Header Ads

Goliath Tabuni Sangkal Tantang Perang Indonesia, OPM Pecah

banner ads
Manjaniq.com-- Goliath Tabuni, panglima tinggi Organisasi Papua Merdeka (OPM), membantah menantang perang Indonesia. Dia menuduh Lekagak Telenggen dan kawan-kawan, membuat tujuh pernyataan mengatasnamakan dirinya. Goliath menyatakan itu skenario Komite Nasional Papua Barat (KNPB) dan United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) yang telah gagal mempropaganda dan menipu rakyat Papua. Sehingga pernyataan perang tersebut dibuat guna melekatkan citra buruk pada Goliath Tabuni.


"Itu Lekagak Telenggen, Militer Murib, Naman Enumbi, Enden Wanimbo yang buat. Tujuh poin itu jangan dengar," katanya demikian kata Goliath pada Papuanews lewat telepon selular. Goliath yang dihubungi berada di Tinggineri, Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya, Papua Papua Barat mengaku terkejut setelah mengetahui adanya upacara, 19 Desember 2016, di Kwiyawagi, Kabupaten Lanny Jaya, Papua Barat.

Dia mengatakan ini adalah ulah dari Lekagak Telenggen yang sejak lama berbeda pendapat dengan dirinya. “Saya tidak pernah keluarkan pernyataan perang, itu hanya tipu-tipu Lekagak saja supaya dapat uang dari pemerintah daerah,” tegasnya.

Baca juga: Begini Keseharian Panglima OPM Goliath Tabuni

Goliath mengatakan Lekagak memiliki paham yang berbeda dengan dirinya. Goliath tidak setuju dengan adanya pengibaran Bintang Kejora yang sering dilakukan kelompok Lekagak, dan KNPB saat berdemo di Jayapura, dan daerah lain.

Terjadinya perpecahan dalam tubuh OPM ini juga nampak pada poin lima dokumen Kwiyawagi. Dimana mereka mengultimatum kelompok lain untuk menghentikan perlombaan kabinet.

Kelima : Kepada pimpinan ULMWP dan pimpinan Negara Republik Federal Papua Barat (NRFPB), West Papua National Coalition for Liberation (WPNCL) dan Parlemen Nasional West Papua (PNWP) segerah hentikan perlombaan kabinet dan konstitusi negara masing-masing. TPN-OPM tidak mengakui semua kabinet dan konstitusi selain 1 Juli 1971, oleh karena itu, TPNPB memberikan warning kepada kelompok yang bermain kepentingan yang menghambat perjuangan Papua merdeka.

Sumber : GATRA

Tidak ada komentar