Header Ads

Taliban Semakin Kuat

banner ads
Manjaniq.com--Sepanjang 2016, Taliban banyak mengejutkan AS. Front-front baru kembali meletus dan Taliban meraih banyak kemajuan. Upaya-upaya untuk mengajak Taliban ke meja perundingan juga gagal. Di sisi lain, Taliban berkomitmen di jalan jihad. Berikut rangkuman berita terkait kekuatan Taliban selama setahun ini:

Upaya Membawa Taliban ke Meja Perundingan Gagal Total

Di awal tahun 2016, pejabat Pakistan, Afghanistan, AS dan China, bertemu di ibukota Pakistan, Islamabad. Pertemuan ini membahas kelanjutan pembicaraan damai antara pemerintah Afghanistan dan pejuang Taliban yang sempat terhenti menyusul berita kematian pemimpin Taliban, Mullah Umar Mujahid.

Kesimpulan pertemuan itu, seluruh kelompok yang berafiliasi dengan Taliban diseru ikut dalam perundingan damai. Hal ini untuk menyelesaikan perbedaan pandangan politik yang terjadi.

Para pejabat itu juga menegaskan, upaya mendorong pembicaraan damai dengan Taliban mengalami kemajuan. Pemerintah Afghanistan sendiri mengumumkan Taliban sudah bersedia bernegosiasi kembali.

Beberapa hari kemudian, Taliban menyatakan bersedia duduk kembali di meja perundingan. Akan tetapi Taliban mengajukan syarat. Taliban meminta sejumlah anggotanya di tahanan dibebaskan, dihapus dari daftar hitam PBB, aset-aset keuangan dikembalikan dan status politik Taliban diakui dunia.

“Kami menyampaikan untuk menghapus kita dari daftar hitam PBB dan memungkinkan kita untuk bebas bepergian di seluruh dunia dan kemudian kita dapat berpikir tentang mengadakan pembicaraan perdamaian,” tegas Taliban menambahkan.

Tidak ada tanggapan dari pihak rezim dan para pejabat AS serta Cina. Sementara Taliban terus meluncurkan serangan mematikan yang menimbulkan kerugian besar pada kubu pemerintah dan AS. Hingga pada pertengahan Mei, drone AS dilaporkan menargetkan mobil yang ditumpangi pemimpin Taliban, Mullah Akhtar Manshur. Pengganti Mullah Umar Mujahid dan sejumlah pengawalnya gugur. Taliban mengonfirmasi berita itu beberapa hari kemudian.

Bersamaan dengan konfirmasi tersebut, Taliban mengumumkan wakil Mullah Akhtar Manshur, Mullah Haibatullah Akhunzadah menjadi pemimpin baru Taliban. Dia dikenal sangat tegas terhadap pemerintah Afghanistan terlebih AS. Sejak saat itu, upaya pemerintah membawa Taliban meja perundingan tak terdengar lagi.

Gugurnya Pemimpin Tak Koyak Barisan

Kabar duka mendera Taliban di pertengahan tahun 2016. Pemimpin mereka, Mullah Akhtar Manshur, terbunuh dalam serangan drone di provinsi Balochistan, Pakistan, yang berbatasan dengan Afghanistan. Menurut kabar yang beredar, Mullah Manshur saat itu dalam perjalanan pulang dari berobat di Iran.

Tak sampai sepekan, Imarah Islam Afghanistan (Taliban) mengumumkan pemimpin baru menggantikan posisi Mullah Manshur. Adalah Mullah Haibatullah Akhunzadah, yang juga wakil Mullah Manshur, ditunjuk memimpin gerakan yang pernah memerintah Afghanistan itu. Sementara posisi wakil pemimpin diamanahkan kepada Sirajjuddin Haqqoni dan Mullah Ya’qub (anak Mullah Umar, pemimpin Taliban pertama).

Pergantian pemimpin itu pun dimanfaatkan oleh intelijen pemerintah dan Barat serta kelompok-kelompok yang berseberangan dengan Taliban. Mereka menghembuskan kabar terjadi perpecahan di internal Taliban. Isu itu didukung oleh media-media lokal maupun internaisonal sehingga mempengaruhi sejumlah komandan Taliban di daerah-daerah.

Isu tersebut semakin kuat saat memasuki bulan Ramadhan. Operasi-operasi Taliban selama bulan suci itu menurun drastis. Hal ini dijadikan alasan serta bukti nyata oleh orang-orang yang ingin melemahkan Taliban bahwa gerakan tersebut benar-benar melemah karena perpecahan.

Taliban membantah keras terjadi perpecahan internal.  Taliban secara tegas menyatakan bahwa insiden itu tidak akan mengugurkan semangat juang Imarah Islamiyah Afghanistan.

“Sejarah telah menyaksikan bahwa gerakan Haqqani di Imarah Islam selalu diselingi dengan gugurnya para komandan dan pergantian pemimpin atau insiden semisalnya. Tetapi semua itu tidak akan menguncangkan kaki para pemilik keimanan,” tegas Taliban.

Terkait menurunnya operasi selama Ramadhan, Taliban menjelaskan hal itu sengaja dilakukan karena pejuangnya fokus melakukan ibadah. Dan, benar saja. Operasi Taliban kembali meningkat setelah Ramadhan berakhir.

Gebrakan di Lima Provinsi Afghanistan

Tahun 2016, pejuang Taliban bisa dikatakan meraih banyak kemajuan. Hengkangnya pasukan koalisi membuat gerakan tersebut mampu memukul pasukan lokal di sejumlah provinsi. Paling mengejutkan, pejuang Taliban kembali kembali menduduki Provinsi Kunduz.

Kemenangan ini dipastikan setelah Taliban berhasil memasuki gedung-gedung pemerintah di wilayah tersebut. Pasukan lokal telah meninggalkan kota setelah terlibat pertempuran panjang.

Setahun sebelumnya, pejuang mengontrol kota tersebut. Akan tetapi tidak berlangsung lama. Dengan alasan ingin melindungi sipil, para pejuang Taliban menarik diri sehingga kota itu kembali diduduki pasukan pemerintah.

Kemajuan kedua Taliban terjadi di Provinsi Helmand. Ibukota provinsi sudah merebut distrik-distrik di sekitar wilayah yang terdapat pangkalan militer AS itu. Situasi ini memaksa AS kembali memperluas wewenang pasukan mereka di Afghanistan.

Provinsi Baghlan juga tak luput dari sasaran operasi Taliban. Ibukota Provinsi Baghlan, Pul-i-Khumri, telah berada di bawah tekanan Taliban sejak Mei 2016. Selain kota itu, 3 distrik dari 13 lainnya masih dalam perebutan. Taliban secara rutin menutup jalan raya yang menghubungkan kota Kunduz dengan Pul-i-Khumri.

Di Uruzgan, sejak awal September, ibukota Tarin Kot menjadi target serangan Taliban. Dari enam distrik di Uruzgan, satu daerah berada dalam kendali Taliban. Sedangkan lima lainnya masih diperebutkan.

Provinsi terakhir paling yang menjadi sasaran Taliban adala Farah. Para pejuang Taliban memotong jalan ke kota Farah pada awal Oktober dan melakukan serangan dari utara. Komandan militer Afghanistan bahkan sampai mengatakan bahwa kota ini akan segera jatuh. Seorang juru bicara Taliban mengatakan pada 13 Oktober bahwa operasi dilakukan di daerah musuh di Baghi Pul dan pejuang dilaporkan mendekati kota E & N. Empat distrik di 11 distrik di provinsi Farah tengah dikendalikan atau diperebutkan oleh Taliban.

Serangan di Tempat-tempat Vital

Banyak pihak menyebut, operasi militer Taliban di bawah kepemimpinan Mullah Haibatullah Akhunzadah meningkat. Tak hanya merebut wilayah, operasi yang diluncurkan Taliban juga mendobrak kompleks-kompleks vital di ibukota Kabul.

Senin 1 Agustus 2016, sebuah truk sarat bom meledak di depan kompleks pelayanan militer dan logistik yang kerap digunakan pasukan asing di Kabul. Ledakan itu disusul baku tembak sengit antara pasukan keamaanan dan penyerang. Dilaporkan empat orang bersenjata terlibat baku tembak itu. Taliban menegaskan tidak ada korban sipil dalam operasi ini. Para korban adalah tentara dan pekerja di kompleks asing itu.

Senin 5 September 2016, sebuah bom yang diledakkan dari jarak jauh meledak di gerbang Kementerian Pertahanan di ibukota Kabul. Ledakan ini disusul dengan serangan bom martir dari seorang Taliban berpakaian tentara nasional Afghanistan yang meledakkan diri. Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid mengatakan sebanyak 58 personel keamanan Afghanistan, termasuk Jenderal Raziq Panjsheri, Komandan PD2 [Polres Kabul 2] dan wakilnya serta dua pengawal Presiden Ashraf Ghani, tewas dalam serangan itu.

Di penghujung tahun ini, Taliban meluncurkan dua serangan besar yang menargetkan Konsulat Jerman dan Pangkalan Udara Terbesar AS di Afghanistan. Dua serangan di tempat berbeda ini diluncurkan hampir berbarengan.

Redaktur: Hunef Ibrahim
sumber : kiblat.net

Tidak ada komentar