Header Ads

Stop!! Jadi Muslimah Cengeng

banner ads
Manjaniq.com--Beratnya beban kehidupan dan ragam amanah yang ditanggung oleh seorang akhawat bisa saja berbeda satu sama lain. Ujian iman dan keistiqamahan yang mampir dalam penggalan episode kehidupan masing-masing pun bisa bermacam-macam.


Ketika dihadapkan pada suatu kondisi atau situasi tertentu, seorang akhwat bisa memiliki tingkat ketegaran dan ‘daya tahan’ yang bisa saja berbeda satu sama lain. Akhwat A, misalnya, dalam kondisi tidak memiliki motor, ia siap ‘ngonthel’ menempuh puluhan kilometer untuk bisa mengikuti sebuah kajian Islam dalam memenuhi kewajiban thalabul ilmy-nya.

Pun akhwat B, yang sibuk dengan aktivitas dakwah, membina sekian banyak halaqah, ditambah tugas kuliah yang menumpuk. Belum lagi amanah sebagai seorang anak yang harus ber-birrul walidain. Tanpa stamina iman dan mental ‘berjuang’, rasanya sulit untuk bertahan dan menjalaninya dengan nyaman.

Atau, ummahat C yang dalam keadaan hamil tua, harus menjadi ‘single mom’ untuk kelima anaknya, karena suami harus menunaikan tugas iqamatuddin dalam jangka waktu yang tak bisa ditentukan. Membayangkan saja sepertinya repot dan berat.

Are you strong enough?

Menjadi seorang muslimah yang memilih dakwah dan perjuangan sebagai bagian dalam agenda besar kehidupanyna, tentu tak bisa menuruti kemanjaan dirinya. Apalagi bercengeng-cengeng ria dan larut dalam perasaan emosionalnya. Berbagai masalah yang mampir semestinya ia hadapi dengan tangguh dan optimis. Yakin akan pertolongan Allah dan bermental baja. Tidak mudah berputus asa serta tidak menyalahkan keadaan.

Fulanah misalnya, setiap menghadapi kerepotan-kerepotan berkaitan dengan tugas domestiknya dalam rumah tangga, sering kali ia menyalahkan suami yang tidak cukup punya banyak waktu untuk membantunya. Hal ini dikarenakan sang suami harus menghajatkan sebagian besar waktunya untuk kepentingan dakwah dan iqamatuddin. Tak jarang ketika menghadapi kerewelan dan tangisan sang anak yang masih balita, ia juga turut menangis putus asa. Pun ketika cucian menumpuk, rumah berantakan atau suami yang pergi pagi, pulang petang, bahkan kadang tak kunjung pulang. Ia sering kali menangis dan kecewa pada keadaan.

Padahal, sebagai seorang pendamping sosok rijal yang berjuang menegakkan din, seharusnya seorang istri bisa bersikap layaknya pejuang yang tak kenal lelah dan putus asa. Yakin bahwa dakwah dan iqamatuddin merupakan bagian dari idealisme pernikahan dan rumah tangga yang ia bina. Ia sadar, ia berbeda dengan ‘istri-istri’ lain pada umumnya.

Ia juga percaya, bahwa tetesan keringat dan kepenatan yang ia rasakan dalam mendampingi sang suami, bernilai besar di sisi Allah. Innallaaha laa tukhliful mii’aad, Allah tidak mungkin ingkar janji. Baginya akan ada pahala dan balasan yang menanti. Sabar dan tegar. Itulah pilihan sikapnya dalam menjalani hidup sebagai istri pejuang.



Belajar dari Ibunda Hajar           

Kisah ibunda Hajar seharusnya menginspirasi para akhawat untuk bersikap tangguh menghadapi ujian yang datang. Sosok istri Nabi, sekaligus ibu dari seorang Nabi, yang telah menunjukkan kekuatan iman juga ketegaran yang luar biasa.

Nabi Ibrahim alaihissalam meninggalkan ibunda Hajar di sebuah padang pasir yang tandus. Tak ada air. Tak ada seorang pun yang menemaninya, selain Ismail kecil yang saat itu masih menyusu pada ibunya.

Nabi Ibrahim hanya membekali keduanya dengan satu kantong kurma dan satu bejana berisi air. Kemudian Nabi Ibrahim pergi meninggalkan mereka. Hajar lalu mengejarnya dan bertanya, “Wahai Ibrahim, kemana engkau akan pergi? Apakah engkau akan meninggalkan kami di lembah yang tidak ada siapapun dan tidak ada apapun?” Hajar terus mengulang-ulang ucapannya dan mengejar Nabi Ibrahim. Karena tak kunjung ada jawaban, Hajar pun bertanya,  “Apakah Allah yang memerintahkan ini kepadamu?” “Ya,” jawab Nabi Ibrahim. Kemudian, Hajar berkata lagi, “Kalau begitu, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami,” ucapnya dengan yakin.

Sementara itu, ibunda Hajar tetap menyusui anaknya dan minum dari air yang telah diberikan Nabi Ibrahim. Sehingga, ketika air yang ada dalam bejana itu telah habis, ia merasa haus dan begitu pula anaknya. Hajar merasa iba melihat Ismail yang kehausan. Ia kemudian pergi dan berusaha untuk mencari air. Ia pun naik ke bukit Shafa, sebuah bukit yang terdekat. Lalu ia melihat sekeliling lembah dari atas bukit itu, sekiranya ia menemukan air. Tetapi ia tidak melihat air.

Kemudian ia turun dari bukit Shafa dan berlari-lari menuju bukit Marwa. Ia berdiri di atas bukit dan mengarahkan pandangannya ke sekelilingnya jikalau ia melihat air, tetapi ia tidak juga menemukannya. Hajar pun melakukan hal itu hingga 7 kali. Sungguh sebuah sikap yang tak kenal lelah dan mudah menyerah! Hingga akhirnya, dengan kekuasaan Allah, terpancarlah mata air zam-zam dengan derasnya. Keyakinan ibunda Hajar menjadi nyata, Allah tidak akan menyia-nyiakan dirinya dan anaknya.


Kekuatan iman dan mental akan berpadu, melahirkan sikap sabar dan tangguh dalam menghadapi ujian hidup. Tak hanya ikhwan, akhwat pun juga harus bermental juang tinggi. Bukan mental yang cengeng, banyak mengeluh, berkeluh kesah, selalu menyalahkan keadaan/orang lain dan mudah menyerah. Ayyuhal akhawat, keep fighting!(Ummu Aman)

Tidak ada komentar