Header Ads

Wahai Para Istri, Suamimu Adalah Surga Sekaligus Nerakamu

banner ads
Oleh: Siswati Ummu Ahmad
 
Wahai Para Istri, Suamimu Adalah Surga Sekaligus Nerakamu

Hushain bin muhshan telah berkata, “bibiku telah menceritakan kepadaku seraya berkata, ‘Saya mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk suatu keperluan. Beliau bertanya, ‘siapakah ini, apakah sudah bersuami? “sudah”, jawabku. Bagaimana hubunganmu dengannya?” Tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. “saya selalu mentaatinya sebatas kemampuanku.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “perhatikanlah selalu bagaimana hubunganmu dengannya, sebab suamimu adalah surgamu dan nerakamu”. (H.R An Nasa’iy dan Ahmad)
                Dalam bingkai kehidupan rumah tangga, pasangan suami dan istri, masing-masing memiliki hak dan kewajiban. Suami sebagai pemimpin, berkewajiban menjaga istri dan anak-anaknya, baik dalam urusan kebahagiaan hidup di dunia maupun akhirat. Karena itu Allah Ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Q.S At-Tahrim: 6)
Tanggung jawab yang tidak ringan tersebut, kemudian diimbangi dengan adanya kewajiban taat seorang istri pada suaminya. Betapa besar dan agungnya hak-hak suami yang wajib dipenuhi oleh seorang istri. Karena itulah maka seorang istri yang tidak memenuhi hak suaminya, berarti ia telah berdosa karena telah berbuat durhaka pada suaminya. Durhaka pada, dalam kaidah syar’I biasa disebut dengan nusyuz.

Nusyuz adalah, ketidakpatuhan salah satu pasangan terhadap apa yang seharusnya dipatuhi, dan atau rasa benci terhadap pasangannya. Atau dengan kata lain, nusyuz berarti tidak taatnya suami atau istri kepada aturan-aturan, yang telah diikat oleh perjanjian yang telah terjalin dengan sebab ikatan perkawinan, tanpa alasan yang dibenarkan oleh syara’.

Nusyuz dapat terjadi dalam bentuk perkataan, dan tindakan. Sebagai contoh, seorang istri tidak berbicara sopan pada suaminya, seperti memaki-maki suami, membentak, atau menjawab dengan ketus pembicaraan suami, padahal suami berbicara dengan santun, semua itu merupakan kedurhakaan dalam bentuk perkataan.

Adapun nusyuz dalam bentuk perbuatan dari pihak istri misalnya; tidak mau pindah ke rumah yang telah disediakan oleh suami, karena merasa lebih nyaman berada di rumah orangtua atau rumah sendiri. Tidak melaksanakan perintah suami, padahal suami tidak rudho dengan sikapnya. Keluar rumah tanpa seizin suami,  padahal belum ada kesepakatan bersama sebelumnya. Tidak mau melayani suami tanpa udzur syar’I, padahal suami menginginkannya, dan lain sebagainya yang insya Allah nanti akan kita bahas secara terperinci.

Tanpa disadari istri yang durhaka pada suami, telah terseret ke lembah kemurkaan dan kebencian yang sangat dalam. Allah murka, suami tidak ridha, bahkan istri suaminya dari kalangan bidadari juga marah, dan mendoakan keburukan bagi istri yang durhaka pada suami, sebagaimana penjelasan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini.

Dari Mu’adz bin jabal diriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya di dunia, melainkan istrinya dari kalangan bidadari akan berkata; “Janganlah engkau menyakitinya, semoga Allah membinasakanmu. Dia (sang suami) hanyala tamu di sisimu, hampir saja dia menginggalkanmu menuju kepada kami.” (H.R At Tirmidziy, dan Ibnu Majah)
Mengapa seorang istri harus durhaka kepada suaminya? Setidaknya ada tujuh faktor pemicu perilaku durhaka istri pada suami, diantaranya adalah;

Status sosial yang kurang berimbang. Artinya kedudukan sosial istri lebih tinggi dari kedudukan suami. Sebagai contoh seorang istri berasal dari keturunan keratin yang berdarah biru (katanya), anak pejabat tinggi, atau konglomerat, sementara suami bersal dari rakyat jelata.
Status ekonomi yang kurang berimbang. Artinya istri lebih kaya dari pada suami, atau istri berasal dari keluarga yang kaya dan terbiasa berpola hidup mewah, sementara suami berasal dari keluarga miskin dan berpenghasilan rendah.
Pendidikan istri lebih tinggi dari suaminya. Atau istri lebih pintar dari suaminya. Seorang istri bertitelkan professor, sementara suaminya hanya lulusan SLTA. Atau sama-sama sarjananya, seorang istri sarjana teknik yang dipandang lebih mentereng dibandingkan suami yang sarjana magma, yang tidak memiliki masa depan bagi pandangan kebnyakan orang.
Perbedaan karakter yang mencolok, seperti watak istri lebih keras dari suaminya yang cenderung lembek. Kondisi ini dapat memicu sikap istri yang mendominasi dan kurang menghargai suaminya.
Pengaruh lingkungan budaya. Contohnya sang istri berasal dari lingkungan budaya, yang menempatkan wanita lebih berkuasa daripada suaminya. Atau budaya yang menempatkan istri diperjual belikan dengan tawar menawar harga, layaknya barang dalam menetukan mahar.
Minimnya pengetahuan agama bagi masing-masing pasangan, sebagai pemicu timbulnya konflik rumah tangga.
Kurang adanya kesiapaan dari kedua belah pihak dalam menghadapi gelombang kehidupan rumah tangga, disebabkan usia yang masih dini, atau kurangnya kematangan diri, meski usia telah lanjut.


                Dengan mengenal penyebab timbulnya kedurhakaan istri pada suami, semoga kita bisa terhindar dari sifat tercela tersebut, dan selalu berusaha mendapatkan ridho suami. Keridhoan suami, menjadi keridhoan Allah Ta’ala. Karena itu istri yang tidak diridhoi suami, karena tidak mentaatinya berarti telah berbuat durhaka pada suaminya. Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita, beliau melihat bahwa kebanyakan penghuni neraka adalah wanita. Maka seorang wanita pun bertanya kepada beliau, kenapa demikian ya Rasulullah? Rasul pun menjawab, bahwa diantara penyebabnya adalah, karena kebanyakan istri itu berbuat durhaka pada suminya. Wa’iyadzubillah


—Diketik ulang dari Majalah Arsada Edisi 91

Tidak ada komentar