Header Ads

Serigala Berbulu ‘Hoax’

banner ads
Manjaniq.com -- Hoax (dibaca howks, bukan hoaks). Menjadi kata yang sering muncul belakangan ini. Apalagi, pemerintah kemudian menggalang masyarakat gelar deklarasi anti hoax di acara Car Free Day tiap akhir pekan.

Kalau tak jeli, isu anti hoax ini terlihat aksi spontanitas masyarakat biasa. Namun jika dirunut secara cermat mengikuti kronologisnya, pelan-pelan kita bisa membaca apa agenda sesungguhnya di balik masifnya gerakan anti hoax.

Seiring dengan geliat aksi 411 dan 212, aparat pemerintah menangkap sejumlah orang terkait aktivitas di sosial media. Seorang guru yang mem-posting status ajakan Rush Money ditangkap. Kapolri pun menebar ancaman. Menurutnya, media sosial berpotensi mengganggu kebhinekaan.

Tak lama, seorang jurnalis Muslim di Solo ditangkap dengan tuduhan pembuat propaganda. Menyusul kemudian, pemblokiran situs-situs Islam. Bersamaan dengan pemblokiran itu, muncul pemberitaan bahwa situs-situs yang diblokir menyebarkan hoax. ‘Umpan lambung’ ini kemudian dikonversi menjadi gol dengan lahirnya gerakan anti hoax.

Motor gerakan anti hoax ini muncul dari social media juga. Ada fanspage Forum Anti Fitnah, Hasut dan Hoax, ada juga fanspage Indonesian Hoaxes dan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo). Kemudian muncul situs Turnbackhoax yang turut dipopulerkan media mainstream. Karena sesuatu yang berasal dari sosial media sangatlah terbuka, maka anatomi inisiator gerakan ini juga dengan mudah diungkap.

Gerakan ini cukup sistematis dan terorganisir untuk memonopoli klaim kebenaran di tangan mereka. Secara massif, mereka memonopoli klaim kebenaran dengan kampanye anti hoax dan Tolak Berita Bohong. Apa yang mereka sebarkan diklaim sebagai kebenaran sekalipun mereka juga pernah terjerembab dalam jurang fitnah dan hoax.

Kantor berita Antara, beberapa waktu lalu, sempat tersandung kasus berita hoax. Antara menulis berita dengan judul berita besar-besar: Jokowi Pemimpin Terbaik Asia Australia versi Bloomberg. Setelah dicek dari sumbernya, rupanya tulisan aslinya berjudul” Siapakah yang Mengalami Tahun Terburuk, Dan Bagaimana Mereka Menjalaninya di 2016?”

Dari sini terlihat jelas, masifnya upaya gerakan anti hoax ternyata digerakkan oleh pihak tertentu dengan tujuan tertentu. Cara menilainya cukup mudah; Siapa yang paling sering mereka serang dengan tuduhan hoax?

Upaya gerakan anti hoax, jika memang jujur, sejatinya merupakan gerakan moral yang baik. Ajaran Islam punya segudang narasi yang mendukung gerakan anti hoax. 1400 tahun lalu kitab suci umat Islam sudah mengajarkan adab dan tatacara menerima dan menyebarkan berita. Di sisi lain, kita juga turut prihatin dengan marak beredarnya berita-berita menyesatkan di pekarangan sosial media kita. Tentu ini harus dihentikan, tapi harus dengan cara yang tulus dan fair.

Jangan sampai gerakan ini punya niat buruk terselubung bagaikan serigala berbulu domba. Menampilkan kesan mulia dengan mengusung gerakan anti hoax tapi sejatinya menyasar umat Islam. Parahnya lagi, menuding orang dengan sebutan hoax tapi tak berkaca kalau dirinya kerap menebar fitnah.

sumber : kiblat

Tidak ada komentar