Header Ads

TULISAN-TULISAN SAYYID QUTHB MENELANJANGI ORANG-ORANG BERMENTAL LEMAH (bagian 2)

banner ads
Manjaniq.com--Demi Allah, saya pernah menanyakan kepada salah seorang ulama besar mereka. Saya bertanya kepadanya, “Apa pendapat anda tentang Sayyid Quthb?” Ia menjawab, “Ia seorang pemikir. Ia seorang pemikir. Eh, ia bukan pemikir, tetapi seorang sastrawan, bahkan penulis. Tidak lebih dari itu.“ Saya kembali bertanya kepadanya, “Sayyid Quthb menurut anda seperti itu?” Ia menjawab, “Ia seorang sastrawan profesional.” Orang seperti ini persis dengan orang yang pernah berkata kepadaku, “sesungguhnya Marwan Hadid bukan bagian dari dakwah islam.”
 
Saya katakan kepadanya, “Oh, kalau begitu engkau bagian dari dakwah islam!” Di daerah asal kami ada peribahasa yang mengatakan, ‘Namamu Dzakar (laki-laki) dan Yang Memberi makan adalah Allah’. Wanita yang memiliki anak yang lemah dan sakit berkata kepadanya, ‘Namamu Dzakar (laki-laki) dan Yang Memberi makan adalah Allah’ Yang Meberi makan adalah Rabb kita.

Saya katakan kepadanya, “Apa arti dakwah islam di Suriah tanpa Marwan Hadid?” Mereka sangat berbahaya. Demi Allah, mereka mengatakan bahwa Marwan Hadid gila. Benar, keberanian Marwan Hadid menurut anggapan orang-orang yang berjatuhan diatas jalan perjuangan adalah sebuah kegilaan. Mereka mengatakan Marwan Hadid orang gila. Salah seorang dari mereka yang pernah bertemu denganku saat Marwan Hadid masih menjadi buronan didalam kota Damaskus menceritakan ; kemanapun, didalam kota Damaskus, ia selalu membawa senjata karena ia sedang menjadi buronan pemerintah. Orang itu berkata kepadaku, “wahai saudaraku, setiap bertemu orang, orang ini selalu mengulurkan tangannya sambil mengatakan kepadanya, ‘Berbaiatlah kepadaku untuk siap mati’.” Oleh karena itu, perhatikan; ini adalah kata-kata yang keluar dari hati yang selalu melihat tragedi secara langsung dihadapannya.

Oleh karena itu, setelah berbagai tragedi yang diciptakan oleh Abdul Nasir ditubuh Ikhwanul Muslimin, para istri anggotanya, anak-anak mereka, dan dakwah mereka, pada hari kematian Abdul Nasir para dai di Qatar atau negara lainnya di kedutaan besar Mesir menerima ucapan belasungkawa atas kematian Abdul Nasir. Saya menganggap hal ini sebagai kejahatan yang paling jahat. Kenapa? Apakah tragedi-tragedi itu mereka harus menerima ucapan belasungkawa atas kematian Abdul Nasir? Mereka berbaris rapi agar orang-orang yang datang untuk mengucapkan ucapan belasungkawa karena ia termasuk anggota keluarga besar mereka. Putra mereka meninggal dunia. Apakh engkau menganggap mereka dai? Merekalah yang sekarang menyerang Sayyid Quthb karena pemikiran Sayyid Quthb sangat membahayakan mereka. Wahai saudaraku, pemikirannya membahayakan kondisi mereka, membahayakan kedudukan mereka dan gaji mereka. 

Oleh karena itu, ketika para pemuda menghadapi mereka. Para pemuda yang sama denganmu, jiwanya baik, hatinya terbuka, tidak mengenal banyak berdalih dalam hidup. Ketika para pemuda mengetahui keadaan mereka yang sebenarnya, mereka mengatakan, “Kami telah mengetahui.” Mereka pun mulai meragukan pemikiran itu sendiri. Karena kalau tidak meragukan justru sebaliknya, malah membenarkan -sebagaimana persangkaan saya- seandainya bukan karena dorongan dari Allah dan peneguhan-Nya kepada Sayyid Quthb dan keteguhan sikapnya pada tahun 1965 niscaya dakwah islam sudah terhenti dan habis. Dakwah islam berada diambang kematian. Lalu ia mendorongnya kembali, menghidupkannya kembali saat dakwah islam sedang dalam kondisi sekarat. Akan tetapi keteguhan sikap yang Allah berikan kepadanya, bukan semata-mata dari dirinya, tetapi itu berasal dari Allah subhanahu wata’ala.

Para pemuda yang ada disekitarnya –sebagaimana ditulis dikoran-koran- mengelilinginya seakan-akan Sayyid Quthb seorang nabi. Dan benar, seandainya ia mengomentari salah satu pimpinan dakwah islam pada tahun 1965 meski hanya satu kata, seandainya ia mengomentarinya niscaya pemimpin itu akan langsung jatuh. Ketika mereka bertanya kepada para pemuda-pemuda seumuranmu, “Apkah engkau pernah berkomunikasi dengan Sayyid Quthb?” Ia akan menjawab, “Tidak pernah sama sekali. Saya tidak pernah sekalipun berkomunikasi dengannya.” Karena mereka langsung akan menyiksanya jika mengaku pernah berkomunikasi dengannya. Pemuda itu berkata kepada mereka, “Saya tidak pernah berkomunikasi dengannya.” Lalu mereka mendatangi Sayyid Quthb. Mereka berkata kepada Sayyid Quthb, “Fulan terbukti pernah berkomunikasi denganmu dan pernah datang menemuimu. “Sayyid Quthb menjawab, “Ya, ia pernah berkomunikasi denganku.” Lalu mereka kembali seakan-akan mereka menulis perkataan Sayyid Quthb. Mereka bertanya lagi kepada pemuda tadi, “Apakah engkau pernah berkomunikasi dengannya?” Pemuda itu menjawab, “tidak pernah”. Mereka berkata kepadanya, “Tetapi Sayyid Quthb berkata bahwa engkau pernah berkomunikasi dengannya.” Pemuda itu menjawab, “Kalau ia yang mengatakannnya maka ia telah berkata benar, Kalau ia yang mengatakannya maka ia telah berkata benar.”



 sumber : fski

Tidak ada komentar