Header Ads

Tauhid Tiada, Barokah Rumah Tangga Sirna

banner ads
Manjaniq.com--Keluarga Samara (sakinah, mawaddah, wa rahmah) adalah keluarga dambaan dan impian banyak orang, walaupun mewujudkannya tidak semudah yang mereka harapkan. Di saat banyak keluarga di Indonesia yang dirundung masalah dan KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) terjadi dimana-mana, keluarga samara mulai dicari banyak orang, itu terbukti dengan banyaknya seminar dan pengajian tentang keluarga samara ini diselenggarakan, dari yang gratis hingga yang bayar sekalipun.

Dalam Islam, tujuan pernikahan sebagaimana disebutkan oleh Allah dalam QS. Ar-Ruum: 21 adalah mewujudkan ketenangan (sakinah), cinta (mawaddah), dan kasih sayang (rahmah). Inilah keluarga yang ideal dalam pandangan Islam. Keluarga samara ini terwujud bukan karena harta yang banyak semata, atau karena faktor-faktor materi lainnya, tapi terwujud dari sebuah pondasi yang kuat yaitu keluarga yang dibangun di atas pondasi aqidah dan tauhid yang benar.

Para ulama menjelaskan bahwa tauhid yang benar akan melahirkan buah ibadah yang baik. Berkeluarga (pernikahan) adalah sebuah amalan yang bernilai ibadah di mata Allah, sebagaimana sabda Rasulullah,

“Nikah adalah bagian dari sunnahku, barangsiapa yang membencinya maka ia bukan termasuk dari umatku.“

Bila pondasi bangunan keluarga itu lemah atau rusak maka akan menghasilkan bangunan yang rapuh juga. Namun, banyak kaum muslimin yang tidak memperhatikan aspek tauhid dan aqidah dalam pernikahan, sehingga tidak sedikit pernikahan yang mereka lakukan berkubang dalam lumpur kemusyrikan dan kemaksiatan.

Proses Pernikahan  Selamat dari Kemusyrikan

Sebagai muslimah sejati, kita harus memiliki komitmen yang kuat agar proses pernikahan kita kelak selamat dari perkara-perkara syirik dan kufur. Tidak seyogyanya ibadah nikah yang agung dan mulia tersebut tercampuri dengan perkara-perkara yang akan menjauhkannya dari ridha dan berkah-Nya.

Bila tidak kita antisipasi sejak dini, itu akan menjadi malapetaka bagi kita di saat pernikahan kelak. Apalagi jika kedua orang tua dan keluarga besar kita adalah orang-orang awam yang meletakkan adat-istiadat di atas segala-galanya. Menurut mereka, melanggar adat akan menyebabkan datangnya hukum karma, dari meninggal dunia, perceraian, tertimpa perbagai penyakit dan musibah serta lainnya.

Karenanya, seorang muslimah harus mengetahui bahwa pernikahan adalah sejarah hidup yang akan dikenang dan disaksikan oleh banyak orang. Untuk itu, kita benar-benar berusaha menjadikan proses pernikahan kita, dari pra hingga pasca pernikahan benar-benar sesuai dengan syariat Allah dan Rasul-Nya.Maka, perlu kami sebutkan pada materi ini beberapa perkara syirik yang kerap dilakukan oleh umat Islam menjelang pernikahannya:

Menentukan calon pasangan dengan meminta nasihat dukun dan peramal.
Menentukan hari dan tanggal pernikahan menurut permintaan dukun dan peramal.
Kedua calon mempelai harus menjalani perbagai ritual adat demi kelancaran dan keharmonisan rumah tangga, dari mandi kembang, pijak telur,  melangkahi pasangan sapi, dan lainnya.
Menggunakan pawang hujan agar hujan tidak turun selama pesta pernikahan berlangsung.
Memberikan sesajian diperempatan jalan, agar mempelai pria tidak diganggu oleh para penguasa dan penunggu jalan.

Semua itu, dan bentuk-bentuk ritual lainnya yang mengandung kemusyrikan akan menjadikan pernikahan dan rumah tangga kita jauh dari keberkahan Allah  kecuali mereka yang bertaubat kepada Allah. Namun bukan berarti kita boleh melakukan ritual kesyirikan, karena kita berkeyakinan bisa bertaubat kepada Allah. Bagaimana jika sebelum kita bertaubat, Allah telah mencabut nyawa kita?

Tauhid Tiada, Barokah Rumah Tangga Sirna

Disunnahkan bagi para tamu undangan untuk mendoakan kedua mempelai dengan doa,”Semoga Allah memberkahi pernikahanmu baik dalam suasana suka maupun duka, dan semoga Allah mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.”

Keberkahan itulah yang kita harapkan. Jadi keluarga samara adalah keluarga yang dibarokahi oleh Allah, dan itu tidak akan terwujud kecuali jika kita merealisasikan tauhid dalam kehidupan pribadi dan keluarga kita.

Jadilah para suami dan istri yang senantiasa bertaqwa kepada Allah. Hindari perkara-perkara syirik yang akan menenggelamkan bahtera rumah tangga kita pada kehancuran dan kesengsaraan. Coba kita lihat di sekeliling kita, berapa banyak rumah tangga yang dirundung masalah, dan mereka menjadikan paranormal sebagai penasihat pribadi mereka, dan akhirnya setan tidak menambahkan kepada mereka melainkan kesesatan. Maha benar Allah yang telah berfirman:

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

 “Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari jin, tetapi mereka (para jin) menjadikan mereka (para manusia) bertambah sesat.” (QS. Al-Jinn: 6)

Wallahu A’lam bis Shawab

Oleh: Ustadz Tengku Azhar, Lc.
(Mudir Ma’had Aly Putri Hidayaturrahman, Pilang, Masaran, Sragen)
sumber : keluargadakwah.com

Tidak ada komentar