Header Ads

Transaksi pada Hari Jumat, Bolehkah?

banner ads
Manjaniq.com--Jumat adalah hari yang dikhususkan dalam Islam. Pada hari itu, Allah menganjurkan hamba-Nya untuk memperbanyak ibadah serta meninggalkan segala sesuatu yang dapat menganggu ibadah tersebut.

Salah satu amalan yang dilarang pada hari itu adalah melakukan transaksi jual beli ketika sang muazin mengumandangkan azan ketika imam telah duduk di atas mimbar. Hal ini sesuai dengan firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Al-Jumu’ah: 9)

Atas dasar ayat ini, para ulama sepakat bahwa hukum melakukan transaksi pada saat berlangsungnya ibadah shalat jumat adalah haram. Kemudian bagaimana dengan mereka yang tidak diwajibkan shalat jumat? Apakah transaksi pada saat itu juga dilarang?

Jual-beli pada saat berlansungnya jumatan tidak diharamkan, kecuali terhadap orang yang berkewajiban melakukan ibadah shalat Jumat. Karena itu, kalau ada dua orang anak kecil, dua orang perempuan, atau dua orang musafir melakukan transaksi jual-beli, hal itu boleh dan sah-sah saja.

Jika terjadi transaksi jual-beli antara orang yang berkewajiban shalat Jumat dengan orang yang tidak berkewajiban melaksanakannya, yang diharamkan ialah terhadap orang yang berkewajiban. Apakah ia juga diharamkan terhadap orang yang tidak berkewajiban karena telah membantunya melakukan dosa atau memang tidak diharamkan karena tidak terkena perintah melaksanakan shalat Jumat?

Jawabannya, ada dua pendapat di kalangan para ulama. Pendapat terkuat ialah yang mengatakan transaksinya juga haram. Sebab, Allah telah berfirman, “…Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran…” (Al-Mâ`idah: 2). Dalil ini menguatkan pendapat yang menyatakan haram. (Al-Mughnî: III/364, dan Al-Fawâkih Ad-Dawânî: I/258)

Sementara itu, apakah akad selain jual beli juga turut diharamkan, seperti ijarah (sewa), shulh (berdamai), dan nikah? Jumhur ulama dari kalangan mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan salah satu dari dua pendapat di kalangan mazhab Hanbali mengatakan, “Selain akad jual beli—yaitu berupa akad-akad yang bisa mengganggu orang yang shalat—hukumnya sama juga seperti akad jual beli. Sehingga, hukumnya pun sama, yaitu haram.” Pendapat ini dipilih Imam Asy-Syaukani dalam tafsirnya, Fathul-Qadîr.
Adapun pendapat yang satu lagi ialah menurut mazhab Hanbali. Mereka  mengatakan, “Akad yang selain jual-beli tidak bisa disamakan dengan akad jual- beli. Hujjah dan dalil yang dikemukakan jumhur ulama ialah demi memelihara makna di balik pelarangan jual-beli itu sendiri, yaitu meninggalkan segala sesuatu yang bisa mengganggu aktivitas berzikir kepada Allah. Makna seperti ini ditemukan dalam semua akad yang ada dan hukum suatu perkara mengikuti illat (sebabnya), baik saat wujud ataupun tidak.”

Al-Qurthubi mengatakan, “Yang diinginkan bukanlah bentuk jual-beli, tetapi sesuatu yang menyibukkan orang yang shalat dari mengingat Allah. Misalnya, akad nikah dan sebagainya. Akan tetapi, penyebutan akad jual-beli di sini, sebabnya ia merupakan perkara terpenting yang bisa melengahkan seseorang dari berzikir kepada Allah.” (Al-Jâmi’ li Ahkâmul-Qur`an: V/26)

Jumhur ulama juga mengatakan, “Karena semua itu merupakan akad timbal balik, sehingga ia serupa dengan akad jual-beli.” (Iqnâ’, karya Asy-Syarbaini: I/185, dan Al-Kâfî, karya Ibnu Quddamah: II/40–41)

Adapun hujjah dan dalil yang dikemukakan selain jumhur ulama ialah akad-akad selain jual beli tidak dituliskan secara tekstual dan maknanya juga tidak bisa dikatakan sama dengan yang dinashkan. Sebab, pembolehan akad-akad ini juga dengan syarat tidak sampai membuat orang meninggalkan shalat Jumat, berbeda dengan akad jual-beli. (Ibnu Qudamah, Al-Kâfî: II/41 dan Al-Mughni: III/164)

Dari pemaparan di atas tampak jelas, bahwa pendapat yang kuat ialah pendapat jumhur ulama. Sebab, kejelasan ’illat (penyebab) yang mereka sebutkan dan realitas keberadaannya dalam semua akad. Dalam hal ini memang tidak ada perbedaan antara akad jual-beli, sewa menyewa, atau akad nikah. Sebab, kesemuanya melalaikan orang dari mengingat Allah pada waktu tersebut.

Dengan demikian, apabila terjadi akad jual-beli dan akad-akad yang semisalnya setelah kumandang azan sebagaimana disebutkan di atas, menurut mazhab Maliki dan Hanbali, akadnya itu batal. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada dalam ajaran kami, maka ia tidak akan diterima.” (HR.Bukhari-Muslim)

Di dalam Mukhtashar-nya, Khalil mengatakan, “Akad jual-beli, sewa menyewa, perwalian, perkongsian, penyerahan, dan syuf’ah (hak membeli lebih dahulu) menjadi batal dengan dikumandangkannya azan kedua.” (Tafsir Al-Qurthubi: XVIII/108, dan Zâdul Masîr, karya Ibnul Jauzi: VIII/266)

Menurut mazhab Hanafi dan Syafi’i, yang demikian itu tidak batal. Sebab, meskipun ia merupakan sesuatu yang terlarang, tetapi larangan yang dimaksud tidak langsung ditujukan pada otoritas jual-beli itu sendiri, namun karena keberadaannya yang dilakukan pada waktu shalat Jumat. (Imam Syafi’i, Al-Umm: I/195)

Jadi yang rusak bukan pada inti akadnya dan bukan pula pada syarat-syarat sahnya. (Al-Hidâyah, karya Al-Marginani Al-Hanafi: III/54)

Dalam hal ini, pendapat yang kuat ialah pendapat pertama yang mengatakan, “Akad yang berlaku setelah kumandang azan kedua ialah batal.” Ibnu Katsir berkata, “Kandungan lahir ayat mengatakan bahwa hal itu tidak sah…” (Tafsir Ibnu Katsir: IV/387)

Penulis : Fakhruddin

Editor : Dhani El_Ashim

Disadur dari buku  “Jumatan Bersama Nabi” karya Abu Al-Mundzir As-Sa’idi, penerbit Aqwam, Solo


sumber : kiblat

Tidak ada komentar