Header Ads

Kegentingan Terjadi Antara Panglima Tni dan Kapolri Terkait Aksi 2 desember

banner ads
Manjaniq.com--kita ketahui bahwa Panglima Tni dan Polri memiliki persepsi pandangan yang berbeda selama ini mengenai ummat islam ,Padahal beliau berdua dalam satu lingkup yang ada dalam pemerintahan bahkan dalam kondisi sebagai perlindungan negara dan bahkan dituntut untuk menjaga kesatuan republik indonesia
 
Dan sudah banyak kita ketahui melalui media online bahwa diketahui banyak netizen dari kalangan ummat islam slalu mendukung persepsi Panglima Tni gatot Nurmantyo yang mana condong lebih memihak pada ummat Islam karena beliau tau betul ummat islam melakukan Hak konstitutional yang dilindungi Undang-Undang bahkan pernah menyebut ummat islam adalah benteng terakhir Negara Indonesia.

Berbeda dengan Citra Kapolri Tito Karnavian yang dimata Netizen kurang transparan dan lebih condong kepada pembelaan terhadap tersangka ,dan di komentar-komentar sosmed terlihat sangat pedas kritikan kriktikan yang dilontarkan terhadap beliau oleh para netizen dan baru baru inipun beredear kabar dari salah satu media bahwa nanti pada 2 desember.

Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian dengan tegas menyatakan akan melarang aksi pada 2 Desember nanti, apabila pengunjuk rasa tetap nekat melakukan salat jumat di Jl Thamrin, Jakarta Pusat.

"Menyikapi 2 Desember, sejumlah elemen telah mengirim rilis aksi bela islam III dalam bentuk gelar sajadah salat jumat di Thamrin, Sudirman, dan Bundaran HI," kata Tito Karnavian, Senin (21/11/2016) di Mabes Polri.

Diterangkan Tito Karnavian, aksi unjuk rasa diperbolehkan Undang-undang namun sesuai dengan undang-undang No 9 tahun 1998, penyampaian hak itu konstitusi dan tidak bersifat absolut.

"Ada yang tidak boleh, termasuk menganggu hak orang lain, menganggu keterbiban umum, dan menutup jalan protokol. Kalau itu di blok dan otomatis mengganggu. Yang sakit bisa terganggu, yang mau kerja, makanya saya melarang," ujar mantan Kapolda Metro Jaya itu.

Tito Karnavian menambahkan pihaknya tidak segan membubarkan aksi apabila para pengunjuk rasa tetap nekat melakukan unjuk rasa di jalan raya. Bahkan ancaman hukuman berat yakni pidana hingga lima tahun pun siap diterapkan.

"Kami akan melarang kegiatan itu. Kalau dilaksanakan akan kita bubarkan. Kalau melawan, akan kita tindak. Termasuk kalau melawan petugas, ada pasal yang mengancam," katanya.
sumber:[tribun]

sedangkap Berbeda lagi dengan Pendapat dan Kebijakan Panglima Tni yang ada dalam salah satu media bahwa:

Demo 212 Bakal Dikawal Prajurit Khusus dari TNI Tanpa Senjata Alias Tangan Kosong

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengaku, telah memerintahkan jajarannya untuk mempersiapkan prajurit khusus untuk mengawal demo 2 Desember 2016.
"Saya sudah memerintahkan kepada anggota menyiapkan prajurit-prajurit untuk dilatih disiapkan yang sehat, dan untuk dibekali oleh seluruh masyarakat negara Republik Indonesia bahwa prajurit TNI sejak dia masuk dididik disumpah oleh prajurit saya sudah memenuhi syarat-syarat dari segi agama apa pun yang dianut untuk melakukan jihad," kata Gatot di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (21/11/2016)
Gatot menegaskan, prajurit yang disiapkan mengamankan aksi demonstrasi tersebut tidak akan menggunakan senjata. Dia juga mengimbau agar masyarakat tetap tenang dengan adanya aksi tersebut.
"Untuk itu saya perintahkan prajurit-prajurit saya untuk tidak bersenjata, apabila ada kelompok-kelompok bersenjata kita lawan dengan tangan kosong sama-sama berjihad," tutup dia.(teropongsenayan)

Sumber : Hariankosmos

Tidak ada komentar