Header Ads

Tinjauan Syar’i dan Medis pada Fenomena ‘Janin Hilang Diambil Jin’

banner ads
Manjaniq.com--Beberapa waktu belakangan, beredar sebuah tulisan tentang janin yang tiba-tiba menghilang dibawa oleh jin.  Dengan klaim dan versi yang sangat beragam. Banyak yang meyakini bahwa janin itu diambil oleh makhluk ghaib.

Lalu bagaimanakah tinjauan syar’i berkaitan dengan fenomena tersebut?

“… Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku. Oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri! Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu”. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih”. (QS. Ibrahim: 22)

Hasan al Bashri mengatakan, “Demi Allah setan itu tidak memiliki cambuk dan tidak memiliki pedang. Akan tetapi ia hanya menjadikan manusia itu condong (pada perbuatan maksiat) karena dijadikan kemaksiatan itu indah pada pandangan manusia”. (Tafsir al Bahrul Muhith, 7/263). Artinya setan atau jin hanya mampu mengajak manusia untuk berbuat maksiat. Tidak mampu memberikan madharat maupun mashlahat dalam bentuk apapun (termasuk menghilangkan janin dalam kandungan). Yang mampu memberikan mashlahat dan madharat hanya Allah ﷻ.

Sekalipun dalam proses hilangnya janin tersebut, ada jin yang mengaku telah mencuri janinnya (misalnya dalam dialog ketika dilakukan rukyah). Maka kita tidak boleh serta merta percaya karena kita tidak bisa memastikan jin itu berkata jujur atau dusta. Selain juga karena inti dari proses rukyah adalah mengeluarkan jin yang mengganggu. Sehingga tidak perlu mengajaknya berdialog atau meminta kesaksian (testimoni) dari jin tersebut.

… Nabi ﷺ bersabda, “Adapun dia di kala itu berkata benar, namun asalnya dia pendusta. Engkau tahu siapa yang bercakap denganmu sampai tiga malam itu, wahai Abu Hurairah?” “Tidak”, jawab Abu Hurairah. Nabi ﷺ bersabda, “Dia adalah setan.” (HR. Bukhari No. 2311)

Di sisi lain, yang ada di dalam rahim adalah suatu perkara yang ghaib. Tidak ada yang dapat mengetahuinya secara pasti selain Allah Subhanahu wata’ala.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya hanya di sisi Allah ilmu tentang hari Kiamat; dan Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi tempat dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal.” (QS. Luqman: 34)

Bahkan seorang nabi dan rasul pun tidak dapat mengetahuinya kecuali yang telah dikabarkan oleh Allah ﷻ.

“Katakanlah, ‘Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman’.” (QS. Al A’raf: 188)

Karena itu, berhubung kasus hilangnya janin adalah sesuatu yang ghaib, maka yang perlu kita lakukan sebagai seorang muslim adalah menyerahkan kejadian ini hanya pada Allah ﷻ. Dan menyikapinya sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ dan sikap yang telah beliau ajarkan kepada kaum muslimin dalam menghadapi suatu musibah. Bukan dengan hal-hal klenik yang umumnya dilakukan masyarakat. Belum lagi jika bukan kita sendiri yang mengalami kejadian ini. Sehingga kita tidak bisa mengetahui secara pasti proses hilangnya janin dalam kandungan tersebut. Dan memang dalam kasus ini, ada juga masalah dalam kehamilan yang seringkali dikaitkan dengan janin yang tiba-tiba menghilang karena diambil oleh jin. Diantaranya yaitu kasus blighted ovum dan pseudociecys.

Hilangnya Janin dari Tinjauan Medis

Sekilas tentang blighted ovum dan pseudociecys. Blighted ovum atau hamil kosong adalah kondisi ketika perkembangan hasil konsepsi hanya sebatas pada kantong kehamilan dan plasenta, jadi embrio sama sekali tidak terbentuk. Gambaran yang terlihat pada pemeriksaan ultrasonography (USG) hanya sekedar kantong kosong yang tidak ada isinya. Pada beberapa kasus, kantong yang terbentuk itu akan keluar dengan sendirinya (abortus atau keguguran spontan). Tetapi ada juga yang membutuhkan tindakan untuk mengeluarkannya.

Sedangkan pseudosiecys adalah kehamilan palsu. Biasanya terjadi pada orang yang ingin sekali hamil. Diduga karena pengaruh psikologis. Sehingga wanita yang ingin sekali mendapat kehamilan merasakan adanya tanda kehamilan, seperti mual, pembengkakan payudara, pembesaran perut, bahkan tak jarang seolah merasakan adanya gerakan janin.

Dari uraian di atas jelas bahwa janin yang dianggap tiba-tiba menghilang ada pemaparannya secara syar’i dan medis. Maka baiknya kita sebagai seorang muslim tidak perlu ikut terbawa dalam euforia kasus yang pernah menyebar di beberapa media tersebut. Selain juga karena bukan kita sendiri yang mengalaminya. Bersikap bijak, menyadari bahwa diri hanyalah hamba Allah yang sangat membutuhkan perlindungan-Nya. Sehingga dalam segala hal selalu meminta pertolongan dan penjagaan Allah ﷻ. Wallahua’lam.

Ummu Mumtaza

sumber : kiblatmuslimah

Tidak ada komentar