Header Ads

Adian Husaini: Para Pendiri Bangsa Mencita-citakan Indonesia Negara Tauhid

banner ads
Manjaniq.com--Indonesia bukanlah Negara sekuler, tapi Negara Tauhid. Mengutip pernyataan Rois Am NU KH Achmad Siddiq, kata ‘Yang Maha Esa’ merupakan penegasan dari Sila Ketuhanan yang artinya juga tauhid.

“Kata ‘Yang Maha Esa’ pada sila pertama (Ketuhanan Yang Maha Esa) merupakan imbangan tujuh kata yang dihapus dari sila pertama menurut rumusan semula. Pergantian ini dapat diterima dengan pengertian bahwa kata ‘Yang Maha Esa’ merupakan penegasan dari sila Ketuhanan, sehingga rumusan ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’ itu mencerminkan pengertian Tauhid (monoteisme murni) menurut akidah Islamiyah. Kalau para pemeluk agama lain dapat menerimanya, maka kita bersyukur dan berdoa,”terang peneliti senior Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) Dr Adian Husaini dalam acara Majelis Akhir Tahun yang dilaksanakan di Kantor INSISTS  hari Sabtu (31/12/2016) kemarin.

Dalam makalahnya yang dibagikan kepada ratusan peserta, Adian juga menyatakan bahwa Ketua Umum MUI Prof Hamka pernah menjelaskan tentang makna Ketuhanan Yang Maha Esa pada pertemuan dengan Wanhamkamnas 25 Agustus 1976. Menurut Hamka, Ketuhanan Yang Maha Esa di pasal 29 itu bukanlah Tuhan yang lain, melainkan Allah Subhanahu Wata’ala. Jadi tidak mungkin bertentangan dengan Preambul dengan materi undang-undang.

“Karena itu sudah sepatutnya, sesuai dengan makna Pancasila yang sebenarnya, sebagaimana dirumuskan oleh para founding fathers, dalam Negara Tauhid, yang mengakui Allah sebagai Tuhan, paham-paham syirik dan kemunkaran, tidak patut dikembangbiakkan di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam konsep Tauhid Islam, makaTauhid sepatutnya diletakkan di tempat tinggi. Tidak disejajarkan dengan kemusyrikan. Konsep Negara Tauhid ini tentunya dengan memandang bahwa Tauhid merupakan konsep ideal dan mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim,”jelas cendekiawan Islam yang produktif menulis buku ini.

Dalam Majelis Akhir Tahun 2016 INSISTS ini, Adian menyatakan dengan tegas bahwa tauhid dan syirik tidak boleh diberikan hak yang sama.

“Nggak ada hak murtad dalam Islam, sekali masuk Islam dibawa sampai mati,” terang dosen Pasca Sarjana UIKA Bogor ini.

Prinsip Islam ini berbeda dengan Deklarasi HAM PBB yang menyatakan bahwa termasuk hak asasi adalah hak untuk pindah agama.

Dalam majelis yang dihadiri mayoritas kaum muda terpelajar ini, Adian menekankan tentang pentingnya bangsa ini mempelajari sejarah masalalunya. Ia mengutip pernyataan tokoh Islam terkenal Muhammad Asad (Leopold Weiss) dalam bukunya, Islam at the Crossroads : “No civilization can prosper or even exist, after having lost this pride and the connection with its own past” (Peradaban itu akan sirna ketika orangnya sudah tidak bangga lagi dengan peradabannya dan hubungan dengan sejarah masa lalu).

Pengalamannya dengan teman-teman INSISTS saat menimba ilmu dengan Prof Naquib al Attas di ISTAC Malaysia adalah bagaimana Prof Al Attas menekankan pentingnya kebanggaan (pride) sebagai seorang Muslim.  Adian menyampaikan bahwa kini umat Islam Indonesia diputus kebanggaannya terhadap sejarah bangsa ini, karena pelajaran sejarah yang kacau yang diberikan di sekolah atau universitas.

Penulis buku Wajah Peradaban Barat ini juga mengingatkan adanya penyakit bangsa ini yang berbahaya saat ini. Ia menjelaskan bahwa Pak Natsir (tokoh Masyumi) dulu pernah berdialog dengan Amien Rais, Kuntowijoyo dan lain-lain.

“Pak Natsir mengingatkan penyakit bangsa kita yang paling parah adalah hubbud dunya (cinta dunia),”jelasnya. Pak Natsir juga mengingatkan bahwa kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh guru yang mau berkorban untuk bangsanya.

Adian mengutip pernyataan Mohammad Natsir,  dulu orang  gembira, sekalipun hartanya habis, rumahnya terbakar, dan anaknya tewas di medan pertempuran. Tapi kini mereka muram dan kecewa sekalipun telah hidup dalam satu negara yang merdeka.

Mengapa keadaan berubah demikian?  Di antaranya karena semua orang menghitung pengorbanannya, dan minta dihargai. Sengaja ditonjol-tonjolkan kemuka apa yang telah dikorbankannya dan menuntut supaya dihargai oleh masyarakat.

“Sekarang timbul penyakit bakhil. Bakhil keringat, bakhil waktu, dan merajalela sifat serakah. Orang bekerja tidak sepenuh hati lagi.Orang sudah keberatan memberikan keringatnya sekalipun untuk tugasnya sendiri. Segala kekurangan dan yang dipandang tidak sempurna, dibiarkan begitu saja.Tak ada semangat dan keinginan untuk memperbaikinya. Orang sudah mencari untuk dirinya sendiri, bukan mencari cita-cita yang di luar dirinya. Lampu cita-citanya sudah padam kehabisan minyak, programnya sudah tamat, tak tahu lagiapa yang akan dibuat,” ujarnya mengutip pemimpin partai politik Masyumi, Mohammad Natsir  yang juga i Perdana Menteri Indonesia kelima tahun 1950.

Karena itu  menjelaskan bahwa seorang Muslim harusnya 10 kali lipat kualitasnya dibanding orang kafir.*/kiriman Nuim (Jakarta).

sumber : hidayatulloh

Tidak ada komentar