Header Ads

Inilah Bukti Buzzer Ahok Menggunakan Robot Di Sosmed

banner ads


Aksi damai 4 Nopember lalu yang diikuti jutaan peserta, ternyata disambung pula dengan “perang” opini di media sosial. Pro-kontra aksi yang menuntut penghukuman atas Ahok karena dinilai telah menistakan ayat Al-Quran, cukup ramai.

Ismail Fahmi, seorang pengamat sosial media yang juga Co-Founder Awasometrics membeberkan peta “pertempuran” itu.

Menurutnya, “Selepas aksi 4 November, polaritas pro-kontra kembali menguat. Dan tampak cluster (kubu) yang kontra semakin sistematis dengan dukungan berita-berita dari media besar.” Sementara, yang kubu yang pro terlihat stagnan.

Analisis tersebut, ujar Fahmi, dibuat berdasarkan kata kunci “bela Islam,” dan “demo 4 november,” pada Selasa, (8/11).

peta-sna
Gambar hijau adalah sentimen positif terhadap aksi damai 411. Gambar merah sentimen negatif.
Dari tampilan analisis Ismail di atas, terlihat beberapa akun personal maupun media nasional terbelah pada dua kubu. Akun @detikcom @GunRomli dan @temanAhok tampak mengelompok ke dalam kubu kontra aksi damai 411. Sebaliknya, kelompok pro diisi oleh @republikaonline @DPP_FPI dan @wartapolitik.

Hanya saja, akun media nasional seperti @detikcom berada dalam posisi terpisah. “Sepertinya berusaha untuk netral,” ujar Indra Kurniawan yang juga pengamat sosial media.

Kendati demikian, beberapa netizen menemukan fakta menarik di balik “kemenangan” kubu yang kontra.

“Ada bukti cukup kuat kelompok kontra menggunakan bot, bukan interaksi alamiah,” tutur Indra. Indra kemudian memberikan sampel penggunaan bot oleh kubu kontra yang sudah ramai beredar di kalangan netizen. Di mana, terdapat sekian banyak akun dengan redaksi posting yang sama persis, dalam waktu yang bersamaan pula.

Indra menawarkan tips untuk mengimbangi kelompok kontra. “Pilih tagar yang disepakati bersama. Lalu tulis broadcast di grup-grup kajian yang banyak massanya.

Bagi tokoh yang mempunyai massa, bisa menghasung jamaahnya untuk men-share konten-konten media Islam.”

Lebih lanjut menurut Indra, “Kalau itu bisa dilakukan, kelompok yang pro memiliki interaksi yang alamiah. Ini lebih menarik bila dibandingkan akun-akun kelompok kontra yang kebanyakan berupa bot.”


Tapi ingat, “Budayakan bersosial media yang sehat. Perang sosmed boleh saja, asal jangan sampai memfitnah dan menyebar berita bohong,” tutupnya.[kiblat]

Tidak ada komentar