz, Jusuf Syakir, Aisyah Aminy, jajaran Wakil Sekjen Bachtiar Chamsyah, Judo Paripurno, Muhsin Bafadhal, dan jajaran Ketua Departemen seperti Tosari Wijaya, dan Daniel Tanjung. Mereka kerap menjadi nara sumber pemberitaan.
Komunikasi yang intensif dengan Ismail Hasan Metareum membuat Usamah diminta Buya menjadi salah satu speech writer Ketua Umum PPP sejak 1992-1998. Buya memperoleh informasi, pemberitaan PPP di Media Indonesia selalu positif.  “Buya juga tahu Usamah punya kemampuan menulis yang baik, dan tak pernah mau menerima amplop dari Partai,” kenang  Emron Pangkapi, Wakil Ketua Umum PPP, yang pada dekade 1990-an menjabat Wakil Ketua Departemen Penerangan DPP PPP.
Usai Muktamar III PPP Tahun 1994, atas persetujuan Surya Paloh – bos Surya Persindo, Buya mengangkat Usamah sebagai Ketua Departemen Penerbitan dan Media Massa DPP PPP. Inilah awal pertama kali Usamah terjun  ke pentas politik praktis. Perjuangannya dalam mengibarkan panji-panji PPP melalui tabloid Media Persatuan yang dipimpinnya, membuat Usamah, 33 tahun kala itu, ditetapkan sebagai caleg DPR RI dari Dapil Jawa Timur, daerah asalnya, dan terpilih menjadi anggota MPR/DPR RI (1997-1999).
Kevokalannya sebagai anggota Komisi I DPR RI, membuat anak muda ini terpilih menjadi anggota Badan Pekerja MPR RI (1998-1999) yang mempersiapkan berbagai produk perundang-undangan reformasi. Salah satu regulasi yang diperjuangkan Usamah adalah UU Pers yang menjamin “kemerdekaan pers yang profesional”. Istilah tersebut juga merupakan buah pikiran Usamah yang kemudian masuk dalam konsideran UU Pers Nomor 40 Tahun 1999.
MENDORONG REFORMASI ABRI
Talentanya sebagai penulis, mendorong Usamah menggeluti dunia publishing, menulis dan menerbitkan sejumlah buku biografi dan company profile.  Pada 1995, dengan sejumlah rekan-rekan wartawan bidang polkam dari sejumlah media, ia mendirikan Yayasan Dharmapena Nusantara, dan Usamah menjabat sebagai Ketua Yayasan.
Yayasan ini lebih banyak melakukan analisa terhadap dinamika sosial politik dan kemanan nasional melalui sejumlah FGD (Focus Group Discussion) bermitra dengan Mabes TNI AD, Sospol ABRI, dan BAIS (Badan Intelijen Strategis) ABRI. Yayasan kemudian menerbitkan sejumlah buku.
Salah satu misi yang diemban kelompok diskusi wartawan ini adalah mewarnai para perwira tinggi ABRI untuk menopang tumbuh berkembangnya demokrasi di negeri ini. Puncaknya, pada 1997, Yayasan Dharmapena menerbitkan buku ABRI dan Demokratisasi, hasil rangkaian seminar di Surabaya tahun 1996 yang didukung Mabes TNI AD pada saat KSAD dijabat oleh Jenderal TNI R. Hartono.
Buku yang kata pengantarnya ditulis oleh pakar politik militer Indonesia asal Australia Prof Dr. Harould Crouch tersebut diluncurkan oleh Kasospol ABRI Jenderal TNI M. Yunus Yosfiah di ballroom Hotel Grand Melia, Kuningan, Jakarta, yang dihadiri pula oleh Assospol Kassospol ABRI Mayjen TNI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Pangdam Jaya Mayjen TNI Sjafrie Samsoeddin, pakar militer Hasnan Habib, dan politisi Golkar Akbar Tanjung.
Menjelang Reformasi 1998, Usamah dkk mendirikan PT Dharmapena Multimedia, yang menerbitkan tabloid mingguan Demokrasi, dengan misi menggelorakan reformasi. Usamah menjabat sebagai Pemimpin Umum dan Direktur Utama. Namun sayang, tabloid berita ini hanya mampu bertahan di pasar selama 13 bulan.
AKTIVIS MUDA DI LINGKARAN KEKUASAAN
Pada periode 1998 hingga 2003, Usamah juga tercatat sebagai aktivis Gerakan Pemuda Ka’bah (GPK). Pada 2000 hingga 2001, Usamah dipercaya menjadi Tim Ahli Wakil Ketua DPR RI Tosari Widjaya. Sebagai Pelaksana Harian Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat GPK, Usamah memimpin langsung sejumlah demonstrasi yang mengkritisi berbagai sikap dan kebijakan pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid.
Tahun 2001, ketika Megawati naik ke tampuk kekuasaan menjadi Presiden RI, dan Ketua Umum PPP Hamzah Haz menjadi Wakil Presiden RI, Usamah diangkat sebagai Asisten Pribadi Wakil Presiden RI. Sebagai Aspri, Usamah banyak memberikan masukan dan informasi dinamika sosial politik kepada Wakil Presiden.
MERINTIS  USAHA MARKETING KOMUNIKASI
Ketika tabloid Demokrasi gulung tikar, yang mengakibatkan kerugian miliaran rupiah, Usamah terpaksa melakukan PHK sekitar 40 karyawannya. Hubungan baik Usamah dengan Surya Paloh, dimanfaatkan untuk merekomendasikan sejumlah rekan-rekan wartawan senior untuk bergabung dengan Harian Media Indonesia pada 2001. Usamah sendiri diberi kesempatan oleh Surya Paloh untuk bergabung kembali dengan Media Indonesia, namun ia memutuskan tetap merintis usaha sendiri menjadi entrepreneurs.
Dari situ ia banting setir dari bisnis media dengan menjajaki merintis bisnis marketing komunikasi.  Kepemilikan saham dan pengelolaan PT Dharmapena Multimedia, yang diserahkan penuh kepada Usamah, membuat ia tak punya pilihan: harus kembali merintis usaha dari titik nol.
Proyek pertama PT Dharmapena Multimedia adalah sosialisasi Rencana Kenaikan Bahan Bakar Minyak Tahun 2000 oleh Direktorat Jenderal Migas Departemen Pertambangan dan Energi. Saat itu Menteri Pertambangan dan Energi dijabat oleh Susilo Bambang Yudhoyono. Sukses sosialisasi tersebut, membuat Dharmapena Multimedia kembali dipercaya menggarap sosialisasi kenaikan Tarif Daftar Listrik Tahun 2001 oleh Direktorat Jenderal Listrik.
Pada tahun-tahun berikutnya, PT Dharmapena Multimedia juga melakukan kontrak kerja sebagai konsultan PT PLN (Persero), PT Pertamina (Persero), dan sejumlah perusahaan lainnya. Seiring dengan pelaksanaan sejumlah proyek tersebut, Usamah mendirikan PT Dharmapena Citra Media, yang mengembangkan bisnis penerbitan buku, media, dan marketing komunikasi.
Tahun 2003, untuk pertama kalinya PT Dharmapena Citra Media terjun dalam bisnis konsultan marketing politik, dan menjadi konsultan marketing politik SBY sebagai kandidat Presiden RI pada Pilpres 2004. Menjelang Pemilu 2004, Dharmapena dipercaya oleh Menko Polkam SBY untuk memproduksi dan menayangkan satu-satunya iklan Pemilu Aman dan Damai (Februari 2004),  dan satu-satunya iklan “Perubahan” Partai Demokrat (Maret 2004). Selain itu Usamah juga menulis dan menerbitkan buku biografi “SBY Sang Demokrat” (31 Maret 2004) yang lantas menjadi best seller.
Pada 8 Januari 2004, Dharmapena meluncurkan majalah bulanan pria, yang diberi nama MO, penggalan dari kata “Demokrasi.” Pada edisi kelima, singkatan MO kemudian diubah menjadi Mens Obsession, karena mulai diarahkan fokus menjadi majalah trend pria. Majalah tersebut mampu berkembang dengan baik hingga sekarang, dan fokus menjadi majalah gaya hidup, prestasi, dan inspirasi.
Dalam situasi ketika banyak media cetak berguguran, layu dan rontok sebelum berkembang, Usamah membawa Men’s Obsession mampu beradaptasi dengan lingkungan yang berubah dengan cepat, sehingga tetap eksis dan berkembang lebih dari satu dekade saat ini.
Dalam perjalanannya, Usamah mengkonsolidasikan bisnis komunikasinya menjadi tiga core business. Pertama, marketing komunikasi, yang terdiri atas marketing korporasi, marketing politik, riset, dan survei. Kedua, bisnis media, berupa penerbitan majalah, electronic magazine, dan portal berita obsessionnews.com. Ketiga adalah bisnis penerbitan dan percetakan buku.
Divisi bisnis marketing komunikasi kini menggunakan menggunakan brand  C.Markom (Citra Markom), di antaranya menjadi konsultan komunikasi korporasi dan CSR PT Bank Central Asia, Tbk. serta menangani marketing politik sejumlah kandidat dalam pilkada di beberapa daerah. Sedangkan divisi bisnis medianya dikembangkan dalam brand OMG (Obsession Media Group), yang mempersiapkan penerbitan sejumlah e-magazine dan print magazine, yakni Women’s Obsession, Female’s Obsession, Male’s Obsession, dan Teen Obsession.
PENULIS BIOGRAFI TOKOH-TOKOH NASIONAL
Talentanya sebagai penulis yang sudah terlihat sejak bangku SMP, mendorong Usamah untuk benar-benar mengembangkan kemampuannya dalam menulis. Pada masa mahasiswa, ia banyak menulis profil para orang-orang tertinggal, dari pedagang kaki lima, para pengecer dan anak jalanan, sampai penjaga pintu rel kereta api, yang kemudian dimuat di berbagai surat kabar edisi minggu.
Sejak 1998, Usamah mulai meningkatkan level dengan menulis biografi tokoh-tokoh nasional. Di mulai dengan biografi Panglima ABRI Jenderal TNI Feisal Tanjung Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat (1998), Jaksa Agung Andi M. Ghalib Menepis Badai (1999), tokoh pers nasional Editorial Surya Paloh (2001), Kapolri Jenderal Pol Suroyo Bimantoro Antara Idealisme dan Profesionalisme (2002), Panglima TNI Laksamana TNI Widodo AS Nakhoda Di Antara Tiga Presiden (2003), Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono SBY Sang Demokrat (2004), Menkominfo Tifatul Sembiring Sepanjang Jalan Dakwah Tifatul Sembiring (2012), dan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh Sang Ideolog (2014).
Dalam menulis biografi, Usamah mengakui, ia tetap memilih figur sang tokoh. “Tak semua pejabat yang minta ditulis biografinya saya terima. Saya juga harus selektif. Karena menulis biografi memerlukan waktu dan konsentrasi penuh,” ujar Usamah.
MENINGGALKAN PANGGUNG POLITIK PRAKTIS
Sejak sibuk mengembangkan usaha di bidang marketing komunikasi tahun 1999, usai masa jabatannya sebagai anggota DPR RI berakhir, Usamah secara perlahan-lahan mulai mengurangi kegiatan politiknya di PPP. Ia lebih banyak berkonsentrasi sebagai pengusaha, termasuk sebagai konsultan politik. Namun, niatnya untuk meninggalkan penuh pentas politik kandas.
Ketika SBY terpilih menjadi Presiden RI, pada 2005 Usamah memperoleh tawaran untuk memimpin Partai Demokrat Provinsi Banten. Ia pun terpilih menjadi ketua partai tersebut melalui Musyawarah Daerah I Partai Demokrat Banten, setelah memperoleh izin dari Ketau Umum PPP Dr Hamah Haz. Berbagai dinamika politik di partai besutan SBY tersebut menjelang Pemilihan Gubernur Banten 1997, membuat Usamah hanya bertahan sekitar tiga tahun memimpin Partai Demokrat Banten, kemudian ia lengser dari jabatannya, dan kembali menggeluti dunia usaha yang sempat ditinggalkan.
Menjelang Pemilu dan Pilpres 2009 Usamah selaku Direktur Utama PT Dharmapena Citra Media meneken kontrak kerja sebagai konsultan politik Jenderal TNI Wiranto, untuk meloloskan Partai Hanura dari parliamentary threshold serta mengupayakan agar Wiranto dapat diusung sebagai Capres/Cawapres.
Sebagai konsultan, Usamah merekomendasikan pendirianj Gerakan Nasional Relawan Pos Wiranto yang dipimpinnya sendiri. Partai Hanura  lolos parliamentary treshold 3,5% pada Pemilu 2009, dan Wiranto dipinang oleh Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla menjadi cawapres. Pasangan JK-Wiranto kalah dalam putaran pertama Pilpres yang dimenangkan oleh pasangan SBY – Boediono dan Mega-Prabowo yang lolos ke putaran kedua.
PEGIAT SOSIAL YANG TAK PERNAH LETIH
Di tengah-tengah kesibukannya sebagai entrepreneurs, Usamah aktif dalam berbagai organisasi sosial kemasyarakatan, mulai dari tingkat kota hingga tingkat nasional. Di tingkat kota di mana ia berdomisili dalam 25 tahun terakhir, yakni BSD City, Serpong, Tangerang Selatan, Usamah memimpin Al Madinah Islamic Center, pusat pengembangan kegiatan sosial kemasyarakatan keagamaan dengan mendirikan Rumah Yatim Dhuafa, mengembangkan Klinik Dhuafa yang sudah ada sebelumnya, dan mendirikan Perguruan Al Madinah dari Tingkat TK, SD, SMP, SMA yang diprioritaskan untuk sekolah anak yatim dan kaum dhuafa di bawah Yayasan Kerukunan Keluarga Muslim BSD (KKMB).
Sebagai motor penggerak yayasan tersebut, Usamah mampu menggerakkan warga muslim BSD untuk mendukung program sosial keagamaan  KKMB.  Sejak 2004, saat Usamah menjadi Ketua Umum hingga sekarang, KKMB tumbuh berkembang pesat atas dukungan warga BSD.
Bagi Usamah, aktivitas sosialnya adalah dalam rangka  ibadah. Dalam pandangannya, sulit bagi pemerintah untuk menangani seluruh persoalan sosial kemasyarakatan, terutama kemiskinan dan ketertinggalan pendidikan mayoritas masyarakat, tanpa adanya partisipasi dari warga masyarakat, setidaknya di lingkungannya sendiri. Itulah yang ditekuni Usamah.
Sejak tahun 1999, Usamah juga aktif dalam organisasi sosial kemasyarakatan tingkat nasional. Ia terpilih menjadi Wakil Sekjen Parmusi (Persaudaraan Muslimin Indonesia). Lima tahun kemudian,  2002 hingga 2008 ia terpilih menjadi Sekretaris Jenderal Parmusi, mendampingi sang ketua umum, Bachtiar Chamsyah, yang saat itu juga menjabat Menteri Sosial RI. Parmusi adalah organisasi yang mengembangkan  kader-kader aktivis sosial dan dakwah. Hingga kini Usamah masih menjadi sebagai salah satu Ketua PP Parmusi (2008-2014). Baginya aktivitas sebagai pegiat sosial adalah dorongan hati, dan semata-mata untuk mendapatkan ridho Allah Swt.
MENDIRIKAN LEMBAGA DAN GERAKAN INDONESIA ADIL, SEJAHTERA, AMAN (ASA)
Pada Januari 2013, Usamah mencetuskan gagasan kepada mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Pur) Djoko Santoso dan mantan Korspri Presiden RI Mayjen TNI (Pur) Kurdi Mustofa untuk mendirikan sebuah lembaga think thank, yang mempersiapkan blue print pembangunan Indonesia Lima Tahun ke depan (2014-2019), untuk disumbangkan kepada pemerintahan terpilih.
Akhirnya lembaga tersebut disepakati bernama Lembaga Indonesia ASA, dan untuk melakukan sosialisasi pemikiran konsepsi Indonesia ASA maka dibentuklah Gerakan Indonesia ASA di berbagai daerah. Lembaga Indonesia ASA dan Gerakan Indonesia ASA dideklarasikan di Balai Kartini, tanggal 10 Mei 2013, di mana Usamah menjadi Direktur Lembaga sekaligus Ketua Umum Gerakan Indonesia ASA. Sedangkan Djoko Santoso menjadi Ketua Dewan Pembina dan Kurdi Mustofa Sekretaris Dewan Pembina.
Setelah Gerakan Indonesia ASA terbentuk di 10 propinsi, dalam sarasehan Gerakan Indoensia ASA di Bandung, September 2013, disepakati agar Jenderal Djoko Santoso menjadi salah satu alternatif yang ditawarkan kepada masyarakat luas dan atau partai politik untuk menjadi bakal Capres/Cawapres. Sebagian besar aspirasi yang berkembang menghendaki agar Djoko Santoso dapat dipasangkan dengan Joko Widodo.
Namun, pada penghujung Oktober 2013, perbedaan pandangan yang sangat tajam dalam menyikapi dinamika konsolidasi organisasi antara Djoko Santoso dan Usamah, membuat roda organisasi terhenti. Pada awal 2014, Usamah memutuskan untuk menjadi relawan Partai NasDem, dalam bentuk turut memberikan kontribusi pemikiran langsung kepada Surya Paloh dalam upaya memenangkan partai tersebut. Partai NasDem pun mencetak prestasi gemilang dengan meraih suara 6,7% atau 35 kursi DPR RI hasil Pemilu 2014
MEMANTAPKAN  KEMENANGAN JOKOWI DAN JK
Pada tanggal 14 Februari 2014, majalah milik Usamah, Mens Obsession yang merayakan hari jadi ke-10 di Hotel Indonesia Kempinski, menganugerahkan Mens Obsession Decade Award kepada empat tokoh nasional, yakni Jenderal TNI Wiranto (Patriot Leader), Akbar Tanjung (Fighter Leader), Surya Paloh (Inspiring Leader), dan Joko Widodo (Rising Leader).
Keempat tokoh tersebut hadir menerima anugerah yang diserahkan langsung oleh Usamah. Pada malam itulah, untuk pertama kalinya pasca pilgub Jakarta tahun 2012, Surya Paloh bertemu kembali dengan Joko Widodo. Saat Usamah meluncurkan buku biografi Surya Paloh Sang Ideolog di ballroom Grand Indonesia Hotel, 10 Maret 2014, Joko Widodo juga hadir dan naik ke atas panggung menerima buku biografi karya Usamah tersebut.
Pertemuan Surya Paloh dan Joko Widodo terus berlanjut dengan komunikasi politik secara intensif, hingga Partai NasDem menetapkan Joko Widodo sebagai capres bersama PDI Perjuangan, PKB, Partai Hanura, dan PKPI pasca Pemilu 2014.
Sebagai ungkapan rasa syukur kehadirat Allah SWT atas keberhasilan Partai NasDem pada Pemilu 2014, Surya Paloh mengajak Usamah melakukan perjalanan ibadah umroh pada 3-7 Mei 2014. Dalam perjalanan umroh inilah Surya meneguhkan hati untuk tetap menjadi “Sang Ideolog” seperti judul buku yang ditulis Usamah, hingga memutuskan tidak maju dalam pemilihan Presiden 2014, baik sebagai Capres maupun Cawapres. Surya lebih memilih untuk menjadi Bapak Bangsa.
Dari hasil diskusi bersama Usamah, dan pembimbing ibadah, Dr. Faisal Mahmud, mantan Rektor Universitas Al Khairoot, Palu, serta Prananda Paloh, Surya akhirnya memantapkan sikap untuk mendukung Jokowi dan Jusuf Kalla sebagai Capres/Cawapres yang akan diperjuangkan bersama PDI Perjuangan.
Sebagai nazar untuk mewujudkan misi tersebut, serta meraih kemenangan, atas saran Usamah dan Faisal Mahmud, Surya berjanji kepada Illahi di Raudhoh Majid Nabawi, Madinah, akan mengusulkan kepada Jokowi untuk melakukan ibadah umroh sebelum Pilpres 2014, agar perjuangannya mendapatkan ridho Allah Swt.
Sepulang dari ibadah umroh inilah, Usamah dan Faisal Mahmud langsung mendeklarasikan Keluarga Besar Pecinta Ka’bah Pendukung Jokowi-JK di Markas Relawan Jokowi-JK Cokro 100, Menteng, Jakarta Pusat pada 10 Juni 2014. Lantas, pada akhir Juni 2014, menjelang ramadhan, Keluarga Besar Pecinta Ka’bah bekerjasama dengan Ikatan Khatib Indonesia pimpinan KH Hamdan Rasyid memberikan pembekalan kepada 250 khatib seluruh Jabodetabek di ballroom Media Hotel & Tower Jakarta dengan tema mengapa ummat Islam harus memilih Jokowi-JK.  Acara ini dihadiri l;angsung oleh Sury Paloh dan  Ketua Tim Sukses Nasional Jokowi-JK, Tjahyo Kumolo.
Alhamdulillah, di tengah-tengah kesibukannya, perjalanan umroh Jokowi dan keluarga dapat berlangsung pada minggu tenang, tanggal 6-8 Juli 2014, dan sehari sebelum Pilpres 9 Juli, sudah kembali di Jakarta. Usamah dipercaya sebagai Koordinator perjalanan umroh, sedangkan Faisal Mahmud sebagai pembimbing ibadah. Rombongan sebanyak 15 orang ini juga diikuti oleh mantan Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama KH Hasyim Muzadi. Pasangan Jokowi – Jusuf Kalla akhirnya ditetapkan oleh KPU sebagai Presiden dan Wakil Presiden terpilih Pilpres 2014.

sumber : http://demo.usamahhisyam.com/profil/

Tidak ada komentar