Header Ads

Lakum Dinukum Waliyadin ( Bagimu Agamamu dan Bagiku Agamaku )

banner ads
Manjaniq.com--Ketika orang-orang musyrik melihat ketegaran dan superioritas kaum Muslimin dalam memegang agamanya, sementara keputus-asaan mulai menjalari jiwa-jiwa mereka; bahwa mustahil kaum Muslimin mau kembali memeluk agama nenek moyangnya, akhirnya mereka membuat sandiwara yang menunjukkan ketidakbijakan mereka.

Sikap seperti ini sudah ada sejak masa Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika dakwah beliau mulai berkembang dan kaum muslimin semakin banyak, mereka mencoba menjerumuskan beliau dalam keyakinan kufur mereka. Mungkin yang ada dalam pikiran mereka saat itu, agar lingkungan hidup bisa lebih harmonis dan toleran, mereka menawarkan kepada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam agar mau menyembah berhala-berhala mereka selama setahun, kemudian mereka juga akan menyembah apa yang beliau sembah selama setahun juga.

Akan tetapi tawaran tersebut serta merta ditolak langsung oleh beliau melalui bimbingan wahyu yang turun dari langit. Saat itu, Allah Ta’ala turunkan surah Al-Kafirun untuk memberi jawaban atas tawaran orang musyrik tersebut.

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ*لا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ*وَلا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ*وَلا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ*وَلا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ*لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

 “Katakanlah, ‘Hai orang-orang yang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah. Dan kalian bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kalian sembah. Dan kalian tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” (QS. Al-Kafirun, 1-6)

Masih ada beberapa ayat lain yang senada dengan surah ini, yang mengumumkan sikap bara’ah (berlepas diri) dari kekufuran dan pelakunya. Di antaranya Allah Ta’ala berfirman:

وَإِنْ كَذَّبُوكَ فَقُلْ لِي عَمَلِي وَلَكُمْ عَمَلُكُمْ أَنْتُمْ بَرِيئُونَ مِمَّا أَعْمَلُ وَأَنَا بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ

“Jika mereka (tetap) mendustakanmu (Muhammad), maka katakanlah, ‘Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu tidak bertanggung jawab terhadap apa yang aku kerjakan dan aku pun tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan’.” (QS. Yunus: 41).

Dengan kemurnian dan kejelasan seperti ini, ayat-ayat tersebut turun untuk menggambarkan rambu-rambu jalan antara barisan Islam dan barisan orang-orang musyrik dan kafir yang tidak mau beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Dengan kejelasan Qur’an ini, kita mendapatkan sebagian orang yang dianggap berilmu masih memahami ayat-ayat tersebut—terutama surah Al-Kafirun—bahwa ayat-ayat tersebut merupakan bentuk pengakuan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam kepada orang-orang kafir atas agama mereka yang batil. Jelas ini adalah klaim yang sesat, menyelisihi hakikat Islam dan dakwah Rasulullah, bahkan bertentangan dengan dakwah seluruh para Rasul.

Ibnu Qayyim Al-jauziyah mengatakan, “Surat ini—Al-Kafirun—hanya mencakup sebuah penghapusan belaka. Inilah ciri khas surah ini. Ia adalah surah Al-Bara’ah, maksudnya surah yang mengumumkan keharusan melepaskan diri dari kesyirikan, sebagaimana yang dengan jelas tertuang dalam ayat-ayatnya.

Maksud utama dari ayat-ayat tersebut ialah bara’ah (pemisahan) antara ahli tauhid dan ahli syirik. Oleh karena itu, ia datang dalam bentuk penafian dalam dua sisi. Tujuannya untuk merealisasikan bara’ah yang dituntut. Selain itu, juga mengandung sebuah penetapan (itsbât), yaitu  menetapkan bahwa Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam sudah memiliki ma’bud (sesembahan) yang disembahnya dan kalian lepas dari sesembahannya itu.

Sikap ini senada dengan pernyataan Nabi Ibrahim ‘alaihisalam ketika beliau berkata, ‘Sesungguhnya aku telah berlepas diri dari apa yang kalian sembah, kecuali Dzat yang telah Menciptakanku.’ Jadi, ayat dan surah Al-Kafirun ini mengandung hakikat Lâ Ilâha Illallâh. Oleh karena itu, Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam selalu memasangkan surah Al-Ikhlash dengannya (Al-Kafirun) dalam shalat Sunnah Fajar dan Maghrib. (Misykâtul Mashâbîh, I/268, Badâi’ul Fawâid, I/138)

Lebih jelas lagi, Ibnu Taimiyyah menerangkan, “Firman Allah: ‘Bagimu agamamu dan bagiku agamaku.’ Huruf  lâm dalam bahasa Arab menunjukkan ikhtishash (pengkhususan). Artinya, kalian dikhususkan dengan agama kalian dan aku tidak bersekutu dengan kalian di dalamnya. Begitu pula sebaliknya, aku dikhususkan dengan agamaku dan kalian tidak bersekutu denganku di dalamnya. Hal ini sebagaimana firman-Nya, ‘Maka katakanlah, ‘Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan aku pun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan,’(Yunus: 41)

Ayat ini sama sekali tidak menunjukkan bahwa beliau ridha terhadap agama orang-orang musyrik, juga terhadap agama ahlul kitab, sebagaimana sangkaan orang-orang ateis. Ayat ini juga tidak menunjukkan bahwa beliau melarang untuk memerangi (jihad) mereka, sebagaimana dugaan orang-orang yang keliru, dan mereka menjadikan ayat itu mansukh (dihapus).

Ayat ini justru menunjukkan bahwa beliau bara’ dari agama mereka, dan mereka juga bara’ dari agama beliau. Perbuatan mereka itu tidak dapat menimpakan mudarat kepada beliau. Mereka juga tidak akan mendapatkan pahala dan manfaat dengan mengamalkannya. Hal ini merupakan perkara muhkam (jelas dan baku) yang tidak menerima nasakh. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam juga tidak pernah ridha terhadap agama orang-orang musyrik dan juga ahlul kitab walaupun sekejap mata. (Al-Jawâbus Shahih Liman Badala Dîn Al-Masîh, Ibnu Taimiyyah, II/30-32)

Demikianlah keimanan di dalam Islam. ia merupakan keyakinan yang tak boleh tercampurkan dengan kesyirikan, walaupun sedikit. Penjagaan iman adalah upaya bagaimana memurnikan keyakinan hanya kepada Allah ta’ala semata. Tidak boleh tercampurkan dengan kesyirikan atau perbuatan kufur sedikitpun.

Karena itu, bagi umat islam tidak ada kata-kata toleransi dalam hal keimanan. Toleransi bukan memaksa kita untuk ikut-ikutan dalam ritual keagamaan mereka. Tapi, begaimana kita menjaga sikap mulia saat bermuamalah dengan mereka. Karena dalam perkara iman, hanya ada satu kata, bagimu agamamu dan bagiku agamaku!



Penulis: Fakhruddin

Sumber: kitab Al-Wala’ wa Al-bara’ Karya Muhammad bin Sa’id Al-Qahthani,kiblat

Tidak ada komentar