Header Ads

Umat Islam Diserang dari Segala Penjuru, Bagaimana Petunjuk Kaum Salaf?

banner ads
Manjaniq.com--Ada begitu banyak upaya untuk memojokkan Islam dan Ummat Islam, sejak Aksi 411, 212 hingga akhir-akhir 2016 ini. Ini beberapa yang saya ingat:

1. Penangkapan terhadap penggugah video pernyataan Kapolda yang berbau Provokasi
2. Penahanan Buni Yani
3. Penggembosan rencana aksi 212, yang ini banyak sekali modusnya
4. Isu terorisme, yang sampai menumpahkan darah anak bangsa, padahal baru dugaan semata.
5. Penangkapan sejumlah Aktivis dan Wartawan Islam Solo
6. Fitnah bantuan Ustadz Bachtiar Nasir untuk teroris Suriah.
7. Penggembosan Fatwa MUI tentang atribut Natal
8. Pelaporan Habib Rizieq Syihab atas ceramah Surat Al-Ikhlas
9. Akan lebih banyak lagi jika ditambahkan penangkapan sejumlah Tokoh Nasional Muslim, mulai dari Siti Fadillah Supari, Dahlan Iskan, hingga Sri Bintang Pamungkas dkk.

Sementara dari kalangan Islam sendiri, kelompok Neo Murji’ah juga tidak tinggal diam. Mulai dari mempersoalkan hukum demonstrasi, bahkan menghalalkan darah pesertanya, hingga mengistilahkan persatuan Ummat sebagai ‘persatuan kebon binatang’.

Jadi ibarat perang, Ummat Islam menghadapi dua musuh. Musuh dari depan yaitu kelompok Sekularis-Kapitalis, dan musuh yang membuat gaduh dari belakang, kelompok Neo Murji’ah.

Dan memang inilah sunnatulloh dalam berislam. Meminjam istilah Tokoh Nasional M. Natsir, Islam berpolitik akan dicabut sampai ke akar-akarnya. Tetapi kita tidak perlu khawatir, karena tabiat Islam yang memiliki ‘daya kenyal’ luar biasa. Lihatlah negara-negara eks Soviet, China, hingga Eropa. Betapa Islam ingin ‘dihabisi’ para penguasa, tetapi Alloh SWT Maha Tahu cara terbaik memelihara Din-Nya. Hingga Risalah Islam dapat terus digemakan dengan berjuta cara. Karena Dia tidak ingin, orang-orang Kafir dan Munafik sampai punya alasan di akhirat kelak.

Menghadapi gelombang serangan ini, tentu kita perlu petunjuk, bagaimana dulu para Ulama’ dan Mujahid, dengan petunjuk dan pertolongan Allah SWT mampu menjaga eksistensi Din ini hingga seperti sekarang. Tulisan ini hanya memuat sebagian saja, berdasarkan realitas dan problem yang biasa kita temui di lapangan.

Pertama, bekal bagi kita Ummat Islam. Almaidah 54 sering dijadikan rujukan. Dicinta dan mencinta Alloh, biasa direalisasikan dengan gerakan Subuh Berjamaah. Inilah Revolusi Mental yang sesungguhnya. Subuh Berjamaah yang dilakukan secara konsisten, akan memberikan energi yang luarr biasa bagi Ummat ini. Berlapang-lapang terhadap sesama Muslim sangat diperlukan, karena tanpa hal ini, mustahil Persatuan Ummat akan didapat. Tegas terhadap kafir, akan kita bahas lebih jauh melalui Al-Maidah: 8. Berjihad dan tahan bully, insya Allah sudah cukup jelas melalui apa yang diistilahkan sebagai Muslim Mega Cyber Army.

Berikutnya akhlak kita terhadap musuh-musuh Islam. Al-Maidah: 8 sering dijadikan rujukan. Terutama potongan ayat “…dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum, menyebabkan kamu tidak berlaku adil terhadap mereka….”.

Jadi, kita dituntut untuk tetap berakhlak baik, tidak bisa meniru musuh yang menghalalkan segala cara. Dua hal yang sering menjadi kekurangan kita, adalah menyebarkan berita hoax dan berkata kasar.  Agak susah memang, mendeteksi sebuah berita, apakah benar ataukah cuma hoax. Tetapi bersabar untuk tidak buru-buru memposting/forward, mungkin bisa menjadi salah satu cara. Cara lain ialah memakai kaidah ‘It’s Too Good To Be True’, terlalu mudah untuk menjadi sebuah kebenaran, biasanya juga hoax.

Berkata kasar juga harus dihindari. Tugas kita hanyalah menyampaikan dengan cara yang baik, sementara hidayah itu hak prerogatif Alloh SWT. Tidak perlu memaksakan dengan kata-kata yang merendahkan apalagi kasar. Khawatirnya akan membuat antipati, terutama pada mereka yang sebelumnya simpati dengan perjuangan kita.

Tidak mudah memang mempraktekkan Al-Maidah 8 ini. Perlu jam terbang. Sekali dua kita berbuat kesalahan. Tetapi ‘Practise Makes Perfect’, dari kesalahan-kesalahan lah kita belajar. Yang penting, jangan menutup diri untuk berubah menjadi lebih baik. Dan semoga Allah SWT tetap menilainya sebagai amal sholeh.

Wallahu a’lam, sampai jumpa di medan juang!!!

*Madi Hakim, praktisi dakwah, tinggal di Purwokerto

Sumber : Kiblat

Tidak ada komentar